Artikel : Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits
MEMPERBANYAK MENGINGAT MATI
Rabu, 02 Desember 09
Oleh: Izzudin Karimi, Lc

KHUTBAH PERTAMA :


ǡ .



.

: ǡ . .


Hadirin Jama\'ah Jum\'at Rahimakumullah

Dunia tidak abadi, ia berujung dan berakhir, sama halnya dengan penghuninya, manusia. Kontrak hidupnya juga terbatas. Selama-lamanya orang hidup, ia pasti berakhir dengan kematian-nya. Ya, kematian adalah akhir dari yang hidup, termasuk manusia. Tidak ada tempat berlari dan bersembunyi dari kematian. Orang bisa saja berlari dari sesuatu dengan meninggalkannya di balik punggungnya kecuali kematian, dia berlari darinya tetapi justru ia menghadang di depannya, bersembunyi di balik benteng yang ko-koh. Mendaki langit dengan alat canggih tidak bisa menghindarkan seseorang dari kematian. Firman Allah Subhanahu Wataala :



\"Katakanlah, \'Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripada-nya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemuimu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan\". (Al-Jumu\'ah: 8).
Firman Allah Subhanahu Wataala :




\"Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, ken-datipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.\" (An-Nisa`: 78).

Ajal kematian setiap manusia telah ditulis oleh Allah pada saat dia masih berupa janin di dalam rahim ibunya dalam umur seratus dua puluh hari, kematian itu ditulis bersamaan dengan rizki, amal, kebahagiaan, dan kesengsaraannya. Apabila ajal ter-sebut tiba, maka ia tiba tepat waktu, tidak mungkin ditunda atau disegerakan sesaat pun. Apabila ajal tiba, maka ia tiba di bumi mana pun orang tersebut berada, tanpa dia ketahui.



\"Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati.\" (Luqman: 34).

Bahkan mungkin yang bersangkutan tidak di bumi tetapi di udara atau di laut. Apabila ajal tiba, maka ia tiba apa pun penye-babnya; sakit, kecelakaan lalu lintas, dibunuh orang, tenggelam, bencana alam, dan lain-lain. Semua itu hanya penyebab kematian, bahkan ada orang yang mati tanpa didahului oleh sebab; kata orang, mati mendadak. Dia tidur, ternyata itu menjadi tidur panjangnya. Dia duduk di meja kantor, ternyata dia tidak lagi berdiri tetapi di-angkat ke ranjang pemandian. Semua itu penyebabnya hanya satu, kematian.

Hadirin Jama\'ah Jum\'at Rahimakumullah

Seandainya kematian adalah akhir segalanya, maka perkara-nya sangatlah mudah, ringan, dan remeh, akan tetapi tidak demi-kian, justru ia merupakan awal bagi babak kehidupan baru yang hanya memiliki dua kemungkinan yang tidak mungkin dirubah; kesengsaraan dan tangisan abadi atau kebahagiaan dan senyuman abadi, di mana kedua pilihan ini tergantung kepada apa yang kita tanam di alam dunia. Oleh karena itu, ketika seseorang didatangi ajalnya, dia merasa tidak mungkin selamat darinya, dia mengeta-hui seberapa jauh usaha menanam yang dilakukannya semasa hidup. Maka dalam kondisi tersebut dia pasti berharap diberi peluang dan kesempatan kedua guna menambal kelengahan dan memper-baiki yang rusak, akan tetapi nasi sudah menjadi bubur. Waktu yang berlalu tidak mungkin diputar ulang dan penyesalan selalu datang di belakang.

Firman Allah Subhanahu Wataala :



.

\"Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata, \'Ya Rabbku, mengapa Engkau tidak menang-guhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shalih?\' Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) sese-orang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.\" (Al-Munafiqun: 10-11).

Firman Allah Subhanahu Wataala :



.

\"(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, \'Ya Rabbku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang shalih terhadap yang telah aku tinggalkan.\' Sekali-kali tidak. Sesungguh-nya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan.\" (Al-Mu`mi-nun: 99-100).

Dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu, dia berkata :


: ǿ : : ǡ ǡ .

\"Telah datang seorang laki-laki kepada Nabi, dia berkata, \'Ya Rasu-lullah, sedekah apakah yang paling besar pahalanya?\' Rasulullah menjawab, \'Kamu bersedekah dalam keadaan sehat, mencintai harta, takut miskin, dan berharap kaya, jangan menunda-nunda sehingga ketika nyawa sampai di kerongkongan kamu berkata, \'Untuk fulan ini, untuk fulan ini,\' padahal ia telah menjadi miliknya\'.\" (Muttafaq alaihi. Mukhtashar Shahih al-Bukhari, no. 680 dan Mukhtashar Shahih Muslim, no. 538).

