Artikel : Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits
HAKEKAT IBADAH HAJI [Khutbah Idul Adha]
Senin, 22 Oktober 12
Oleh: Izzudin Karimi, Lc.


Åöäóø ÇáúÍóãúÏó ááå äóÍúãóÏõåõ æóäóÓúÊóÚöíúäõåõ æóäóÓúÊóÛúÝöÑõåõ¡ æóäóÚõæúÐõ Èááå ãöäú ÔõÑõæúÑö ÃóäúÝõÓöäóÇ æóãöäú ÓóíöøÆóÇÊö ÃóÚúãóÇáöäóÇ¡ ãóäú íóåúÏöåö Çááå ÝóáóÇ ãõÖöáóø áóåõ æóãóäú íõÖúáöáú ÝóáóÇ åóÇÏöíó áóåõ¡ ÃóÔúåóÏõ Ãóäú áóÇ Åáå ÅáÇ Çááå æóÍúÏóåõ áóÇ ÔóÑöíúßó áóåõ¡ æóÃóÔúåóÏõ Ãóäóø ãõÍóãóøÏðÇ ÚóÈúÏõåõ æóÑóÓõæúáõåõ.

íóÇÃóíõøåÇó ÇáóøÐöíäó ÁóÇãóäõæÇ ÇÊóøÞõæÇ Çááå ÍóÞóø ÊõÞóÇÊöåö æóáÇó ÊóãõæÊõäóø ÅöáÇóø æóÃóäÊõã ãõøÓúáöãõæäó
íóÇÃóíõøåóÇ ÇáäóøÇÓõ ÇÊóøÞõæÇ ÑóÈóøßõãõ ÇáóøÐöí ÎóáóÞóßõã ãöøäú äóÝúÓò æóÇÍöÏóÉò æóÎóáóÞó ãöäúåóÇ ÒóæúÌóåóÇ æóÈóËóø ãöäúåõãóÇ ÑöÌóÇáÇð ßóËöíÑðÇ æóäöÓóÂÁð æóÇÊóøÞõæÇ Çááåó ÇáóøÐöí ÊóÓóÂÁóáõæäó Èöåö æóÇúáÃóÑúÍóÇãó Åöäóø Çááå ßóÇäó Úóáóíúßõãú ÑóÞöíÈðÇ
íóÇÃóíõøåóÇ ÇáóøÐöíäó ÁóÇãóäõæÇ ÇÊóøÞõæÇ Çááå æóÞõæáõæÇ ÞóæúáÇð ÓóÏöíÏðÇ . íõÕúáöÍú áóßõãú ÃóÚúãóÇáóßõãú æóíóÛúÝöÑú áóßõãú ÐõäõæÈóßõãú æóãóä íõØöÚö Çááåó æóÑóÓõæáóåõ ÝóÞóÏú ÝóÇÒó ÝóæúÒðÇ ÚóÙöíãðÇ

ÃóãóøÇ ÈóÚúÏõ: ÝóÅöäóø ÃóÕúÏóÞó ÇáúÍóÏöíúËö ßöÊóÇÈõ Çááå æóÎóíúÑó ÇáúåóÏúíö åóÏúíõ ãõÍóãóøÏò Õáì Çááå Úáíå æ Óáã æóÔóÑóø ÇáúÃõãõæúÑö ãõÍúÏóËóÇÊõåóÇ¡ æóßõáóø ãõÍúÏóËóÉò ÈöÏúÚóÉñ¡ æóßõáóø ÈöÏúÚóÉò ÖóáóÇáóÉñ¡ æóßõáóø ÖóáóÇáóÉò Ýöí ÇáäóøÇÑö. Çááåã Õóá Úóáóì ãõÍóãÏò¡ æóÚóáóì Âáöåö æóÕóÍúÈöåö æóÓóáãú.
Çááå ÃóßúÈóÑõ¡ Çááå ÃóßúÈóÑõ¡ Çááå ÃóßúÈóÑõ¡ æááå ÇáúÍóãúÏõ. Çááå ÃóßúÈóÑõ ßóÈöíúÑðÇ¡ æóÇáúÍóãúÏõ ááå ßóËöíúÑðÇ¡ æóÓõÈúÍóÇäó Çááå ÈõßúÑóÉð æóÃóÕöíúáÇð.


