Jamaah Jum`at rahimakumullah, semoga Allah senantiasa merahmati kita sekalian.
Dari seluruh kenikmatan yang dianugerahkan kepada kita itu, ada kemudian kenikmatan yang paling agung, yaitu hidayah Iman dan Islam, sebab tanpa keduanya, seluruh rizki dan kenikmatan pada akhirnya hanyalah bencana. Iman dan Islam itu menuntut umat manusia untuk senantiasa bersih, menjaga kebersihan bahkan mendidik ikhlas dan thaharah, serta ihsan. Ikhlas berarti menjaga kemurnian, kebersihan iman. Yaitu niat dan ibadah serta muamalah senantiasa disesuaikan dengan syari’at Allah dan hanya karena Allah.
“Padahal mereka tidak disuruh, kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam menjalankan agama dengan lurus”. (Al-Bayyinah: 5)
Yaitu jauh dari syirik dan jauh dari kesesatan, bersih dengan sebersih-bersihnya, seperti difirmankan oleh Allah :
“Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah dia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya. (QS Al- Kahfi 18: 110).
Hadhirin jamaah jum’at A’azzakumullah!
Bersih dalam beribadah adalah niat ikhlas, tanpa syirik, riya’, ujub dan sebagainya. ÞóÇáó ÔóÏøóÇÏ: ÝóÅöäøöí ÓóãöÚúÊõ ÑóÓõæáó Çúááåö Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóöÓóáøóãøó íóÞõæúáõ: ãóäú Õóáøóì íõÑóÇÆöí ÝóÞóÏú ÃóÔúÑóßó æóãóäú ÕóÇãó íõÑóÇÆöí ÝóÞóÏú ÃóÔúÑóßó æóãóäú ÊóÕóÏøóÞó íõÑóÇÆöí ÝóÞóÏú ÃóÔúÑóßó .. ÞóÇáó Çááå ÃóäóÇ ÎóíúÑõ ÞóÓöíúãò áöãóäú ÃóÔúÑóßó Èöíú ãóäú ÃóÔúÑóßó Èöíú ÔóíúÆðÇ ÝóÅöäøó (ÍóÔúÏóåõ) Úóãóáóåõ Þóáöíúáóåõ æóßóËöíúÑóåõ áöÔóÑöíúßöåö ÇáøóÐöíú ÃóÔúÑóßó Èöåö æóÃóäóÇ Úóäúåõ Ûóäöíøñ (ÃÍãÏ Ýí ÇáãÓäÏ 4/125). Syaddad Radhiallaahu anhu berkata: “Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Siapa yang shalat dengan berpa-mer (riya’) maka sungguh dia telah syirik (menyekutukan Allah). Siapa puasa dengan riya’ maka dia telah syirik dan siapa yang bershadaqah dengan berpamer maka dia telah syirik, ……
Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: “Akulah sebaik-baik pem-bagi bagi siapa yang menyekutukan Aku, siapa yang menyekutukan Aku dengan sesuatu apapun maka seluruh amalnya sedikitnya atau banyaknya adalah untuk sekutunya yang dia telah berbuat syirik dengannya, sedangkan Aku Maha Kaya (tidak butuh) dari amal itu. (HR. Ahmad dalam Musnad IV=125).
Jamaah jum’at rahima kumullah!
Bersih dalam beribadah berarti melaksanakan sesuai dengan contoh dari Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam cocok dengan syari’at Allah, bersih dari bid`ah, tradisi yang menyalahi syariah, tidak membuat tatacara beribadah yang tiada diberi contoh oleh Rasulullah, karena tiada lurus amalan yang dibuat-buat sendiri ini. Rasulullah mengancam : ßõáøõ ÈöÏúÚóÉò ÖóáÇóáóÉñ "Setiap bid`ah adalah tersesat”. (HR. Abu Daud). æóßõáøõ ÖóáÇóáóÉò Ýöí ÇáäøóÇÑö ”Dan setiap kesesatan berada di neraka” .