Hadirin Jama\'ah Jum\'at Rahimakumullah

Agar penyesalan seperti ini tidak terjadi pada kita, maka yang mesti kita lakukan adalah memanfaatkan detik-detik umur dengan mengisinya dengan kebaikan, karena itulah satu-satunya bekal bagi kita di perjalanan panjang, di mana awalnya adalah kematian. Di sinilah letak pentingnya seorang Muslim selalu mengingat kema-tian. Ya, dengan mengingat kematian, lebih-lebih memperbanyak-nya, mendorong seorang Muslim untuk berbekal, karena dia me-nyadari dirinya akan mati.

Karena hikmah inilah, maka Rasulullah mengajak kita mem-perbanyak mengingat kematian.

Dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu, ia berkata, Rasulullah Sallallahu Alahi Wasallam bersabda :


.

\"Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, yakni kematian.\" (HR. at-Tirmidzi, no. 2308 dan Ibnu Majah, no. 4258, dishahih-kan oleh Syu\'aib al-Arna`uth dalam Tahqiq Riyadh ash-Shalihin, hadits no. 579).

Memperbanyak mengingat mati berarti memperbanyak amal kebaikan. Orang yang tidak beramal baik atau dia berbuat buruk berarti tidak ingat dirinya akan mati. Imam ad-Daqqaq berkata, \"Barangsiapa memperbanyak mengingat mati, dia dikaruniai tiga perkara: Menyegerakan taubat, hati yang qana\'ah, dan semangat beribadah.\" (At-Tadzkirah, al-Qurthubi 1/23). Lalu faktor-faktor apa sajakah yang membantu seorang Muslim agar dia tidak melupakan kematian?

Hadirin Jama\'ah Jum\'at Rahimakumullah

Pertama : Ziarah kubur
Ia merupakan faktor penting yang mengingatkan seseorang akan mati, penziarah akan menyadari bahwa dirinya akan menyu-sul dalam waktu yang tidak jauh, nasibnya akan sama dengan orang-orang yang diziarahinya. Keadaan ini membuatnya bersiap diri sebaik mungkin untuk menghadapinya.

Dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu, berkata :


: ǡ ǡ .

\"Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam berziarah ke kuburan ibunya. Beliau menangis se-hingga membuat orang-orang yang bersamanya menangis pula. Beliau Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda : Aku meminta izin kepada Rabbku untuk memohon ampun buat ibuku tetapi Dia tidak mengizinkanku. Dan aku meminta izin untuk berziarah ke kuburnya dan Dia mengizinkanku. Maka berziarah kuburlah, karena ia mengingatkan mati.\" (HR. Muslim. Mukhtashar Shahih Muslim, no. 495).

Imam al-Qurthubi dalam at-Tadzkirah, 1/28 berkata, \"Para ula-ma berkata, \'Tidak ada sesuatu yang lebih bermanfaat bagi hati dari-pada ziarah kubur, lebih-lebih jika hati tersebut membatu.\"

Hadirin Jama\'ah Jum\'at Rahimakumullah

Kedua : Melihat sakaratul maut dan merenungkannya.
Sakaratul maut adalah saat-saat yang berat bagi seorang Muk-min, karena inilah momen yang menentukan baginya, apakah dia meraih husnul khatimah atau sebaliknya su`ul khatimah. Marilah kita menyimak gambaran sakaratul maut yang dipaparkan oleh al-Qur`an. Firman Allah Subhanahu Wataala :


. . . .

\"Sekali-kali jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sam-pai ke kerongkongan, dan dikatakan (kepadanya), \'Siapakah yang dapat menyembuhkan?\' Dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia), dan bertautnya betis (kiri) dan betis (kanan), kepada Rabbmulah pada hari itu kamu dihalau.\" (Al-Qiyamah: 26-30).

Setelah itu renungkanlah sakaratul maut yang dialami oleh Rasulullah seperti yang dijelaskan dalam dua hadits berikut,

Dari Aisyah Radhiallahu Anha, ia berkata :


... : . : . .

\"... lalu Rasulullah memasukkan tangannya ke dalam air dan me-ngusap wajahnya. Beliau bersabda, \'La ilaha illallah, sesungguhnya maut itu mempunyai sekarat.\' Kemudian beliau menegakkan tangan-nya dan bersabda, \'Ya Allah di ar-Rafiqil a\'la.\' Sampai Rasulullah wafat dan tangannya terkulai.\" (HR. al-Bukhari. Mukhtashar Shahih al-Bukhari, no. 1626).

