Artikel : Hadits - Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits

Mungkinkah Hari ARAFAH Berbeda..?

Kamis, 25 September 14

KEUTAMAAN HARI ARAFAH

Sesungguhnya hari-hari berlalu dengan cepat, bulan dan tahun berjalan dengan singkat, hingga habislah umur dan sampailah ajal. Dan Allah mengutamakan di antara waktu-waktu tersebut satu sama lain, di antaranya ada momen untuk kebaikan, waktu untuk ketaatan, waktu dilipatgandakannya amalan, dan waktu di mana kesalahan dihapuskan. Di antara momen-momen yang agung kedudukannya dan besar pahalanya adalah hari Arafah. Banyak sekali nash-nash dari al-Quran maupun al-Hadits yang menjelaskan keutamaan hari Arafah, di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Hari Arafah adalah salah satu hari yang berada pada Asyhurul hurum (bulan mulia), Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:


( ) [ : 36]

Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya empat bulan haram. (QS. At-Taubah:36)

Bulan-bulan haram itu adalah: dzulqadah, dzulhijjah, muharram dan rajab. Dan hari Arafah merupakan salah satu hari dalam bulan dzulhijjah.

2. Hari Arafah adalah salah satu hari yang berada pada bulan-bulan haji, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:


( ) [ : 197]

(Musim) Haji itu (pada) bulan-bulan yang telah dimaklumi/diketahui(QS. Al-Baqarah: 197)

Bulan-bulan yang dimaklumi tersebut atau yang dikenal dengan bulan-bulan haji adalah: syawwal, dzulqadah, dzulhijjah.

3. Hari Arafah adalah salah satu hari dari hari-hari yang dimaklumi (diketahui), yang Allah Subhanahu wa Ta'ala memujinya di dalam al-Quran. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:


( ) [ :28]

Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat untuk mereka dan agar mereka menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan.(QS. Al-Hajj:28)

Ibnu Abbas radhiyallahu'anhuma berkata:Hari-hari yang ditentukan adalah sepuluh hari dzulhijjah.

4. Hari Arafah adalah salah satu hari dari sepuluh hari yang Allah Subhanahu wa Ta'ala bersumpah dengannya, dalam rangka mengingatkan hamba-Nya tentang keagungan dan ketinggian kedudukan hari-hari tersebut. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:


( ) [ :2]

Dan demi malam-malam yang sepuluh. (QS. Al-Fajr: 2)

Ibnu Abbas radhiyallahu'anhuma berkata:Hari-hari itu adalah sepuluh hari di bulan dzulhijjah. Ibnu Katsir berkata:Dan itu adalah benar.

5. Hari Arafah adalah salah satu hari dari sepuluh hari yang utama di mana amal shalih pada hari-hari tersebut lebih baik daripada hari-hari selainnya. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:


( - : - - ) .

Tidak ada amalan yang lebih suci di sisi Allah Azza wa Jalla dan tidak pula lebih besar pahalanya melebihi kebaikan yang ada pada sepuluh hari Idhul Adha. Dikatakan kepada beliau: Tidak pula jihad fi sabilillah?Beliau menjawab:Tidak pula jihad fi sabilillah, kecuali seseorang yang pergi berjihad dengan jiwa dan hartanya, lalu dari jihad itu dia tidak pulang lagi dengan membawa suatu apapun.(HR.ad-Darimi dan dihasankan sanadnya oleh Syaikh Muhammad Nashiruddiin al-Albani rahimahullah di dalam kitab Irwaul Ghalil)

6. Arafah, adalah hari di mana Allah Subhanahu wa Ta'ala menyempurnakan agama ini. Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu berkata:Sesungguhnya salah seorang laki-laki Yahudi berkata:Wahai Amirul Mukminin, satu ayat dalam kitab kalian yang kalian baca, seandainya ayat itu turun kepada kami (orang-orang Yahudi) maka sungguh akan kami jadikan hari itu sebagai hari raya. Umar berkata:Ayat apa itu? Dia membaca firman Allah:


( ) [ :3]

Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu.(QS. Al-Maaidah: 3)

Umar radhiyallahu 'anhu berkata:Sungguh aku tahu hari itu, hari yang di dalamnya diturunkan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam keadaan beliau berada di hari Arafah dan bertepatan dengan hari jumat.