Ibadah itu harus sesuai dengan syari’at, tentang syarat dan rukunnya, dengan niat ikhlas hanya karena Allah, itulah syarat diterimanya amal ibadah. (Tafsir Ibnu Katsir V=110). Itu berarti bersih Iman yang menghasilkan akhlaq dan muamalah yang bersih. Akhlaq yang dicontohkan Rasulullah n, akhlaq yang agung lagi mengagumkan. Dipuji oleh Allah Subhannahu wa Ta'ala sepanjang masa yang di hadapan segenap makhluq yang tunduk padaNya. Kalam Allah dalam Al-Qur`an itulah akhlaq Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam. Demikian diriwayatkan oleh ummul mukminin ‘Aisyah Radhiallaahu anha : ÃóÊóÞúÑóÃõ ÇáúÞõÑúÂäó ¿ … ßóÇäó ÎõáõÞõåõ ÇáúÞõÑúÂóäõ (ãÓáã 746¡ ÃÍãÏ : 16) “Tidakkah anda membaca Al-Qur’an? Akhlaq beliau adalah Al-Qur’an”
Jamaah jumiah A’azza kumullah!
Dengan Al-Qur’an kalam Allah itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memimpin, mencontohkan, membimbing, memperagakan, membuktikan dan mendidik secara langsung sepanjang hidupnya dengan akhlaq yang paling bersih, paling tulus kehadirat Allah dan paling indah mengagumkan dan menjadi pedoman yang kokoh bagi kehidupan umat sepanjang zaman.
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut nama Allah”. (Al-Ahzab: 21).
Keteladanan sebagai pemimpin, sebagai warga, sebagai anggota ummat sebagai apapun, di dalam beragama, beraqidah, beribadah, berakhlaq maupun bermuamalah, keteladanan beliau yang indah dan bersih itu, tercermin dalam: - Hati yang ikhlas, mencakup sifat-sifat marhamah penyayang, penyantun, ramah, sabar, qana’ah, tawadhu’, adil, pemberani dan sifat-sifat mulia seluruhnya dan jauh dari sifat-sifat buruk seperti: riya’, kejam, kasar, kikir, ambisi, rakus, sombong, aniaya, curang, penakut, munafiq (bermuka dua) dll. (Fana’udzu billah min dzalik).
- Perkataan yang bersih dan indah adalah jujur, benar, singkat, jelas, halus, manis dan menggembirakan, santun serta sesuai dengan teman bicaranya. Rasulullah n teladan yang jauh dari sifat dusta, berbohong, perkataan membual, bertele-tele, kasar, pahit, mengancam, jorok, menusuk hati, kelakar dan lain-lain yang bukan merupakan perkataan orang-orang mulia.
Dari banyak wasiat beliau dapat kita cermati satu, dua, dan mari kita wasiatkan untuk generasi kita.Úóáóíúßõãú ÈöÇáÕøöÏúÞö ÝóÇöäøó ÇáÕøöÏúÞó íóåúÏöí Åöáóì ÇáúÈöÑøö æóÅöäøó ÇáúÈöÑøó íóåúÏöí Åöáóì ÇáúÌóäøóÉö “Wajib atas kalian bersifat jujur sebab kejujuran itu menunjukkan kepada kebaikan, dan sesungguhnya kebaikan itu menunjukkan kepada Surga”. (HR.Imam Bukhari dan Muslim).
Sebaliknya; seperti berbohong, menipu, bicara kasar dll, jelas beliau larang. ÅöíøóÇßõãú æóÇáúßóÐöÈó ÝóÅöäøó ÇáúßóÐöÈó íóåúÏöí Åöáóì ÇáúÝõÌõæúÑö æÅöäøó ÇáúÝõÌõæúÑó íóåúÏöíú Åöáóì ÇáäøóÇÑö.
“Jauhilah berkata bohong sebab sesungguhnya kebohongan itu menunjukan kepada kekejian. Dan sesungguhnya kekejian itu menunjukkan ke neraka”. (HR. Imam Bukhari dan Muslim).