Kaum Muslimin Jamaah Shalat Idul Adha Rahimakumullah
Hari ini kaum Muslimin beribadah kepada Allah dengan salah satu ibadah yang mulia, yaitu shalat Idhul Adha yang dilanjutkan dengan penyembelihan hewan-hewan kurban sebagai ungkapan syukur dan berbuat baik kepada kawan, sanak keluarga dan orang-orang yang membutuhkan. Hari ini adalah hari pamungkas dari sepuluh hari terbaik di bulan yang mulia ini. Sepuluh hari yang sarat dengan kebaikan. Kebaikan padanya bernilai utama di sisi Allah.
Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhu, dia berkata : Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :


ãóÇ ÇáúÚóãóáõ Ýöí ÃóíóøÇãò ÃóÝúÖóáõ ãöäúåóÇ Ýöí åٰÐóÇ ÇáúÚóÔúÑö¡ ÞóÇáõæúÇ: æóáóÇ ÇáúÌöåóÇÏõ¿ ÞóÇáó: æóáóÇ ÇáúÌöåóÇÏõ¡ ÅöáóøÇ ÑóÌõáñ íõÎóÇØöÑõ ÈöäóÝúÓöåö æóãóÇáöåö¡ Ýóáóãú íóÑúÌöÚú ÈöÔóíúÁò.

"Tidak ada amal pada hari-hari, yang lebih utama daripada amal-amal di sepuluh hari ini." Mereka berkata, "Tidak pula jihad?" Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda menjawab, "Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali seorang laki-laki yang berangkat menghadapi musuh dengan jiwa dan hartanya lalu dia tidak pulang dengan sesuatu (dari keduanya atau mati syahid)." (HR. al-Bukhari,Shahih al-Bukhari, no. 969).

Kaum Muslimin Jamaah Shalat Idul Adha Rahimakumullah
Salah satu ibadah utama di hari-hari ini adalah ibadah haji di tanah suci yang merupakan salah satu rukun Islam yang lima. Begitu identiknya haji dengan hari dan bulan ini sehingga orang-orang mengatakan hari raya haji dan bulan haji. Haji adalah ibadah tua seumur bapak para nabi, Ibrahim Alaihissalam. Dialah pembangun Ka'bah baitullah dan setelah itu dia mengumumkan haji ke seluruh penjuru bumi.
Firman Allah Subhanahu Wata’ala :



æóÅöÐú íóÑúÝóÚõ ÅöÈúÑóÇåöíãõ ÇáúÞóæóÇÚöÏó ãöäó ÇáúÈóíúÊö æóÅöÓúãóÇÚöíáó ÑóÈóøäóÇ ÊóÞóÈóøáú ãöäóø Åöäóøßó ÃóäÊó ÇáÓóøãöíÚõ ÇáúÚóáöíãõ

"Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Isma'il (seraya berdoa), 'Ya Rabb kami, terimalah dari kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui'." (Al-Baqarah: 127).
Firman Allah Subhanahu Wata’ala :


Åöäóø Ãóæóøáó ÈóíúÊò æõÖöÚó áöáäóøÇÓö áóáóøÐöí ÈöÈóßóøÉó ãõÈóÇÑóßðÇ æóåõÏðì áöøáúÚóÇáóãöíäó

"Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia."(Ali Imran: 96).
Firman Allah Subhanahu Wata’ala :



æóÃöÐöøä Ýöí ÇáäóøÇÓö ÈöÇáúÍóÌöø íóÃúÊõæßó ÑöÌóÇáÇð æóÚóáóì ßõáöø ÖóÇãöÑò íóÃúÊöíäó ãöä ßõáöø ÝóÌòø ÚóãöíÞò

"Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh." (Al-Hajj: 27).