7. Puasa Arafah, telah datang riwayat tentang keutamaan puasa hari Arafah, padahal hari tersebut adalah termasuk salah satu hari dari sembilan hari Dzulhijjah yang dianjurkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam untuk berpuasa di dalamnya. Dari Hunaidah bin Khalid radhiyallahu 'anhu dari istrinya dari sebagian istri-istri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata:


( : ) .

Adalah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berpuasa pada hari kesembilan bulan dzulhijjah, hari Asyuraa dan tiga hari setiap bulan: hari senin setiap awal bulan dan hari dua hari kamis.(Dishahihkan oleh al-Albani rahimahullah dalam kitab Shahih Abu Dawud)

Sebagaimana datang riwayat yang menjelaskan keutamaan puasa Arafah secara khusus. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda ketika ditanya tentang puasa Arafah:


)

Menghapus dosa tahun lalu dan tahun yang akan datang. (HR. Muslim rahimahullah dalam kitab Shahihnya)

Puasa ini adalah bagi orang yang tidak sedang berhaji, adapun orang yang sedang berhaji maka tidak disunnahkan baginya puasa, karena hari arafah adalah hari raya bagi ahli mauqif (orang yang wukuf di Arafah)

8. Dia adalah hari raya bagi orang yang wukuf, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:


( )

Hari Arafah, hari nahar (menyembelih), dan hari-hari mina (tasyriq) adalah hari raya kita umat Islam.(HR. Abu Dawud dan dishahihkan oleh al-Albani rahimahullah)

9. Agungnya doa pada hari Arafah, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:


( ) .

Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah. (dishahihkan oleh al-Albani dalam kitab Silsilah ash-Shahihah)

Ibnu Abdil Bar rahimahullah berkata:Dalam hal ini ada dalil tentang keutamaan hari Arafah dibandingkan hari lainnya.

10. Banyaknya pembebasan dari Neraka pada hari Arafah, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:


( ) .

Tidak ada hari yang Allah lebih banyak membebaskan hamba-Nya dari Neraka pada hari itu melebihi hari Arafah. (HR. Muslim di dalam Shahihnya)

11. Allah membanggakan ahli Arafah (orang-orang yang wukuf di sana) di hadapan penghuni langit (malaikat), Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:


( ) .

Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala membanggakan ahli Arafah di hadapan penduduk langit.(HR. Ahmad, dishahihkan sanadnya oleh Syaikh al-Albani rahimahullah)

12. Takbir, para ulama menyebutkan bahwa takbir pada hari-hari tersebut terbagi menjadi dua macam:

Takbir muqayyad yaitu yang dilakukan setelah selesai shalat wajib lima waktu, dan dimulai pada shubuh hari Arafah. Ibnu Hajar rahimahullah berkata di dalam Fathul Bari: Tidak ada satu pun hadits yang shahih dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dalam masalah ini, dan yang paling shahih yang datang dari riwayat shahabat adalah perkataan Ali bin Abi Thalib dan Ibn Masud radhiyallahu'anhuma bahwasanya hal itu (takbir muqayyad) dimulai dari shubuh hari Arafah sampai akhir hari hari Mina (tasyrik).

Adapun takbir mutlak, adalah dilakukan setiap saat yang diawali dari hari pertama bulan dzulhijjah, yang mana dahulu Ibnu Umar dan Abu Hurairah radhiyallahu'anhuma keduanya keluar menuju pasar dan bertakbir lalu manusia pun bertakbir dikarenakan takbir mereka berdua. Dan maksudnya adalah mengingatkan manusia untuk berdzikir masing-masing, bukan dzikir dengan berjamaah (bersama-sama).

13. Di dalamnya terdapat rukun haji, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:


( )

Haji adalah Arafah. (Mutaffaq alaihi)

(Diterjemhkan dari "Fadhlu 'Arafah" oleh Dr. Rasyid bin Maidh al-Adwani anggota Haiatu Tadris di Jamiatul Imam fakultas Dakwah di Madinah)

PENENTUAN HARI 'ARAFAH

Perbedaan pendapat seputar penentuan hari Arafah

Para ulama kontemporer berbeda pendapat seputar penentuan hari Arafah apabila mathla (tempat munculnya hilal/bulan sabit) sebagian Wilayah berbeda dengan hari wukuf di Arafah. Ada dua pendapat. Akan disebutkan, insyaa Allah.

