Artikel : Kajian Islam - Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits - ,

Pendidikan Anak Dalam Islam
oleh :

DALIL KEDELAPAN: PEMBAHASAN DAN BANTAHANNYA

Maliki menyebutkan dalil kedelapan, dengan berkata,
Upaya balas budi kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bisa dilakukan dengan menunaikan sebagian kewajiban kita terhadap beliau. Misalnya, menjelaskan sifat-sifat sempurna dan akhlak mulia beliau. Dulu, para penyair menghadap Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk membela beliau dengan syair-syair mereka. Beliau merestui karya mereka dan memberi imbalan berupa hal-hal baik kepada mereka. Jika beliau ridha pada orang yang memuji beliau, bagaimana beliau tidak ridha pada orang yang menghimpun akhlak-akhlak utama beliau. Itu jelas upaya mendekat kepada beliau dengan upaya meraih cinta dan keridhaan beliau.

Kita punya beberapa catatan untuk Maliki terkait dengan dalilnya di atas.

Catatan Pertama:

Maliki mengatakan upaya balas budi kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bisa dilakukan dengan menunaikan sebagian kewajiban kita terhadap beliau.

Allah Taala menyuruh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda kepada manusia kalau beliau tidak minta imbalan uang atas penyampaian risalah yang beliau lakukan, karena imbalannya ada pada Allah. Allah Taala berfirman,
[/57]
Katakan, Aku tidak meminta upah sedikit pun kepada kalian dalam menyampaikan risalah itu, melainkan (mengharapkan kepatuhan) orang-orang yang mau mengambil jalan kepada Tuhannya. (Al-Furqan: 57).

Allah Taala berfirman,
[/47]
Katakan, Upah apa pun yang aku minta kepada kalian, maka itu untuk kalian. Upahku hanyalah dari Allah, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (Saba: 47).

Allah Taala berfirman,
[/104]
Dan kamu sekali-kali tidak meminta upah kepada mereka (terhadap seruanmu ini), itu tidak lain hanyalah pengajaran bagi semesta alam. (Yusuf: 104).

Dan ayat-ayat lain yang semakna. Jadi, Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam itu rasul Allah. Dia mengutusnya membawa risalah, menyuruh beliau menyampaikan risalah tersebut, menjanjikan pahala besar saat bertemu dengan-Nya, dan menyuruh beliau memberi penjelasan kepada umat bahwa beliau tidak minta gaji dan ucapan terima kasih pada mereka. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam seperti rasul-rasul lainnya yang profil hidup mereka disebutkan di Al-Quran. Cara mereka menyampaikan risalah kepada kaumnya masing-masing juga disinyalir Allah. Mereka semua bicara terus terang kepada kaumnya masing-masing bahwa mereka tidak minta gaji dan ucapan terima kasih dari kaumnya sebagai imbalan atas penyampaian risalah kepada mereka. Balasan para rasul ada pada Allah. Allah Taala berfirman mengisahkan salah seorang rasul,
[/51]
Hai kaumku, aku tidak minta upah kepada kalian bagi seruanku ini. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah yang telah menciptakanku. Maka tidakkah kalian memikirkan (nya)? (Huud: 51).

Allah Taala berfirman,
[ /144]
Muhammad tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. (Ali Imran: 144).

Tidak diragukan, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam punya jasa besar pada kita selaku umat beliau. Kita cinta beliau melebihi cinta kita kepada diri kita dan keluarga. Tapi, cinta beliau itu tidak pada hal-hal yang beliau benci dan hal-hal yang merupakan hak prerogatif Allah, misalnya hak menciptakan, mengatur, dan disembah.

Cinta Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak berarti mengangkat beliau ke posisi rububiyah dan uluhiyah. Itu syirik kepada Allah. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berada di Makkah selama tiga belas tahun, guna memerangi syirik kepada Allah dan mengajak manusia mentauhidkan Allah dalam uluhiyah, rububiyah, asma dan sifat-Nya.

Betul sekali, perayaan Maulid bukan bukti balas budi kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Justru, merupakan bidah, karena tidak pernah beliau perintahkan dan beliau benci perayaan semacam itu. Jika perayaan Maulid disertai kemungkaran, syirik, dan khurafat yang merupakan kebutuhan setiap perayaan Maulid seperti telah dijelaskan sebelumnya, maka bidah tersebut berubah statusnya menjadi hari raya jahiliyah. Andai Rasulullah shallallahu alaihi wasallam masih hidup, beliau pasti memerangi para penyelenggara perayaan Maulid. Beliau mengecam keras salah seorang sahabat yang berkata, Apa yang dikehendaki Allah dan Engkau kehendaki. Beliau bersabda, Apakah engkau hendak menjadikanku rival Allah? Katakan, Apa yang dikehendaki Allah saja.

Cinta Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berarti mengikuti Sunnah beliau, meneladani beliau, mengambil ibrah dari kehidupan beliau dan kehidupan para sahabat sepeninggal beliau. Allah Taala berfirman,
[/7]
Apa yang diberikan Rasul kepada kalian maka terimalah dan apa yang dilarangnya pada kalian maka tinggalkan. (Al-Hasyr: 7).

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, Setiap dari kalian tidak beriman, hingga hawa nafsunya mengikuti apa saja yang aku bawa. (Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim).