Kaum Muslimin Jamaah Shalat Idul Adha Rahimakumullah
Salah satu hikmah Allah dalam mensyariatkan ibadah adalah Dia menjadikannya beragam, di mana hal ini bisa dilihat dalam ibadah-ibadah yang merupakan rukun Islam, syahadat merupakan ibadah hati karena ia merupakan keyakinan dasar yang kemudian dilafazhkan dengan lisan, sementara shalat adalah gerakan jasad, ia merupakan ibadah badani, lain lagi puasa yang merupakan sikap menahan diri, lalu zakat yang merupakan ibadah hartawi dan yang kelima adalah haji yang menggabungkan semua sisi dari empat ibadah sebelumnya. Dari sinilah, maka haji termasuk ibadah yang terakhir diwajibkan kepada kaum Muslimin yaitu pada tahun 9 H. Hal ini karena haji memerlukan segala perkara yang diperlukan oleh empat rukun sebelumnya. Ia memerlukan landasan iman yang tertanam dalam syahadat, ia memerlukan tenaga jasmani dan harta yang ada pada shalat dan zakat, dan ia memerlukan sikap menahan diri yang dikandung oleh puasa.
Maka dari itu, ibadah haji sarat dengan nilai-nilai luhur, padat dengan jihad dan pengorbanan, penuh dengan pendidikan dan penempaan diri. Kita menengok kepada syarat wajib haji, ia adalah istitha'ah.
Firman Allah Subhanahu Wata’ala :



æóááåö Úóáóì ÇáäóøÇÓö ÍöÌõø ÇáúÈóíúÊö ãóäö ÇÓúÊóØóÇÚó Åöáóíúåö ÓóÈöíáÇð æóãóä ßóÝóÑó ÝóÅöäóø Çááåó Ûóäöíñø Úóäö ÇáúÚóÇáóãöíäó

"Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam." (Ali Imran: 97).

Kesanggupan atau kemampuan di mana dasarnya menurut para ulama adalah kesanggupan finansial, kesanggupan tenaga dan kesanggupan jalan, untuk mewujudkan semua itu dibutuhkan usaha yang tidak mudah, lebih tidak mudah lagi manakala harta yang telah diraih itu, yang merupakan ketergantungan dan kecintaan jiwa, mesti dirogoh dari kantong untuk membiayai diri, demi rukun Islam yang agung ini, belum lagi kesiapan jasmani di mana modal utamanya adalah sehat. Dibutuhkan jihad melawan kecintaan berlebih kepada harta agar jiwa rela dan lapang mengorbankannya demi kebaikan dan kemaslahatan dirinya sendiri. Dibutuhkan pula jihad melawan kecintaan berlebih kepada sikap santai dan rehat, sebab haji memang mengharuskan kelelahan, baik kelelahan perjalanan dan kelelahan pelaksanaan.

Kaum Muslimin Jamaah Shalat Idul Adha Rahimakumullah
Kita menengok lebih dalam kepada aturan dan tatanan manasik haji. Kita bisa mendapatkan bahwa ia merupakan pendidikan jihad agar jiwa menghormati dan menghargai batasan-batasan Allah, menahan diri dengan tidak melanggarnya. Seperti kita ketahui, haji ditunaikan dalam keadaan ihram, dan dalam ihram ini terdapat pantangan-pantangan yang harus dijaga, seperti pakaian berjahit, topi atau kopyah, mencukur rambut, memotong kuku, membunuh binatang buruan, memakai minyak wangi, bersetubuh, menikah dan menikahkan. Semua ini adalah perkara-perkara yang harus dijauhi semasa ihram, padahal sebagian darinya adalah perkara yang mungkin dalam pandangan sebagian orang sepele, seperti menutup kepala dengan penutup atau memotong kuku. Sementara sebagian lagi merupakan perkara yang disukai oleh jiwa seperti minyak wangi dan bersetubuh. Akan tetapi semua itu adalah batasan-batasan Allah yang tidak patut disepelekan atau dipandang sebelah mata.
Kita kembali menengok, aturan-aturan di atas mengakibatkan sangsi dan hukuman bagi pelanggarnya, mulai dari bersedekah dan berpuasa, sampai dengan mengalirkan darah dengan menyembelih hewan ternak, sebuah pendidikan kedisiplinan dan tanggung jawab serta kesiapan memikul resiko kelalaian dan kekhilafan, dan itu pun dalam bentuk perbuatan yang kebaikannya kembali kepada diri sendiri atau kepada sesama. Firman Allah Subhanahu Wata’ala :