Sebab perbedaan pendapat

Perbedaan pendapat bermula dari perbedaan pendapat para Ulama seputar apakah seluruh Wilayah mathlanya (tempat munculnya hilal) itu satu/wihdatul mathla ataukah masing-masing Wilayah memiliki mathala sendiri-sendiri? Kemudian apabila kita mengatakan bahwa masing-masing Wilayah memiliki mathla sendiri-sendiri apakah hal itu berlaku untuk seluruh bulan ataukah dikecualikan dari hal itu bulan dzulhijjah karena dzulhijjah berkaitan dengan ibadah haji dan ibadah haji hanya ada di Makkah ?

Demikian juga yang menjadi sebab perbedaan pendapat dalam masalah ini adalah, apakah Arafah itu nama untuk tempat atau waktu? Apa sebab penamaan Arafah? Dan juga perbedaan mereka dalam menghukumi hadits seputar puasa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pada tanggal 9 dzulhijjah.

Pendapat pertama:

Hari Arafah adalah hari di mana jamaah haji melakukan wukuf di tanah Arafah, dan bahwasanya manusia mengikuti mereka dalam penentuan hari tersebut. Di antara ulama yang merajihkan/menguatkan pendapat ini adalah Lajnah Daimah lil Buhuts al-Ilmiyah wa al-Ifta (komite tetap untuk fatwa Wilayah Saudi Arabia) yang ketika itu dipimpin oleh syaikh Bin Baz rahimahullah, Lajnah al-Ifta al-Mishriyah (komite fatwa Mesir), syaikh Faishal al-Maulawi, syaikh Hisaamuddin Afaanah rahimahumullah, dan syaikh Abdurrahman as-Suhaim hafizhahullah dan lain-lain.

Dalil-dalilnya:

1. Bahwa yang dimaksud dengan hari Arafah adalah hari di mana jamaah haji melakukan wukuf di Arafah. Dalam hal ini ada beberapa riwayat:

a. Dari Atha rahimahullah berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:


Hari Idhul Adha kalian adalah hari di mana kalian berkurban. Dan aku mengira beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:dan hari Arafah adalah hari di mana kalian melakukan wukuf Arafah. (diriwayatkan oleh al-Baihaqi rahimahullah dalam sunan al-kubra 5/176 dan asy-Syafii dalam al-Umm 1/264 dari Atha secara mursal dan dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahihul Jami 4224)

Dan hadits-hadits yang lain.

2. Termasuk hal yang menguatkan bahwa yang dimaksud hari Arafah adalah hari di mana jamaah haji melakukan wukuf adalah disandarkan/dinisbatkannya puasa tersebut dengan hari secara khusus dan langsung, yang mana beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:


( ) ( 1161 )

Puasa hari Arafah (diriwayatkan oleh Imam Muslim rahimahullah 1161 dan selain beliau)

Segi pendalilan : Bahwasanya beliau shallallahu 'alaihi wasallam menyandarkan puasa kepada hari Arafah bukan kepada tanggal sembilan dzulhijjah, dan tidak dinukil dari beliau shallallahu 'alaihi wasallam bahwa beliau shallallahu 'alaihi wasallam menyandarkannya kepada tanggal sembilan. Maka ini menunjukkan bahwa penyandaran ini bisa diperhitungkan (kebenarannya)

3. Sesunnguhnya kaum Muslimin telah Ijma (sepakat) secara amalan semenjak puluhan tahun yang lalu untuk mengikuti jamaah haji (dalam masalah puasa), maka tidak boleh menyelisihi mereka dalam hal itu. Syaikh Hisaamuddin Afaanah rahimahumullah telah menukil dari Syaikh Muhammad Sulaiman al-Asqar perkataan beliau:Sesungguhnya kaum Muslimin di segenap penjuru dunia Islam telah sepakat secara amalan semenjak puluhan tahun lalu untuk mengikuti jamaah haji dalam masalah Idhul Adha dan tidak boleh bagi suatu lembaga ataupun kelompok manusia yang menyelisihi kesepakatan ini.

Syaikh Abdurrahman as-Suhaim hafizhahullah berkata:Tidak dianggap dalam masalah ini perbedaan mathla, karena umat Islam telah sepakat bahwa hari Arafah adalah hari yang telah ditentukan itu, dan biasanya orang yang menyelisihi hal ini tidaklah dia menyelisihinya karena alasan perbedaan mathla, akan tetapi disebabkan masalah politik!!!..!

