Artikel : Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits
Bahaya Syirik Dan Keutamaan Tauhid
Selasa, 16 Maret 04

Ibadallah ! Saya wasiatkan kepada Anda sekalian dan juga kepada saya untuk selalu bertaqwa kepada Allah di mana saja kita berada. Dan janganlah kita mati melainkan dalam Islam.
Telah banyak penjelasan yang menerangkan makna taqwa. Di antaranya adalah pernyataan Thalq bin Habib:

ÅöÐóÇ æóÞóÚóÊö ÇáúÝöÊúäóÉõ ÝóÃóØúÝöÆõæåóÇ ÈöÇáúÊøóÞúæóì. ÞóÇáõæúÇ: æóãÇ ÇáúÊøóÞúæóì¿ ÞóÇáó: Ãóäú ÊóÚúãóáó ÈöØóÇÚóÉö Çááå Úóáóì äõæúÑò ãöäó Çááåö ÊóÑúÌõæ ËóæóÇÈó Çááåö æóÃäú ÊóÊúÑõßó ãóÚúÕöíóÉó Çááåö Úóáóì äõæúÑò ãöäó Çááåö ÊóÎóÇÝõ ÚöÞóÇÈó Çááåö.

“Apabila terjadi fitnah, maka padamkanlah dengan taqwa”. Mereka bertanya: “Apakah taqwa itu?” Beliau menjawab: “Hendak-nya engkau melaksanakan keta’atan kepada Allah, di atas cahaya Allah, (dengan) mengharap keridhaan-Nya; dan hendaknya engkau meninggalkan kemaksiatan terhadap Allah, di atas cahaya Allah, (karena) takut kepada siksaNya.

Ketaatan terbesar yang wajib kita laksanakan adalah tauhid; sebagaimana kemaksiatan terbesar yang mesti kita hindari adalah syirik.
Tauhid adalah tujuan diciptakannya makhluk, tujuan diutusnya seluruh para rasul, tujuan diturunkannya kitab-kitab samawi, sekaligus juga merupakan pijakan pertama yang harus dilewati oleh orang yang berjalan menuju Rabbnya.

Dengarkanlah firman Allah:
“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah (hanya) kepadaKu.” (Adz-Dzaariyaat: 56)

Juga firmanNya:
“Dan tidaklah kami mengutus seorang rasulpun sebelummu melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada yang berhak diibadahi melainkan Aku, maka beribadahlah kepadaKu.” (Al-Anbiya’: 25)

Demikian pula firmanNya:
“Alif laam Raa, (inilah) satu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi, serta dijelaskan (makna-maknanya) yang diturunkan dari sisi (Allah) yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu. Agar kalian jangan beribadah kecuali kepada Allah. Sesungguhnya aku (Muhammad) adalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira kepada kalian daripadaNya.” (Hud: 1-2)

Allah juga berfirman:

ÝóÇÚúáóãú Ãóäøóåõ á Åöáóåó ÅöáÇøó Çááåõ æóÇÓúÊóÛúÝöÑú áöÐóäúÈößó æóáöáúãõÄãöäöíúäó æóÇáúãõÄúãöäóÇÊö

“Ketahuilah, bahwasanya tidak ada ilah yang berhak untuk diibadahi melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagimu dan bagi kaum Mukminin (laki-laki dan wanita).”

Jama’ah sekalian rahimakumullah. Kalau kedudukan tauhid sedemikian tinggi dan penting di dalam agama ini, maka tidaklah aneh kalau keutamaannya juga demikian besar. Bergembiralah dengan nash-nash seperti di bawah ini:

Úóäú ÚõÈóÇÏóÉú Èöäú ÇáÕøóÇãöÊú ÑóÖöìó Çááåõ Úóäúåõ ÞóÇáó: ÓóãöÚúÊõ ÑóÓõæúáó Çááåö Õóáøóì Çááå Úóáóíúåö æóÓóáøóãó íóÞõæúáõ: ãóäú ÔóåöÏó Ãóäú áÇó Åöáóåó ÅöáÇøó Çááå æóÃóäøó ãõÍóãøóÏðÇ ÑóÓõæúáõ Çááåö ÍóÑøóãó Çááåõ Úóáóíúåö ÇáäøóÇÑó.