æóÇáúÈõÏúäó ÌóÚóáúäóÇåóÇ áóßõã ãöøä ÔóÚóÂÆöÑö Çááåö áóßõãú ÝöíåóÇ ÎóíúÑñ ÝóÇÐúßõÑõæÇ ÇÓúãó Çááåö ÚóáóíúåóÇ ÕóæóÂÝóø ÝóÅöÐóÇ æóÌóÈóÊú ÌõäõæÈõåóÇ ÝóßõáõæÇ ãöäúåóÇ æóÃóØúÚöãõæÇ ÇáúÞóÇäöÚó æóÇáúãõÚúÊóÑóø ßóÐóáößó ÓóÎóøÑúäóÇåóÇ áóßõãú áóÚóáóøßõãú ÊóÔúßõÑõæäó . áóä íóäóÇáó Çááåó áõÍõæãõåóÇ æóáÇóÏöãóÂÄõåóÇ æóáóßöä íóäóÇáõåõ ÇáÊóøÞúæóì ãöäßõãú ßóÐóáößó ÓóÎóøÑóåóÇ áóßõãú áöÊõßóÈöøÑõæÇ Çááåó Úóáóì ãóÇåóÏóÇßõãú æóÈóÔöøÑö ÇáúãõÍúÓöäöíäó

"Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebagian dari syiar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka kalian sebutlah nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur. Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayahNya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik." (Al-Hajj: 36-37).

Kaum Muslimin Jamaah Shalat Idul Adha Rahimakumullah
Mari kita lihat dan cermati tempat di mana haji ini dilaksa-nakan, sebuah tempat yang berpusat di daerah Haram yang memiliki hukum-hukum khusus yang berbeda dengan yang lain, salah satunya jika di daerah selainnya keinginan berbuat keburukan belum diperhitungkan, maka berbeda dengan di daerah Haram, ia diperhitungkan bahkan diancam siksa yang pedih. Firman Allah Subhanahu Wata’ala :



Åöäóø ÇáóøÐöíäó ßóÝóÑõæÇ íóÕõÏõøæäó Úóäú ÓóÈöíáö Çááå æóÇáúãóÓúÌöÏö ÇáúÍóÑóÇãö ÇáóøÐöí ÌóÚóáúäóÇåõ áöáäóøÇÓö ÓóæóÂÁð ÇáúÚóÇßöÝõ Ýöíåö æóÇáúÈóÇÏö æóãóä íõÑöÏú Ýöíåö ÈöÅöáúÍóÇÏò ÈöÙõáúãò äõøÐöÞúåõ ãöäú ÚóÐóÇÈò Ãóáöíãò

Dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zhalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebagian siksa yang pedih."(Al-Hajj: 25).

Oleh karena itu, ayat al-Qur`an yang lain mengajarkan orang yang berhaji agar menghindari perkara-perkara yang dapat mengurangi atau menghapus keutamaan ibadah haji. Firman Allah Subhanahu Wata’ala :


Ýóãóäú ÝóÑóÖó Ýöíåöäóø ÇáúÍóÌóø ÝóáÇó ÑóÝóËó æóáÇó ÝõÓõæÞó æóáÇó ÌöÏóÇáó Ýöí ÇáúÍóÌöø

"Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh bersetubuh, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji." (Al-Baqarah: 197).

Dan haji yang demikian melebur dosa-dosa pelakunya sehingga dia pulang dalam keadaan sama dengan pada saat dilahirkan oleh ibunya.
Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, ia berkata, aku mendengar Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :


ãóäú ÍóÌóø ááå¡ Ýóáóãú íóÑúÝõËú æóáóãú íóÝúÓõÞú¡ ÑóÌóÚó ßóíóæúãö æóáóÏóÊúåõ Ãõãõøåõ.