4. Hadits-hadits yang berkaitan dengan keutamaan puasa Arafah, di antaranya:

hadits riwayat Imam Muslim rahimahullah (1348) dan selainnya dari Aisyah radhiyallahu 'anha berkata:Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:


( ) .

Tidak ada hari yang Allah lebih banyak membebaskan hamba-Nya dari Neraka pada hari itu melebihi hari Arafah. Dan sesungguhnya Dia mendekat lalu membanggakan mereka (orang yang wukuf) di hadapan para Malaikatnya dan berfirman: Apa yang diinginkan oleh mereka? (HR. Muslim di dalam Shahihnya)

Dan hadits-hadits yang lain (lihat pembahasan tentang keutamaan hari Arafah di atas)

5. Mereka berdalil dengan riwayat Ibnu Abi Syaibah rahimahullah dalam al-Mushshanaf (3/97) dari Ibrahim rahimahullah berkata tentang orang yang berpuasa Arafah bagi orang yang tidak wukuf:Apabila di dalamnya ada perbedaan pendapat maka janganlah kalian berpuasa. (sanadnya hasan menurut Syaikh Jibrin rahimahullah)

Pendapat kedua :

Bahwasanya hari Arafah adalah tanggal sembilan (9) dari bulan dzulhijjah, sama saja hal itu bertepatan dengan waktu jamaah haji melakukan wukuf atau tidak, dan bahwasanya setiap daerah memiliki mathla tersendiri. Di antara ulama yang mengambil pendapat ini adalah Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Syaikh Abdullah bin Jibrin rahimahumallah, Dr.Hanii bin Abdullah al-Jubair hafizhahullah, Prof.Dr Ahmad al-Haji al-Kurdi hafizhahullah dan Prof.Dr Khalid al-Musyaiqih hafizhahullah dan lain-lain.

Dalil-dalil pendapat ini:

1. Perbedaan ini adalah cabang dari perbedaan pendapat dalam masalah yang masyhur tentang mathla (tempat munculnya hilal) antara satu wilayah dengan wilayah lain dalam penentuan awal bulan Ramadhan dan Syawwal. Dan yang kuat adalah bahwa masing-masing wilayah memiliki mathla nya masing-masing. Dan dalam hal ini tidak ada perbedaan antara bulan Ramadhan dan bulan-bulan lain, maka apabila boleh terjadi perbedaan dalam masalah puasa Ramadhan dan idul fithri, kenapa tidak boleh ada perbedaan dalam dzulhijjah dan bulan lainnya? (lihat fatwa Syaikh Shalih al-Utsaimin rahimahullah).

Dan anehnya, sekalipun masalah ini sering terjadi namun kita tidak membaca pembahasan ulama terdahulu seputar masalah ini, lebih-lebih perinciaan tentangnya. Mungkin saja Wallahu Alam- disebabkan karena masalah ini adalah cabang dari masalah perbedaan mathla. Bahkan yang lebih mengherankan bahwa para ulama yang mengangap tidak adanya perbedaan mathla seperti madzhab Hanafiah diriwayatkan bahwa mereka menganggap adanya perbedaan mathala dalam bulan dzulhijjah!! Lihat kitab Hasyiyah Radul Mukhtar karya Ibnu Abidin (3/325)

2 .Yang dimaksud dengan hari Arafah adalah hari kesembilan dari bulan dzulhijjah, dan yang dijadikan sandaran adalah penanggalan hijriyah di tempat di mana seseorang itu berada, bukan berdasarkan pada wukufnya jamaah haji di bukit Arafah. Dan inilah yang dikenal dari perbuatan para Ulama ketika memberikan pengertian hari Arafah yang mana mereka menyebutkan bahwa hari Arafah adalah hari kesembilan dari bulan dzulhijjah.(lihat al-Qamus al-Fiqhi dan Mujam Lughatul Fuqahaa dan juga syarah-syarah Kitab Sunnah)

Dan ini (hari Arafah adalah tanggal sembilan) tidak ada perbedaan pendapat di dalamnya. perbedaan hanya terjadi pada sebab penamaan hari Arafah tersebut. Lihat pembahasan masalah ini di al-Mughni (4/442) karya Ibnu Qudamah rahimahullah, lihat pula pendapat-pendapat Ulama tentang sebab penamaan hari Arafah dalam kitab Tafsir ath-Thabari, (2/297), Bahrul Muhith (2/275), ketika menafsirkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:


(( ))

Maka apabila kalian bertolak dari Arafah.(QS. Al-Baqarah: 198)

Demikian juga lihat Lisanul Arab karya Ibnu Manzhur (4/2898)

3 .Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud rahimahullah (2437), Imam Ahmad rahimahullah (2269) Imam an-Nasaai rahimahullah (2372) yang dishahihkan oleh al-Albani rahimahullah dari sebagian istri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata:


) .