Dari Ubadah bin Shamit Radhiallaahu anhu , ia berkata: “Aku mendengar Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah melainkan Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah (niscaya) Allah mengharamkan Neraka atasnya (untuk menjilatnya).” (HR. Muslim No. 29)

Hadits lain, dari Utsman bin Affan Radhiallaahu anhu , bahwasanya Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam bersabda:

Úóäú ÚõËúãóÇäó ÞóÇáó: ÞóÇáó ÑóÓõæáõ Çááåö Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó: ãóäú ãóÇÊó æóåõæó íóÚúáóãõ Ãóäøóåõ á Åöáóåó ÅöáÇøó Çááå ÏóÎóáó ÇáúÌóäøóÉó.

“Barangsiapa yang meninggal dunia, sedangkan dia menge-tahui bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah melainkan Dia (Allah) niscaya akan masuk Jannah.” (HR. Muslim No. 25)

Demikian juga sabdanya Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam , kami petik sebagiannya:

æóÚóäú ÃóÈöí ÐóÑøð ÑóÖöìó Çááåõ Úóäúåõ ÞóÇáó: ÞóÇáó ÇáäóÈöíøõ Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó íóÞõæáõ Çááå ÚóÒøó æóÌóáó: æóãóäú áóÞöíóäöíú ÈöÞõÑöÇÈö ÇáÃóÑúÖö ÎóØóÇíðÇ áÇó íõÔúÑößõ Èöíú ÔóíúÆðÇ áóÞóíúÊõåõ ÈöãöËúáöåóÇ ãóÛúÝöÑóÉð.

“Dan barangsiapa yang menemuiKu dengan (membawa) dosa sepenuh bumi sekalipun, namun dia tidak menye-kutukan Aku dengan sesuatu apapun, pasti Aku akan menemuinya dengan membawa ampunan yang semisal itu.” (HR. Muslim No. 2687)

Demikian pula tidak akan aneh, bila lawan tauhid, yaitu syirik; juga memiliki banyak bahaya yang mengerikan, dimana sudah seharusnya kita benar-benar merasa takut terhadapnya. Diantara bahaya syirik itu adalah sebagaimana yang diriwayatkan dalam hadits Jabir:

Úóäú ÌóÇÈöÑò ÑóÖöìó Çááåõ Úóäúåõ ÞóÇáó: ÌóÇÁ ÃóÚúÑóÇÈöíøñ Åöáóì ÇáäøóÈöí Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó ÝóÞóÇáó: íóÇ ÑóÓõæúáó Çááåö ãóÇ ÇáúãõæúÌöÈóÊóÇäö ¿ ÝóÞóÇáó: ãóäú ãóÇÊó áÇó íõÔúÑößõ ÈöÇááåö ÔóíúÆðÇ ÏóÎóáó ÇáúÌóäøóÉó æóãóäú ãóÇÊó íõÔúÑößõ Èöåö ÔóíúÆðÇ ÏóÎóáó ÇáäøóÇÑó.

“Seorang Arab Badui datang menemui Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam , lalu bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah dua perkara yang pasti itu?” Beliau menjawab: “Barangsiapa yang meninggal dunia dalam keadaan tidak menyekutukan Allah dengan suatu apapun, niscaya dia akan masuk Jannah. Dan barangsiapa yang meninggal dunia dalam keadaan menyekutukan Allah dengan sesuatu, niscaya dia akan masuk Neraka”. (HR. Muslim No. 93)

Firman Allah:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) syirik dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki”. (An-Nisa: 48,116)

Firman Allah:
“Dan seandainya mereka berbuat syirik, pastilah gugur amal perbuatan yang telah mereka kerjakan.” (Al-An’am: 88).