"Barangsiapa berhaji karena Allah, lalu dia tidak melakukan bersetubuh dan tidak melakukan perbuatan fasik, niscaya dia pulang seperti hari di mana dia dilahirkan oleh ibunya." (Muttafaq 'alaihi, Mukh-tashar Shahih al-Bukhari, no. 732; dan Mukhtashar Shahih Muslim, no. 641).

Juga sabda Nabi shallallohu 'alaihi wasallam kepada Amr bin al-Ash Radhiallahu ‘Anhu pada saat dia masuk Islam,


ÃóãóÇ ÚóáöãúÊó íóÇÚóãúÑõæ! Ãóäóø ÇáúÅöÓúáóÇãó íóåúÏöãõ ãóÇßóÇäó ÞóÈúáóåõ¡ æóÃóäóø ÇáúåöÌúÑóÉó íóåúÏöãõ ãóÇßóÇäó ÞóÈúáóåóÇ¡ æóÃóäóø ÇáúÍóÌóø íóåúÏöãõ ãóÇßóÇäó ÞóÈúáóåõ.

"Apakah kamu belum mengetahui wahai Amr, bahwa Islam menghapus apa yang sebelumnya, hijrah menghapus apa yang sebelumnya, dan haji menghapus apa yang sebelumnya." (HR. Muslim, Mukhtashar Shahih Muslim, no. 64).

Kaum Muslimin Jamaah Shalat Idul Adha Rahimakumullah
Kita kembali menengok rangkaian manasik haji: thawaf, sa'i, wukuf, melempar jumrah dan lain-lain. Semua ini merupakan ibadah-ibadah yang menuntut aktifitas fisik yang melelahkan, berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan bertalbiyah, ditambah dengan kepadatan manusia yang memiliki beragam bahasa dan tradisi, berkumpul di satu tempat, di waktu yang sama, ditambah lagi cuaca yang kadang-kadang berbeda jauh dengan cuaca di negeri sendiri. Semua itu tidak jarang menimbulkan problem tersendiri yang menuntut usaha keras dan kesabaran dalam menyikapinya, maka tidak berlebihan jika Rasulullah shallallohu 'alaihi wasallam mendudukkan haji dalam deretan amalan-amalan utama setelah iman dan jihad di jalan Allah.
Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu


Ãóäóø ÑóÓõæúáó Çááå Õáì Çááå Úáíå æÓáã ÓõÆöáó: Ãóíõø ÇáúÚóãóáö ÃóÝúÖóáõ¿ ÝóÞóÇáó: ÅöíúãóÇäñ Èááå æóÑóÓõæúáöåö. Þöíúáó: Ëõãóø ãóÇÐóÇ¿ ÞóÇáó: ÇáúÌöåóÇÏõ Ýöí ÓóÈöíúáö Çááå. Þöíúáó: Ëõãóø ãóÇÐóÇ¿ ÞóÇáó: ÍóÌñø ãóÈúÑõæúÑñ.

"Bahwa Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam ditanya tentang amal apakah yang paling utama? Beliau menjawab, "Iman kepada Allah dan RasulNya." Beliau ditanya, "Lalu apa?" Beliau menjawab, "Jihad di jalan Allah." Beliau ditanya, "Lalu apa?" Beliau menjawab, "Haji mabrur." (HR. al-Bukhari, Mukhtashar Shahih al-Bukhari, no. 25).

Tantangan dalam ibadah haji yang dihadapi dan pengorbanan yang diberikan bertujuan melatih dan mendidik, ia demi kebaikan dan kemaslahatan yang tidak mungkin diperinci satu demi satu, akan tetapi yang telah kita ketahui sudah cukup menyadarkan kita akan hikmah mulia dari ibadah haji. Firman Allah Subhanahu Wata’ala :



áöíóÔúåóÏõæÇ ãóäóÇÝöÚó áóåõãú æóíóÐúßõÑõæÇ ÇÓúãó Çááåö Ýöí ÃóíóøÇãò ãóøÚúáõæãóÇÊò Úóáóì ãóÇÑóÒóÞóåõã ãöøä ÈóåöíãóÉö ÇúáÃóäúÚóÇãö ÝóßõáõæÇ ãöäúåóÇ æóÃóØúÚöãõæÇ ÇáúÈóÂÆöÓó ÇáúÝóÞöíÑó

"Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rizki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebagian dari padanya, dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir." (Al-Hajj: 28).