- Perbuatan yang diteladankan adalah yang baik, yang benar sesuai dengan hukum dan jiwa yang bersih itu. Itulah At-Taqwa dan itulah Al-Birru.
Karena dasar keimanan itu maka setiap perbuatannya ia lakukan sebaik-baiknya, dengan disiplin dan hati-hati.ÅöÊøóÞõæÇú ÇáÙøõáúãó ÝóÅöäøó ÇáÙøõáúãó ÙõáõãóÇÊñ íóæúãó ÇáÞöíóÇãóÉö. (ÑæÇå ãÓáã) “Jauhilah kedhaliman sebab sesungguhnya kedhaliman itu adalah, kegelapan di hari kiamat”. (HR. Muslim No:6523)
“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah-pun, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat balasannya pula (QS. Al-Zalzalah 99: 7 - 8).
Dengan berpedoman dengan ayat ini maka alangkah teliti, indah dan bersih amal mereka.
- Muamalah yang dicontohkan oleh Rasulullah sampai akhir hayat adalah amanah yang adil, indah, bersih dan bermanfaat. Itulah Khalifah di bumi sebagai amanah yang ditegakkan dengan jujur oleh hamba yang tulus dan penuh tanggung jawab. Dari Ibnu Umar Radhiallaahu anhu Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda:
ßõáøõ ßõãú ÑóÇÚò æóßõáøõßõãú ãóÓúÆõæúáñ Úóäú ÑóÚöíøóÊöåö (ÑæÇå ÇáÈÎÇÑí). “Setiap anda adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang kepemimpinannya”. (HR. Al-Bukhari : 893, 5188) ãóäú ÛóÔøóäóÇ ÝóáóíúÓó ãöäøöÇ. “Siapa yang menipu maka bukan termasuk golongan kita” . (HR. At-Tirmidzi dari Abu hurairah, Shahih)
Menjaga dan memanfaatkan nikmat dan karunia dengan sebaik-baiknya, sebagai hamba dan pemikul hukum Allah itu tiada berkenan berbuat kerusakan, kecurangan, pencemaran apalagi penghancuran. Mereka bertanggung jawab dengan ketaqwaan, Iman dan penuh harap pahala kepada Allah dengan segenap amal dan program-program amal shalih.
“Bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya”. (At-Tiin 95: 6)
Dengan siapapun, kepada apapun, orang beriman selalu menebarkan rahmat, kebaikan dan manfaat, dengan bersih, murni dan indah. Mereka selalu siap menolong agama Allah:
“(yaitu orang-orang yang jika kami teguhkan kedudukan mereka’ dimuka bumi; niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat menyuruh berbuat yang mahruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar, dan kepada Allahlah kembali segala urusan (Qs:22, Al-Hajj: 41)”. Mereka selalu menjauhkan diri dari perbuatan merusak, merugikan atau bencana, sebab itu larangan keras. Allah berfirman :
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya, yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang beriman”. (QS. Al-A’raaf 7: 85).
Jamaah rahimakumullah!
Iman pada Mizan di hari akhir dan malaikat yang mencatat amal kita, serta tanggung jawab mengemban amanah kekholifahan adalah juga menuntun orang beriman untuk menjaga kebersihan, kelestarian dan manfaat lingkungan dan alam sekitarnya, demi kemakmuran bukan kerusakan atau pengrusakan (lihat Tafsir Ibnu Katsir I hal : 218).
Mereka aktif melaksanakan kebersihan lingkungan, reboisasi, penghijauan dan peningkatan produktifitas alam dengan eksplorasi yang wajar dan bertanggung jawab.
“Dia telah menciptakan kamu dari bumi dan menjadikan kamu pemakmurnya”. (Huud: 61).