Firman Allah:
“Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan masjid-masjid Allah, (sedangkan) mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia amalan-amalan mereka, dan mereka kekal di dalam Neraka.” (At-Taubah: 17).

Maka merupakan musibah jika seseorang jahil (bodoh) terhadap perkara tauhid dan perkara syirik, dan lebih musibah lagi jika seseorang telah mengetahui perkara syirik namun dia tetap melakukannya. Dengan ini hendaklah kita terpacu untuk menam-bah/menuntut ilmu sehingga bisa melaksanakan tauhid dan menjauh dari syirik dan pelakunya.

æó Çááåó äóÓúÃóáõ Ãóäú íóÑúÒõÞóäóÇ ÚöáúãðÇ äóÇÝöÚðÇ æóÑöÒúÞðÇ ØóíøöÈðÇ æóÚóãóáÇð ãõÊóÞóÈøóáÇð¡ æóÕóáøóì Çááåõ Úóáóì äóÈöíøöäóÇ ãõÍóãøóÏò æóÚóáóì Âáöåö æóÕöÍúÈöåö ÃóÌúãóÚöíúäó.

Khutbah kedua:

Åöäøó ÇáúÍóãúÏó ááåö äóÍúãóÏõåõ æóäóÓúÊóÚöíúäõåõ æóäóÓúÊóÛúÝöÑõåõ æóäóÚõæúÐõ ÈöÇááåö ãöäú ÔõÑõæúÑö ÃóäúÝõÓöäóÇ æóãöäú ÓóíøöÆóÇÊö ÃóÚúãóÇáöäóÇ¡ ãóäú íóåúÏö Çááåõ ÝóáÇó ãõÖöáøó áóåõ æóãóäú íøõÖúáöáú ÝóáÇó åóÇÏöíó áóåõ æóÃóÔúåóÏõ Ãóäú áÇó Åöáóåó ÅöáÇøó Çááåõ æóÍúÏóåõ áÇó ÔóÑöíúßó áóåõ¡ æóÃóÔúåóÏõ Ãóäøó ãõÍóãøóÏðÇ ÚóÈúÏõåõ æóÑóÓõæúáõåõ Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó ÊóÓúáöãðÇ. ÃóãøóÇ ÈóÚúÏõ:

Hadirin jama’ah Jum’at Arsyadakumullah,
Tatkala kita membicarakan masalah syirik, janganlah kita menganggap bahwa syirik itu hanya ada di kalangan orang-orang Yahudi, Nashrani, Hindu, Budha, Konghuchu dan lain-lain. Sedangkan kaum Muslimin sendiri dianggap sudah terbebas dari dosa ini. Padahal tidaklah demikian. Banyak juga kalangan kaum Muslimin yang tertimpa dosa sekaligus penyakit ini, baik sadar maupun tidak. Karena makna atau pengertian syirik adalah: mempersekutukan peribadatan kepada Allah; yakni memberikan bentuk-bentuk ibadah yang semestinya hanya dipersembahkan kepada Allah, namun dia berikan kepada selain-Nya. Baik itu kepada para malaikat, nabi, orang shalih, kuburan, patung, matahari, bulan, sapi dan lain sebagainya. Sedangkan bentuk-bentuk ibadah (yang dipersembah-kan) kepada selain Allah itu bisa berupa: Do’a, berkurban, nadzar, puncak kecintaan, puncak rasa takut dan lain-lain.