Dan dalil-dalil lain, yang menegaskan bahwa mencintai Rasulullah shallallahu alaihi wasallam itu tidak dengan berlebihan menyebutkan kepribadian beliau, atau menyanjung beliau hingga melewati batas kewajaran, atau menisbatkan perbuatan-perbuatan Allah kepada beliau.

Dengan niat jujur mengikuti Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kita katakan bahwa kita cinta, menghormati beliau, dan mempersembahkan hal-hal seperti itu bukan sebagai bentuk balas budi kita kepada beliau. Imbalan beliau ada pada Allah. Hanya Allah yang membalas beliau atas kerja beliau menyampaikan risalah, menunaikan amanah, dan menasihati umat, dengan balasan paling baik dan sempurna, karena Dia Mahakuasa atas itu semua.

Catatan Kedua:

Maliki mengatakan para penyair menyediakan diri sebagai pembela Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan syair-syair mereka dan beliau merestui upaya mereka.

Betul, Hassan bin Tsabit menjadi pembela Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Beliau sendiri memberi kesaksian bahwa syair Hassan bin Tsabit kepada orang-orang musyrik lebih tajam dari pedang. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam juga dipuji Kaab bin Zuhair, Abdullah bin Rawahah, dan sahabat-sahabat lainnya. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam senang dengan pujian mereka. Kita berdoa kepada Allah agar memberi pahala kepada siapa saja yang memuji Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan pujian yang sesuai dengan kedudukan beliau sebagai nabi dan rasul, karena beliau berhak mendapatkannya. Beliau punya prestasi mengagumkan saat menyampaikan risalah Allah dan bersabar terhadap apa saja yang beliau alami: kelelahan, penghinaan, gangguan, dan dituduh gila, hingga Allah menyempurnakan agama dan nikmat-Nya pada beliau, serta manusia berbondong-bondong masuk Islam. Jika membaca dalil Maliki ini, saya jadi ingat perkataan seorang penyair,

Tidakkah Anda lihat pedang itu berkurang kehebatannya
Jika dikatakan lebih tajam dari tongkat?

Kita tidak habis pikir dengan Maliki dan otaknya! Bagaimana ia menganalogikan pujian para sahabat kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan pujian para pecinta perayaan Maulid, semisal Al-Bushairi, Al-Bakri, dan lain-lain yang menjadikan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sebagai pesaing Allah, dalam hal pengetahuan tak terbatas, kemampuan memberi manfaat atau madharat, kepemilikan kunci-kunci langit dan bumi, serta sifat-sifat khusus Allah lainnya. Misalnya perkataan,

Hai orang paling mulia, aku tidak punya tempat berlindung
selain kepadamu saat terjadi musibah
Jika pada hari kiamat, engkau tidak memegang tanganku sebagai bentuk kemuliaan
Maka katakan, hai orang yang celaka
Di antara bukti kedermawananmu ialah dunia dan seisinya
Dan di antara pengetahuanmu ialah pengetahuanmu tentang Lauh Mahfud dan pena.

Atau perkataan,
Allah tidak pernah atau tidak sedang mengutus rahmat
yang naik atau turun
Di kerajaan langit atau kerajaannya
Di hal-hal khusus atau umum
Melainkan Muhammad hamba-Nya
Nabi-Nya dan rasul pilihan
Ia penengah dan asal usul rahmat
Ini diketahui siapa saja yang berakal
Dan menyerunya bahwa krisis telah terjadi
Dan masa-masa sulit tengah melanda
Hai orang paling mulia di sisi Tuhannya
Dan orang paling baik dijadikan sarana berdoa
Aku menderita sakit
Engkau seringkali menghilangkan petaka
Dan sebagiannya hilang sendiri
Hilangkan penyakitku dengan segera
Jika tidak, kepada siapa aku meminta?

Dan perkataan lain meratapi Nabi shallallahu alaihi wasallam,
Ketika kulihat zaman memerangi manusia
Kujadikan sandal tuannya sebagai benteng diriku
Aku berlindung darinya di tempat indah
Di benteng kokoh
Dan, saya pun mendapatkan ketenangan di bawah naungannya.

Demi Tuhanmu, hai Maliki, apakah engkau tidak malu menjadikan pujian-pujian picisan seperti ini yang tidak lain ajakan syirik kepada Allah dalam rububiyah dan uluhiyah, jahiliyah, dan paganisme buta, menjadikannya sekelas dengan syair-syair Hassan bin Tsabit, Abdullah bin Rawahah, Kaab bin Zuhair, dan lain-lain yang jujur imannya dan adil ketika memuji serta tegas terhadap orang-orang kafir?

Seandainya syair-syair Maulid-mu seperti itu engkau haturkan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka beliau tidak cukup menabur tanah ke mulut orang-orang yang melantunkannya, tapi memerangi mereka, seperti halnya beliau memerangi Abu Jahal, Abu Lahab, dan pentolan-pentolan kafir lainnya.

Mahasuci Allah. Hai Maliki, bagaimana kok sama menurut Anda antara kegelapan dengan cahaya dan antara tauhid murni dengan kekafiran nyata. Padahal Anda sendiri mengklaim pakar segala hal? Sungguh, hawa nafsu itu membutakan dan menulikan. Wahai Tuhan kami, jangan sesatkan kami setelah Engkau memberi petunjuk kepada kami.

Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php/?pilih=indexkajian&id=1§ion=kj001