Semoga saudara-saudara kita yang berangkat haji dikaruniai Haji Mabrur yang memberi pengaruh baik dalam kehidupan dan perilaku mereka, dan bagi saudara-saudara kita yang belum berangkat semoga Allah memudahkan jalannya agar mereka juga bisa menyaksikan keagunganNya melalui ibadah yang agung ini.

Kaum Muslimin Jamaah Shalat Idul Adha Rahimakumullah


Çááåã Õóáöø Úáì ãõÍóãóøÏò¡ æóÚóáóì Âáö ãõÍóãóøÏò¡ ßóãóÇ ÕóáóøíúÊó Úóáóì ÅöÈúÑóÇåöíúãó¡ æóÚóáóì Âáö ÅöÈúÑóÇåöíúãó¡ Åöäóøßó ÍóãöíúÏñ ãóÌöíúÏñ Çááåã ÈóÇÑößú Úóáóì ãõÍóãóøÏò¡ æóÚóáóì Âáö ãõÍóãóøÏò¡ ßóãóÇ ÈóÇÑóßúÊó Úóáóì ÅöÈúÑóÇåöíúãó¡ æóÚóáóì Âáö ö ÅöÈúÑóÇåöíúãó¡ Åöäóøßó ÍóãöíúÏñ ãóÌöíúÏñ.
Çááåã ÃóÚöÒóø ÇáúÅöÓúáÇóãó æóÇáúãõÓúáöãöíúäó¡ æóÃóÐöáóø ÇáÔöøÑúßó æóÇáúãõÔúÑößöíúäó. ÑóÈóøäóÇ ÇÕúÑöÝú ÚóäóøÇ ÚóÐóÇÈó Ìóåóäóøãó Åöäóø ÚóÐóÇÈóåóÇ ßóÇäó ÛóÑóÇãðÇ¡ ÅöäóøåóÇ ÓóÇÁÊú ãõÓúÊóÞóÑðøÇ æóãõÞóÇãðÇ. ÑóÈóøäóÇ ÇÛúÝöÑú áóäóÇ æóáöÅöÎúæóÇäöäóÇ ÇáóøÐöíúäó ÓóÈóÞõæúäóÇ ÈöÇáúÅöíúãóÇäö¡ æóáóÇ ÊóÌúÚóáú Ýöí ÞõáõæúÈöäóÇ ÛöáÇðø áöáóøÐöíúäó ÂãóäõæúÇ ÑóÈóøäóÇ Åöäóøßó ÑóÄõæúÝñ ÑóÍöíúãñ. Çááåã ÅöäóøÇ äóÓúÃóáõßó ãöäú ÎóíúÑö ãóÇ ÓóÃóáóßó ãöäúåõ äóÈöíõøßó ãõÍóãóøÏñ Õóáóøì Çááå Úóáóíúåö æóÓóáóøãó æóäóÚõæúÐõ Èößó ãöäú ÔóÑöø ãóÇ ÇÓúÊóÚóÇÐó ãöäúåõ äóÈöíõøßó ãõÍóãóøÏñ Õóáóøì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáóøãó¡ æóÃóäúÊó ÇáúãõÓúÊóÚóÇäõ¡ æóÚóáóíúßó ÇáúÈóáóÇÛõ¡ æóáóÇ Íóæúáó æóáóÇ ÞõæóøÉó ÅöáóøÇ Èááå
æóÂÎöÑõ ÏóÚúæóÇäóÇ Ãóäö ÇáúÍóãúÏõ ááå ÑóÈöø ÇáúÚóÇáóãöíúäó. .



(Sumber: Dikutip dari buku "Kumpulan Khutbah Jum’at Pilihan Setahun," Edisi Kedua, Darul Haq, Jakarta)

Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php/?pilih=lihatkhutbah&id=287