Sampai benda penghalang di lintasan orang lewat saja dibuang, disingkirkan oleh Iman yang haus amal shaleh itu. Demi kebersihan Iman dan amalnya, demi amanah Imarah, memakmurkan, kemakmuran (Ibnu Katsir I:218 IV 331) ÇóáÅöíúãóÇäõ ÈöÖúÚñ æóÓóÈúÚõæäó Ãóæú ÈöÖúÚñ æóÓöÊøõæúäó ÔõÚúÈóÉð ÝóÃóÝúÖóáõåóÇ Þóæúáõ áÇó Åöáóåó ÅöáÇøó Çááåõ æóÃóÏúäÇóåóÇ ÅóãóÇØóÉõ ÇáÃÐóì Úóäö ÇáØóÑöíúÞö (ÑæÇå ãÓáã). “Iman itu bercabang tujuh puluh lebih, yang paling tinggi adalah kalimat “Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah” dan yang paling rendah adalah menyingkirkan kotoran dari jalan.” (HR. Muslim I/63)
Jamaah jum’at A’azza kumullah
Akhirnya semoga Allah menguatkan pohon Iman kita dengan membuahkan amal-amal shalih yang penuh manfaat sehingga terwujud lingkungan yang bersih, kali sungai yang bersih, pantai-lautan yang bersih, hutan, sawah, ladang semua yang hijau tanpa tercemari, udara yang sehat dan segar sebagai buah pohon rahmat Iman dan Islam kita, Amin ya Rabbal Alamin. ÝóÇÓúÊóÈöÞõæÇ ÇáúÎóíúÑóÇÊö¡ ÃóÞõæúáõ Þóæúáöíú åóÐóÇ ÝóÇÓúÊóÛúÝöÑõæÇ Çááåó Åöäøóåõ åõæó ÇáúÛóÝõæúÑõ ÇáÑøóÍöíúãõ. Khutbah Kedua Åöäøó ÇáúÍóãúÏó áöáøóåö äóÍúãóÏõåõ æóäóÓúÊóÚöíúäõåõ æóäóÓúÊóÛúÝöÑõåú æóäóÚõæÐõ ÈöÇááåö ãöäú ÔõÑõæúÑö ÃóäúÝõÓöäóÇ æóãöäú ÓóíøöÆóÇÊö ÃóÚúãóÇáöäóÇ¡ ãóäú íóåúÏöåö Çááåõ ÝóáÇó ãõÖöáøó áóåõ æóãóäú íõÖúáöáú ÝóáÇó åóÇÏöíó áóåõ. ÃóÔúåóÏõ Ãóäú áÇó Åöáóåó ÅöáÇøó Çááåõ æóÍúÏóåõ áÇó ÔóÑöíúßó áóåõ æóÃóÔúåóÏõ Ãóäøó ãõÍóãøóÏðÇ ÚóÈúÏõåõ æóÑóÓõæúáõåõ Õóáøóì Çááåõ Úóáóì äóÈöíøöäóÇ ãõÍóãøóÏò æóÚóáóì Âáöåö æóÃóÕúÍóÇÈöåö æóÓóáøóãó ÊóÓúáöíúãðÇ ßóËöíúÑðÇ. ÞóÇáó ÊóÚóÇáóì: íóÇ ÃóíøõåÇó ÇáøóÐöíúäó ÁóÇãóäõæÇ ÇÊøóÞõæÇ Çááåó ÍóÞøó ÊõÞóÇÊöåö æóáÇó ÊóãõæúÊõäøó ÅöáÇøó æóÃóäÊõãú ãøõÓúáöãõæúäó. æóÞóÇáó ÊóÚóÇáóì: {æóãóä íóÊøóÞö Çááåó íóÌúÚóá áøóåõ ãóÎúÑóÌðÇ} æóÞóÇáó: {æóãóä íóÊøóÞö Çááåó íõßóÝøöÑú Úóäúåõ ÓóíøöÆóÇÊöåö æóíõÚúÙöãú áóåõ ÃóÌúÑðÇ}
Ëõãøó ÇÚúáóãõæúÇ ÝóÅöäøó Çááåó ÃóãóÑóßõãú ÈöÇáÕøóáÇóÉö æóÇáÓøóáÇóãö Úóáóì ÑóÓõæúáöåö ÝóÞóÇáó: {Åöäøó Çááåó æóãóáÇóÆößóÊóåõ íõÕóáøõæúäó Úóáóì ÇáäøóÈöíøö¡ íóÇ ÃóíøõåÇó ÇáøóÐöíúäó ÁóÇãóäõæúÇ ÕóáøõæúÇ Úóáóíúåö æóÓóáøöãõæúÇ ÊóÓúáöíúãðÇ}.
