Artikel : Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits
Tunanetra Dalam Islam
Selasa, 29 Juni 04

Oleh: Drs. M. Nadjamuddin

Saudara-saudara!

Agama Islam adalah agama yang sempurna, sempurna dalam arti tidak memerlukan penambahan, pengurangan atau perubahan. Sempurna ketinggian dan kemuliaan yang memiliki kebenaran mutlak dan sempurna dalam arti keumuman bukan hanya untuk suatu kaum atau pada satu saat tertentu.

Agama Islam adalah merupakan rahmat bagi seluruh alam, memberikan jaminan kepada pemeluknya memperoleh kesela-matan dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Salah satu rahmat Islam adalah bahwa Islam tidak membeda-kan ummat manusia untuk menjadi manusia termulia di hadapan Allah.

Firman Allah:
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu”. (QS. Al-Hujurat: 13).

Kesempatan untuk menjadi manusia termulia sebagai orang yang bertaqwa diberikan kepada semua manusia, kaya-miskin, pemimpin-rakyat, yang dianggap cacat atau yang tidak cacat.

Agama Islam tidak bersikap diskriminatif terhadap umatnya. Orang buta, orang pincang, atau yang lainnya keberadaannya diakui di dalam Islam. Mereka bukan saja diakui eksistensinya, namun ditegaskan bahwa orang buta itu memiliki potensi sebagaimana orang yang tidak buta (awas), potensi menerima ajaran Agama Tauhid untuk beriman, beribadah dan bertaubat serta potensi untuk berdzikir atau berfikir yang hal ini bermanfaat baginya.

Firman Allah:
Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan diri (dari dosa) atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat baginya?” (QS. ‘Abasa: 3-4).

Demikianlah sebagian kesempurnaan Islam, menempatkan orang yang dianggap sebagai penyandang cacat mempunyai kedudukan yang sama di hadapan Allah. Sebagai konsekuensinya maka orang buta, orang pincang, atau lainnya mempunyai kewajiban dan hak yang sama pula. Mereka itu berkewajiban untuk menuntut ilmu, agar dapat menjalankan perintah dan meninggalkan larangan. Dengan landasan ilmu dan iman yang dimilikinya. Insya Allah mereka akan memperoleh derajat yang tinggi baik di dunia maupun di akhirat.

Firman Allah:
“Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman dan diberi ilmu sampai beberapa derajat”. (QS. Al-Mujadillah: 11).

Dan Firman Allah:
“Katakanlah Adakah sama orang-orang yang mengetahui (berilmu) dengan orang yang tidak mengetahui (tidak berilmu).” (QS. Az Zumar: 9).

Saudara-saudara!

Ajaran Islam bukan hanya konsep dan teori. Sebagai salah satu bukti adalah sikap Rasulullah n terhadap Ibnu Ummi Maktum salah seorang sahabat yang tunanetra. Dia termasuk orang yang mula-mula atau pertama masuk Islam. Kedatangannya kepada Rasulullah yang waktu itu diabaikan oleh Rasulullah n, menjadi sebab turunnya (asbabun nuzul) surat ‘Abasa. Akhirnya Rasulullah mem-perlakukan sebagaimana sahabat lainnya bahkan lebih.

Saudara-saudara!

Kita tahu, bahwa kata “buta” (a’ma) mempunyai konotasi yang bermacam-macam. Dalam Al-Qur’an kata “buta” mempunyai dua arti yakni buta mata dan buta hati. Contoh buta mata adalah seperti ayat-ayat di atas. Sedang contoh buta hati, misalnya

Firman Allah:
“Katakan: Adakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat? Maka apakah kamu tidak memikirkannya?” (QS. Al-An’am: 50).

Buta penglihatan lebih ringan dibandingkan dengan buta hati. Inilah kiranya yang menyebabkan mereka kurang mendapat perhatian di kalangan ummat, termasuk di kalangan tokoh-tokoh Islam. Apakah mereka dibiarkan saja? Bukankah Allah telah memberikan pelajaran dan Rasulullah n telah memberikan contoh dalam menyantuni sahabatnya yang tunanetra yaitu Ibnu Ummi Maktum.

Karena ummat Islam atau para tokoh Islam memandang buta hati lebih berbahaya maka mereka mendapat perhatian besar Dalam dakwah dan ceramah juga yang dibahas adalah masalah buta hati. Apabila antara orang buta mata dan buta hati dianggap sama maka hal ini akan merugikan orang yang buta mata.