Saudara-saudaraku fillah, pada khutbah kedua di sini, sengaja kami ringkaskan sebagian keutamaan tauhid sebagaimana yang telah dibahas pada khutbah yang pertama:

Diharamkannya Neraka itu bagi kaum Muwahhidin (Ahli Tauhid). Kalaupun mereka masuk Neraka, mereka tidak akan kekal di dalamnya.
Dijanjikannya mereka untuk masuk Jannah.
Diberikan kepada mereka ampunan dari segala dosa.
Sedangkan di antara bahaya-bahaya syirik adalah:
Diancamnya orang yang melakukan syirik akbar untuk masuk Neraka dan kekal di dalamnya.
Tidak akan diampuni dosanya itu selama ia belum bertaubat.
Gugurlah amal perbuatannya.
Syirik adalah perbuatan dzalim yang terbesar.
Inilah yang dapat kami berikan. Fa’tabiru ya ulil albab.


Åöäøó Çááåó æóãóáÇÆößóÊóåõ íõÕóáøóæäó Úóáóì ÇáøóäöÈúíøö íóÇ ÃóíøõåóÇ ÇáøóÐöíúäó ÂãóäõæÇ ÕóáøõæÇ Úóáóíúåö æóÓóáøöãõæúÇ ÊóÓúáöíúãðÇ. Ãóááøóåõãøó Õóáøö Úóáóì ãõÍóãøóÏò æóÚóáóì Âáö ãõÍóãøóÏò ßóãóÇ ÕóáøóíúÊó Úóáóì ÅöÈúÑóÇåöíãó æóÚóáóì Âáö ÅöÈúÑóÇåöíãó¡ Åöäøóßó ÍóãöíúÏñ ãóÌöíúÏñ. æóÈóÇÑößú Úóáóì ãõÍóãøóÏò æóÚóáóì Âáö ãõÍóãøóÏò¡ ßóãóÇ ÈóÇÑóßúÊó Úóáóì ÅöÈúÑóÇåöíúãó æóÚóáóì Âáö ÅöÈúÑóÇåöíúãó Åöäøóßó ÍóãöíúÏñ ãóÌöíúÏñ.
Çóááøóåõãøó ÇÛúÝöÑú áöáúãõÓúáöãöíúäó æóÇáúãõÓúáöãóÇÊö¡ ÇóáÃóÍúíóÇÁö ãöäúåõãú æóÇáÃóãúæóÇÊö. ÑóÈøóäóÇ ÇÛúÝöÑú áóäóÇ æóáÅöÎúæóÇäöäóÇ ÇáøóÐöíúäó ÓóÈóÞõæúäóÇ ÈöÇáÅöíúãóÇäö æóáÇó ÊóÌúÚóáú Ýöí ÞõáõæÈöäóÇ ÛöáÇøð áöáøóÐöíúäó ÂãóäõæÇú ÑóÈøóäóÇ Åöäøóßø ÑóÄõæúÝõ ÑøóÍöíúãñ. Çóááøóåõãøó ÇÝúÊóÍú ÈóíúäóäóÇ æóÈóíúäó ÞóæúãöäóÇ ÈöÇáúÍóÞøö æóÃóäúÊó ÎóíúÑõ ÇáúÝóÇÊöÍöíúäó. Çóááøóåõãøó ÅöäøóÇ äóÓúÃóáõßó ÚöáúãðÇ äðÇÝöÚðÇ æóÑöÒúÞðÇ ØóíøöÈðÇ æóÚóãóáÇð ãõÊóÞóÈöáÇð. ÑóÈøóäóÇ ÂÊöäóÇ Ýöí ÇáÏøõäúíóÇ ÍóÓóäóÉð æóÝöì ÇáÂÎöÑóÉö ÍóÓóäóÉð æóÞöäóÇ ÚóÐóÇÈó ÇáäøóÇÑö. æóÕóáøóì Çááåõ Úóáóì äóÈöíøöäóÇ ãõÍóãøóÏò æóÚóáóì Âáöåö æóÕóÍúÈöåö æóãóäú ÊóÈöÚóåõãú ÈöÅöÍúÓóÇäò Åöáóì íöæúãö ÇáÏøöíúäö

Oleh: Agus Hasan Bashori

Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php/?pilih=lihatkhutbah&id=6