Çóááøóåõãøó Õóáøö Úóáóì ãõÍóãøóÏò æóÚóáóì Âáö ãõÍóãøóÏò ßóãóÇ ÕóáøóíúÊó Úóáóì ÅöÈúÑóÇåöíúãó æóÚóáóì Âáö ÅöÈúÑóÇåöíúãó¡ Åöäøóßó ÍóãöíúÏñ ãóÌöíúÏñ. æóÈóÇÑößú Úóáóì ãõÍóãøóÏò æóÚóáóì Âáö ãõÍóãøóÏò ßóãóÇ ÈóÇÑóßúÊó Úóáóì ÅöÈúÑóÇåöíúãó æóÚóáóì Âáö ÅöÈúÑóÇåöíúãó¡ Åöäøóßó ÍóãöíúÏñ ãóÌöíúÏñ. Çóááøóåõãøó ÇÛúÝöÑú áöáúãõÓúáöãöíúäó æóÇáúãõÓúáöãóÇÊö¡ æóÇáúãõÄúãöäöíúäó æóÇáúãõÄúãöäóÇÊö ÇúáÃóÍúíóÇÁö ãöäúåõãú æóÇúáÃóãúæóÇÊö¡ Åöäøóßó ÓóãöíúÚñ ÞóÑöíúÈñ. Çóááøóåõãøó ÃóÑöäóÇ ÇáúÍóÞøó ÍóÞøðÇ æóÇÑúÒõÞúäóÇ ÇÊøöÈóÇÚóåõ¡ æóÃóÑöäóÇ ÇáúÈóÇØöáó ÈÇóØöáÇð æóÇÑúÒõÞúäóÇ ÇÌúÊöäóÇÈóåõ. ÑóÈøóäóÇ ÂÊöäóÇ Ýöí ÇáÏøõäúíóÇ ÍóÓóäóÉð æóÝöí ÇáÂÎöÑóÉö ÍóÓóäóÉð æóÞöäóÇ ÚóÐóÇÈó ÇáäøóÇÑö. ÑóÈøóäóÇ åóÈú áóäóÇ ãöäú ÃóÒúæóÇÌöäóÇ æóÐõÑøöíøóÇÊöäóÇ ÞõÑøóÉó ÃóÚúíõäò æóÇÌúÚóáúäóÇ áöáúãõÊøóÞöíäó ÅöãóÇãðÇ. ÓõÈúÍóÇäó ÑóÈøößó ÑóÈøö ÇáúÚöÒøóÉö ÚóãøóÇ íóÕöÝõæúäó¡ æóÓóáÇóãñ Úóáóì ÇáúãõÑúÓóáöíúäó æóÇáúÍóãúÏõ áöáøóåö ÑóÈøö ÇáúÚóÇáóãöíúäó.