Firman Allah:
“Mereka tuli, bisu, dan buta maka tidaklah mereka akan kembali (kejalan yang benar).” (QS. Al-Baqarah: 18).

Dalam ayat tersebut dijelaskan walau panca indra mereka sehat, tapi mereka dianggap tuli, bisu dan buta karena tidak menerima kebenaran. Orang yang buta hati akan berpaling dari peringatan Allah, sehinga akan hidup nista dan di padang mahsyar kelak menjadi buta.

Firman Allah:
“Dan barangsiapa berpaling dari peringatanku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit dan Kami akan menghimpunnya dalam keadaan buta. Berkatalah ia: Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah orang yang melihat?.” (QS. Thaha: 124-125.

Oleh karena itu kita harus membedakan keduanya (buta mata dan buta hati) sesuai dengan tuntutan Al-Qur’an dan Al-Hadits.

Saudara-saudara!

Dalam Islam orang yang buta tidak diistimewakan dan tidak didiskriminasikan. Mereka jangan diabaikan atau diremehkan. Mereka perlu diberi kabar gembira yakni apabila mereka beriman dan beramal shalih akan memperoleh balasan dari Allah Ta’ala. Sebaliknya jika mereka melanggar atau durhaka atau ingkar maka akan menerima akibatnya pula.

Maka hendaknya kita dapat hidup bersama secara terpadu, bergaul dan bekerjasama dengan penuh kasih sayang.

Firman Allah:
“Tidak ada halangan bagi orang yang buta, tidak (pula) bagi orang pincang, tidak (pula) bagi orang sakit dan tidak (pula) bagi dirimu sendiri, makan (bersama-sama mereka) di rumah kamu sendiri atau di rumah bapak-bapak kamu...” (QS. An Nuur: 61).

Dalam Hadist Qudsi yang ditujukan kepada tunanetra, Allah berfirman:

ÅöÐóÇ ÃóÎóÐúÊõ ÍóÈöíúÈóÊóíú ÚóÈúÏöíú ÝóÕóÈóÑó ÚóæøóÖúÊõ ÚóäúåõãóÇ ÇáúÌóäøóÉó¡ íóÚúäöíú Úóíúäóíúåö. (ÑæÇå ÃÍãÏ).

“Apabila Aku ambil dua hal yang dicintai hambaKu lalu ia sabar, pasti Aku ganti dengan Surga. Dua hal yang dicintai hambaKu yakni kedua penglihatan matanya” (HR. Ahmad).

Saudara-saudara!

Marilah kita bergaul dengan sesama manusia secara wajar, sesuai dengan tuntutan Islam. Kita bina kasih sayang sesama muslim dengan tolong menolong dan bantu membantu dan kita bersikap tegas terhadap orang kafir.

Sikap kita terhadap tunanetra atau orang yang dianggap cacat juga wajar. Janganlah dipandang kecacatannya, tetapi kita pandang bahwa dia hamba Allah yang mempunyai kewajiban, hak dan status yang sama. Dikarenakan ketunanetraannya atau kekurangannya, maka perlu kita bantu dengan wajar, dalam arti tidak mengistimewakan tetapi juga tidak mendiskriminasikan atau mengabaikan. Bukankah orang mukmin itu penolong kepada sesama mukmin? Mari kita tegakkan amar ma’ruf nahi munkar, kita laksanakan ibadah. Insya Allah rahmat Allah akan diberikan kepada kita.

Firman Allah:
“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan sebagian mereka (adalah) menjadi penolong sebagian yang lain.” (QS. At Taubah: 71).

ÈóÇÑóßó Çááåõ áöíú æóáóßõãú Ýöí ÇáúÞõÑúÂäö ÇáúÚóÙöíúãö¡ æóäóÝóÚóäöíú æóÅöíøóÇßõãú ÈöãóÇ Ýöíúåö ãöäó ÇúáÂíóÇÊö æóÇáÐøößúÑö ÇáúÍóßöíúãö¡ æóÊóÞóÈóáøó Çááåõ ãöäøöíú æóãöäúßõãú ÊöáÇóæóÊóåõ¡ Åöäøóåõ åõæó ÇáÓøóãöíúÚõ ÇáúÚóáöíúãõ.