Dari Anas Radhiallahu Anhu, ia berkata :


: : .

\"Ketika sakit Rasulullah semakin berat, beliau pingsan. Fatimah berkata, \'Betapa berat bebanmu wahai ayahku.\' Rasulullah menjawab, \'Setelah hari ini ayahmu tidak akan memikul beban berat itu\'.\" (HR. al-Bukhari. Mukhtashar Shahih al-Bukhari, no. 1628).

Sekarang marilah kita lihat potret sakaratul maut orang-orang zhalim seperti yang dipaparkan oleh al-Qur`an di dalam Firman Allah Subhanahu Wataala :



\"Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zhalim berada dalam tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata), \'Keluar-kanlah nyawamu\". (Al-An\'am: 93).

Jika manusia mengetahui dahsyatnya sakaratul maut, dia pas-ti akan berlari menghindar darinya, akan tetapi ke manakah tempat berlari?



\"Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya.\" (Qaf: 19).

Gambaran sakaratul maut seperti ini, belum cukupkah untuk dapat membangunkan kita dari kelalaian panjang, agar kita menga-dakan persiapan untuk menghadapinya? Semoga gambaran di atas sudah cukup membangunkan kita.

Hadirin Jama\'ah Jum\'at Rahimakumullah

Lalu apa setelah itu? Alam kubur dengan kesempitan dan kegelapannya, lebih dari itu adalah fitnahnya yang tidak ringan, ia mendekati atau menyamai fitnah Dajjal lalu kubur itu menjadi kubangan neraka atau taman surga.

Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda :


: - - - : ǡ ǡ : ǡ . - : .

\"Tidak ada sesuatu yang belum diperlihatkan kepadaku kecuali aku melihatnya di tempatku (sekarang ini) bahkan surga dan neraka. Diwahyukan kepadaku bahwa kalian akan diuji di kubur kalian -seperti atau mirip, aku tidak tahu mana yang diucapkan Asma`- fitnah al-Masih Dajjal. Dikatakan, \'Apa yang kamu ketahui tentang laki-laki ini?\' Maka orang Mukmin atau orang yang yakin, -aku tidak tahu mana yang dikatakan Asma`-, dia menjawab, \'Dia adalah Muhammad Rasulullah, dia datang kepada kami dengan (membawa) penjelasan dan petunjuk. Lalu kami menjawab ajakannya dan mengi-kutinya, dia Muhammad.\' Sebanyak tiga kali. Maka dikatakan ke-padanya, \'Tidurlah dengan baik, kami tahu kamu meyakininya.\' Adapun orang munafik atau orang yang bimbang, -aku tidak tahu mana yang dikatakan Asma`-, maka dia menjawab, \'Aku tidak tahu, aku mendengar orang-orang mengatakan sesuatu, maka aku menirukannya\". (HR. al-Bukhari dari Asma` binti Abu Bakar. Mukh-tashar Shahih al-Bukhari, no. 75).

Ketiga : Melihat orang-orang mati
Melihat orang-orang mati menyadarkan kita akan kematian. Sekarang si ini dan si itu, lalu siapa tahu besok adalah giliran kita? Orang yang berbahagia adalah orang yang mengambil pelajaran dari orang lain.

Imam al-Qurthubi di at-Tadzkirah fi Ahwal al-Mauta wa Umur al-Akhirah (1/61-63) menyebutkan beberapa peristiwa kematian yang mengandung banyak pelajaran. Ada seorang calo di ambang ajal, dikatakan kepadanya, \"Ucapkanlah la ilaha illallah.\" Dia menjawab, \"3 , 4 ,\" dan dia pun mati dengan ucapannya itu. Ada seorang pemabok, ketika ajal menjemput dikatakan kepadanya, \"Hai fulan ucapkanlah la ilaha illallah.\" Dia menjawab, \"Ayo minum. Beri aku minum.\" Dan dia mati dalam kondisi itu. Begitulah orang-orang dengan ambisi dan keinginan dunia semata, itulah yang me-reka ingat, sampai-sampai pada saat ajal menjemput, mereka masih disibukkan dengan urusan dunia mereka.

Hadirin Jama\'ah Jum\'at Rahimakumullah

Sudah terlalu sering kita mendenar berita, bahkan hampir se-tiap hari, tentang kematian yang tiba-tiba; pesawat terbang jatuh, kapal laut terhempas ombak, gempa tiba-tiba mengguncang bumi dan meruntuhkan bangunan, lalu longsor dan sebagainya, yang semuanya dengan begitu mudah mengambil hidup orang-orang yang mungkin tak pernah mengiranya akan terjadi. Khatib berta-nya, \"Adakah mereka mengetahui dan menyadari bahwa hidup mereka akan berakhir dengan cara tersebut?\" Itulah kematian. Ada-kah kita mengambil pelajaran? Semoga.