æóÕóáøóì Çááåõ Úóáóì ãõÍóãøóÏò æóÚóáóì Âáöåö æóÕóÍúÈöåö æóÓóáøóãó. æóÃóÞöãö ÇáÕøóáÇóÉó. Bacaan Khutbah Pertama :
Åöäøó ÇáúÍóãúÏó áöáøóåö äóÍúãóÏõåõ æóäóÓúÊóÚöíúäõåõ æóäóÓúÊóÛúÝöÑõåú æóäóÚõæÐõ ÈöÇááåö ãöäú ÔõÑõæúÑö ÃóäúÝõÓöäóÇ æóãöäú ÓóíøöÆóÇÊö ÃóÚúãóÇáöäóÇ¡ ãóäú íóåúÏöåö Çááåõ ÝóáÇó ãõÖöáøó áóåõ æóãóäú íõÖúáöáúåõ ÝóáÇó åóÇÏöíó áóåõ. æóÃóÔúåóÏõ Ãóäú áÇó Åöáóåó ÅöáÇøó Çááåõ æóÍúÏóåõ áÇó ÔóÑöíúßó áóåõ æóÃóÔúåóÏõ Ãóäøó ãõÍóãøóÏðÇ ÚóÈúÏõåõ æóÑóÓõæúáõåõ. íóÇ ÃóíøõåóÇ ÇáäøóÇÓõ ÃõæúÕöíúßõãú æóÅöíøóÇíó ÈöÊóÞúæóì Çááåö ÝóÞóÏú ÝóÇÒó ÇáúãõÊøóÞõæúäó. ÞóÇáó ÊóÚóÇáóì: íóÇ ÃóíøõåÇó ÇáøóÐöíúäó ÁóÇãóäõæÇ ÇÊøóÞõæÇ Çááåó ÍóÞøó ÊõÞóÇÊöåö æóáÇó ÊóãõæúÊõäøó ÅöáÇøó æóÃóäÊõãú ãøõÓúáöãõæúäó. ÞóÇáó ÊóÚóÇáóì: íóÇ ÃóíøõåóÇ ÇáäøóÇÓõ ÇÊøóÞõæúÇ ÑóÈøóßõãõ ÇáøóÐöíú ÎóáóÞóßõãú ãøöäú äóÝúÓò æóÇÍöÏóÉò æóÎóáóÞó ãöäúåóÇ ÒóæúÌóåóÇ æóÈóËøó ãöäúåõãóÇ ÑöÌóÇáÇð ßóËöíúÑðÇ æóäöÓóÂÁð æóÇÊøóÞõæÇ Çááåó ÇáøóÐöíú ÊóÓóÂÁóáõæúäó Èöåö æóÇúáÃóÑúÍóÇãó Åöäøó Çááåó ßóÇäó Úóáóíúßõãú ÑóÞöíúÈðÇ. íóÇ ÃóíøõåóÇ ÇáøóÐöíúäó ÁóÇãóäõæÇ ÇÊøóÞõæÇ Çááåó æóÞõæúáõæúÇ ÞóæúáÇð ÓóÏöíúÏðÇ. íõÕúáöÍú áóßõãú ÃóÚúãóÇáóßõãú æóíóÛúÝöÑú áóßõãú ÐõäõæúÈóßõãú æóãóäú íõØöÚö Çááåó æóÑóÓõæúáóåõ ÝóÞóÏú ÝóÇÒó ÝóæúÒðÇ ÚóÙöíúãðÇ.
ÃóãøóÇ ÈóÚúÏõº ÝóÅöäøó ÃóÕúÏóÞó ÇáúÍóÏöíËö ßöÊóÇÈõ Çááåó¡ æóÎóíúÑó ÇáúåóÏúíö åóÏúíõ ãõÍóãøóÏò Õóáøóì Çááå Úóáóíúåö æóÓóáøóãó æóÔøóÑó ÇáÃõãõæÑö ãõÍúÏóËóÇÊõåóÇ æóßõáøó ãõÍúÏóËóÉò ÈöÏúÚóÉñ æóßõáøó ÈöÏúÚóÉò ÖóáÇóáóÉñ æóßõáøó ÖóáÇóáóÉò Ýöí ÇáäøóÇÑö. Çóááøóåõãøó Õóáøö æóÓóáøöãú Úóáóì äóÈöíøöäóÇ ãõÍóãøóÏò æóÚóáóì Âáöåö æóÕóÍúÈöåö æóãóäú ÊóÈöÚóåõãú ÈöÅöÍúÓóÇäò Åöáóì íóæúãö ÇáúÞöíóÇãóÉö Oleh: Waznin Mahfudz
|