Khutbah Kedua

Åöäøó ÇáúÍóãúÏó áöáøóåö äóÍúãóÏõåõ æóäóÓúÊóÚöíúäõåõ æóäóÓúÊóÛúÝöÑõåú æóäóÚõæÐõ ÈöÇááåö ãöäú ÔõÑõæúÑö ÃóäúÝõÓöäóÇ æóãöäú ÓóíøöÆóÇÊö ÃóÚúãóÇáöäóÇ¡ ãóäú íóåúÏöåö Çááåõ ÝóáÇó ãõÖöáøó áóåõ æóãóäú íõÖúáöáú ÝóáÇó åóÇÏöíó áóåõ. ÃóÔúåóÏõ Ãóäú áÇó Åöáóåó ÅöáÇøó Çááåõ æóÍúÏóåõ áÇó ÔóÑöíúßó áóåõ æóÃóÔúåóÏõ Ãóäøó ãõÍóãøóÏðÇ ÚóÈúÏõåõ æóÑóÓõæúáõåõ Õóáøóì Çááåõ Úóáóì äóÈöíøöäóÇ ãõÍóãøóÏò æóÚóáóì Âáöåö æóÃóÕúÍóÇÈöåö æóÓóáøóãó ÊóÓúáöíúãðÇ ßóËöíúÑðÇ. ÞóÇáó ÊóÚóÇáóì: íóÇ ÃóíøõåÇó ÇáøóÐöíúäó ÁóÇãóäõæÇ ÇÊøóÞõæÇ Çááåó ÍóÞøó ÊõÞóÇÊöåö æóáÇó ÊóãõæúÊõäøó ÅöáÇøó æóÃóäÊõãú ãøõÓúáöãõæúäó. ÞóÇáó ÊóÚóÇáóì: {æóãóä íóÊøóÞö Çááåó íóÌúÚóá áøóåõ ãóÎúÑóÌðÇ} æóÞóÇáó: {æóãóä íóÊøóÞö Çááåó íõßóÝøöÑú Úóäúåõ ÓóíøöÆóÇÊöåö æóíõÚúÙöãú áóåõ ÃóÌúÑðÇ}
Ëõãøó ÇÚúáóãõæúÇ ÝóÅöäøó Çááåó ÃóãóÑóßõãú ÈöÇáÕøóáÇóÉö æóÇáÓøóáÇóãö Úóáóì ÑóÓõæúáöåö ÝóÞóÇáó: {Åöäøó Çááåó æóãóáÇóÆößóÊóåõ íõÕóáøõæúäó Úóáóì ÇáäøóÈöíøö¡ íóÇ ÃóíøõåÇó ÇáøóÐöíúäó ÁóÇãóäõæúÇ ÕóáøõæúÇ Úóáóíúåö æóÓóáøöãõæúÇ ÊóÓúáöíúãðÇ}.

Çóááøóåõãøó Õóáøö Úóáóì ãõÍóãøóÏò æóÚóáóì Âáö ãõÍóãøóÏò ßóãóÇ ÕóáøóíúÊó Úóáóì ÅöÈúÑóÇåöíúãó æóÚóáóì Âáö ÅöÈúÑóÇåöíúãó¡ Åöäøóßó ÍóãöíúÏñ ãóÌöíúÏñ. æóÈóÇÑößú Úóáóì ãõÍóãøóÏò æóÚóáóì Âáö ãõÍóãøóÏò ßóãóÇ ÈóÇÑóßúÊó Úóáóì ÅöÈúÑóÇåöíúãó æóÚóáóì Âáö ÅöÈúÑóÇåöíúãó¡ Åöäøóßó ÍóãöíúÏñ ãóÌöíúÏñ. Çóááøóåõãøó ÇÛúÝöÑú áöáúãõÓúáöãöíúäó æóÇáúãõÓúáöãóÇÊö¡ æóÇáúãõÄúãöäöíúäó æóÇáúãõÄúãöäóÇÊö ÇúáÃóÍúíóÇÁö ãöäúåõãú æóÇúáÃóãúæóÇÊö¡ Åöäøóßó ÓóãöíúÚñ ÞóÑöíúÈñ. Çóááøóåõãøó ÃóÑöäóÇ ÇáúÍóÞøó ÍóÞøðÇ æóÇÑúÒõÞúäóÇ ÇÊøöÈóÇÚóåõ¡ æóÃóÑöäóÇ ÇáúÈóÇØöáó ÈÇóØöáÇð æóÇÑúÒõÞúäóÇ ÇÌúÊöäóÇÈóåõ. ÑóÈøóäóÇ ÂÊöäóÇ Ýöí ÇáÏøõäúíóÇ ÍóÓóäóÉð æóÝöí ÇáÂÎöÑóÉö ÍóÓóäóÉð æóÞöäóÇ ÚóÐóÇÈó ÇáäøóÇÑö. ÑóÈøóäóÇ åóÈú áóäóÇ ãöäú ÃóÒúæóÇÌöäóÇ æóÐõÑøöíøóÇÊöäóÇ ÞõÑøóÉó ÃóÚúíõäò æóÇÌúÚóáúäóÇ áöáúãõÊøóÞöíäó ÅöãóÇãðÇ. ÓõÈúÍóÇäó ÑóÈøößó ÑóÈøö ÇáúÚöÒøóÉö ÚóãøóÇ íóÕöÝõæúäó¡ æóÓóáÇóãñ Úóáóì ÇáúãõÑúÓóáöíúäó æóÇáúÍóãúÏõ áöáøóåö ÑóÈøö ÇáúÚóÇáóãöíúäó.
æóÕóáøóì Çááåõ Úóáóì ãõÍóãøóÏò æóÚóáóì Âáöåö æóÕóÍúÈöåö æóÓóáøóãó. æóÃóÞöãö ÇáÕøóáÇóÉó.