. .


KHUTBAH KEDUA :



:
. :


Faktor Keempat : Memahami hakikat kehidupan dunia dan hakikat kehidupan Akhirat.
Dengan pemahaman yang benar terhadap dunia, seseorang bisa mengambil sikap yang benar pula terhadapnya, dia tidak akan tertipu dan terlena olehnya, sebaliknya dia juga tidak mencampak-kannya mentah-mentah seolah-olah ia adalah musuh besar yang tidak ada kebaikannya sama sekali.

Untuk memahami hakikat dunia kita perlu melihatnya melalui Firman Allah dan sabda Rasulullah yang shahih; padanya terdapat keterangan yang lebih dari cukup. Dari ayat-ayat dan hadits-hadits tentang dunia, maka khatib bisa simpulkan bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara, ibarat bayangan sebuah pohon, kebahagiaan dan kesengsaraannya tidak abadi, remeh tidak berarti apa pun di hadapan Allah, ia indah dan menarik, oleh karena itu banyak orang tertipu olehnya, akan tetapi apa pun keadaannya yang penting bagi seorang Muslim kehidupan dunia adalah kehidupan beramal, maka dia pun mengambil darinya sekedar untuk bisa menopangnya ber-amal demi alam Akhirat dan tidak terbersit di dalam benaknya untuk hidup lama. Inilah petunjuk Rasulullah kepada Abdullah bin Umar. Dari Abdullah bin Umar Radhiallahu Anhuma, ia berkata :


: . : .

\"Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam menepuk pundakku seraya bersabda, \'Jadilah kamu di dunia seperti orang asing atau orang lewat.\' Ibnu Umar berkata, \'Apabila kamu mendapatkan waktu sore, maka jangan menunggu pagi. Apabila kamu mendapatkan waktu pagi, maka jangan menung-gu sore, manfaatkan sehatmu sebelum sakitmu dan hidupmu sebelum matimu\'.\" (HR. al-Bukhari, Mukhtashar Shahih al-Bukhari, no. 1998).

Hadirin Jama\'ah Jum\'at Rahimakumullah

Sebaliknya kekeliruan pandang terhadap dunia membuatnya lengah dan lalai dari kematian, dia menumpuk dan berlomba dalam perkara dunia, dia memiliki harapan panjang tetapi ternyata garis ajal lebih pendek daripada harapannya. Firman Allah Subhanahu Wataala :



.

\"Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur\". (At-Takatsur: 1-2).

Dari Anas bin Malik Radhiallahu Anhu, dia berkata :


ǡ : .

\"Nabi membuat beberapa garis, beliau bersabda, \'Ini adalah harapan (hidup) dan ini adalah ajalnya. Ketika dia dalam kondisi tersebut tiba-tiba garis pendek mendatanginya\". (HR. al-Bukhari, no. 6418).

Yang dimaksud dengan garis pendek adalah ajal.
Setelah kita mengetahui bagaimana kehidupan dunia dan bagaimana menyikapinya lalu bagaimana kehidupan akhirat? Ke-hidupan akhirat adalah kehidupan yang sesungguhnya, Firman Allah Subhanahu Wataala :




\"Dan sesungguhnya Akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan.\" (Al-Ankabut: 64).

Simaklah perbandingan akhirat dengan dunia seperti yang dijelaskan oleh Rasulullah di mana beliau bersabda :


- - .

\"Demi Allah, dunia dibandingkan dengan akhirat tidak lain seperti salah seorang darimu mencelupkan jarinya ini dan Yahya memberi isyarat dengan telunjuknya ke laut. Lihatlah air yang menempel di jarinya.\" (HR. Muslim dari al-Mustaurid bin Syaddad, Mukh-tashar Shahih Muslim no. 2082).

Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda :


.

\"Ya Allah, sesungguhnya kehidupan adalah kehidupan akhirat.\" (HR. al-Bukhari dari Anas, Mukhtashar Shahih al-Bukhari no. 1167).
Di penghujung khutbah ini tidak lupa khatib menyampaikan shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad yang telah membawa kita ke jalan yang Allah Subhanahu Wataala ridhai.




. .
. . . . .



( Dikutip dari buku : kumpulan Khutbah Jumat Pilihan Setahun Edisi Kedua, Darul Haq, Jakarta. Diposting oleh Wandy Hazar Z)

Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php/?pilih=lihatkhutbah&id=192