Dahulu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berpuasa pada tanggal sembilan dzulhijjah, hari Asyuraa, dan tiga hari setiap bulan yaitu hari senin pada awal bulan dan dua hari kamis.

Segi pendalilan: Bahwa istri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menyebutkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dahulu melakukan puasa pada tanggal sembilan dzulhijjah dan itu tidak diragukan lagi dilakukan oleh beliau sebelum haji Wada. Dan lafazh menunjukkan rutinitas sebuah amalan. Dan tidak sampai kepada kami sebuah riwayat bahwasanya beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersungguh-sungguh untuk mencari tahu tentang kapan waktu wukuf jamaah haji di bukit Arafah di Makkah.

4 .Perkataan Aisyah radhiyallahu 'anha yang diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi rahimahullah dalam as-Sunan al-Kubra (/252) dan dinyatakan jayyid sanadnya oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Silsilah ash-Shahihah (1/379):


( )

Hari menyembelih (kurban) adalah hari di mana manusia menyembelih kurban dan hari Idul fithri adalah hari di mana manusia beridul fithri.

5 .Masalah ini termasuk masalah khilafiyah (masalah yang di dalamnya boleh berbeda pendapat), dan hukum/keputusan Hakim (pemerintah) menghilangkan perbedaan tersebut. Maka seandainya Hakim atau wakilnya mengharuskan rakyatnya untuk mengikuti Tanah Haram (Saudi Arabia) dalam masalah ruyah mereka dalam bulan dzulhijjah, maka wajib untuk diikuti. Demikian juga apabila mereka berpendapat dengan adanya perbedaan mathla sekalipun dalam hilal dzulhijjah, maka wajib bagi rakyat untuk mengikutinya, karena keputusan Hakim menghilangkan perbedaan dalam masalah seperti ini. Dan tidak ada beda antara masalah ini dengan masalah puasa dan idul fithri yang dilakukan berdasarkan keputusan Hakim, dan dengan cara seperti inilah persatuan bisa tercapai dan masyarakat berkumpul pada hari raya dan puasa yang satu dan tidak bercerai berai.

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata dalam Majmu Fatawa ketika menjawab pertanyaan seputar masalah ini:Apabila suatu Negara berada dalam satu hukum dan pemerintah memerintahkan rakyat untuk puasa, atau Idul fithri maka wajib untuk diikuti dan keputusan Hakim menghilangkan perbedaan pendapat. Maka berdasarkan hal ini berpuasa dan berbukalah (Idul fithri) sebagaimana penduduk negeri yang kamu tempati berpuasa dan berbuka, baik bertepatan dengan negeri asalmu ataupun tidak. Demikian juga dalam masalah Arafah, ikutilah negeri di mana kalian berada.

Pendapat yang rajih

Pendapat yang kuat dalam masalah ini Wallahu Alam- adalah pendapat yang kedua, dikarenakan hal-hal berikut:

a.Kuatnya pendapat yang menyatakan bahwa masing-masing wilayah memiliki mathla sendiri-sendiri, dan itu adalah pendapat yang dipilih oleh Lajnah Daimah lil Ifta.

b.Keumuman sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam

( )

Hari menyembelih (kurban) adalah hari di mana manusia menyembelih kurban dan hari Idul fithri adalah hari di mana manusia beridul fithri. (Silsilah ash-Shahihah (1/379))

c.Keterangan istri Nabi bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berpuasa pada tanggal 9 dzulhijjah dan hadits tersebut shahih.

d.Penamaan Arafah adalah karena jamaah haji sedang melakukan wukuf tidak bisa dipastikan kebenarannya. Wallahu Alam.

(Faidah:untuk melihat lebih luas tentang perdebatan antara dalil pendapat pertama dan kedua lihat bahts/makalah seputar masalah ini di http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=86791)

Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php/?pilih=lihathadits&id=380