Bacaan Khutbah Pertama :

Åöäøó ÇáúÍóãúÏó áöáøóåö äóÍúãóÏõåõ æóäóÓúÊóÚöíúäõåõ æóäóÓúÊóÛúÝöÑõåú æóäóÚõæÐõ ÈöÇááåö ãöäú ÔõÑõæúÑö ÃóäúÝõÓöäóÇ æóãöäú ÓóíøöÆóÇÊö ÃóÚúãóÇáöäóÇ¡ ãóäú íóåúÏö Çááåõ ÝóáÇó ãõÖöáøó áóåõ æóãóäú íõÖúáöáú ÝóáÇó åóÇÏöíó áóåõ. æóÃóÔúåóÏõ Ãóäú áÇó Åöáóåó ÅöáÇøó Çááåõ æóÍúÏóåõ áÇó ÔóÑöíúßó áóåõ æóÃóÔúåóÏõ Ãóäøó ãõÍóãøóÏðÇ ÚóÈúÏõåõ æóÑóÓõæúáõåõ.
Çóááøóåõãøó Õóáøö Úóáóì ãõÍóãøóÏò æóÚóáóì Âáöåö æóÃóÕúÍóÇÈöåö ÃóÌúãóÚöíúäó. ÃóãøóÇ ÈóÚúÏõº ÃíåÇ ÇáÅÎæÇä¡ ÇÊøóÞõæÇ Çááåó ÍóÞøó ÊõÞóÇÊöåö æóáÇó ÊóãõæúÊõäøó ÅöáÇøó æóÃóäúÊõãú ãõÓúáöãõæúäó. íó ÃóíøõåóÇ ÇáøóÐöíúäó ÂóãóäõæÇ ÇÊøóÞõæÇú Çááåó æóÞõæáõæÇú ÞóæúáÇð ÓóÏöíúÏðÇ¡ íõÕúáöÍú áóßõãú ÃóÚúãóÇáóßõãú æóíóÛúÝöÑú áóßõãú ÐõäõæÈóßõãú æóãóäú íõØöÚö Çááåó æóÑóÓõæáóåõ ÝóÞóÏú ÝóÇÒó ÝóæúÇÒðÇ ÚóÙöíúãóÇ.
ÃóãøóÇ ÈóÚúÏõº ÝóÅöäøó ÃóÕúÏóÞó ÇáúÍóÏöíËö ßöÊóÇÈõ Çááåó¡ æóÎóíúÑó ÇáúåóÏúíö åóÏúíõ ãõÍóãøóÏò Õóáøóì Çááå Úóáóíúåö æóÓóáøóãó æóÔøóÑó ÇáÃõãõæÑö ãõÍúÏóËóÇÊõåóÇ æóßõáøó ãõÍúÏóËóÉò ÈöÏúÚóÉñ æóßõáøó ÈöÏúÚóÉò ÖóáÇóáóÉñ æóßõáøó ÖóáÇóáóÉò Ýöí ÇáäøóÇÑö. Çóááøóåõãøó Õóáøö æóÓóáøöãú Úóáóì äóÈöíøöäóÇ ãõÍóãøóÏò æóÚóáóì Âáöåö æóÕóÍúÈöåö æóãóäú ÊóÈöÚóåõãú ÈöÅöÍúÓóÇäò Åöáóì íóæúãö ÇáúÞöíóÇãóÉö.

Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php/?pilih=lihatkhutbah&id=51