Artikel : Hadits - Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits

Bagaimana Mengetahui Shahabat Nabi

Kamis, 13 Desember 12

Dan adapun bagaimana cara mengetahui, apakah seseorang adalah shahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam atau bukan, maka bisa diketahui dari beberapa hal, yaitu:

1. Terkadang seseorang dikenal sebagai shahabat Nabi melalui nash al-Qur'anul Karim. Seperti firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:


... [:40]

]

" Jikalau kalian tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seseorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya:"Janganlah berduka cita, sesungguhya Allah bersama kita..." (QS. At-Taubah: 40)

Maka yang dimaksud adalah Abu Bakr ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu. Oleh sebab itu mereka (para Ulama) berkata:" Barang siapa yang mengingkari status Abu Bakar sebagai seorang shahabat Nabi, maka ia kafir."

Seperti status Zaid bin Haritsah radhiyallahu 'anhu sebagai seorang shahabat Nabi. Berdasarkan firman-Nya:


[:37[

]

" Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap isterinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia (mantan isteri Zaid radhiyallahu 'anhu)" (QS. Al-Ahzaab: 37)

2. Dengan kabar yang mutawatir, seperti status 'Umar, 'Utsman, 'Ali, Hudzaifah, Abu Hurairah, 'Aisyah radhiyallahu 'anhum dan selain mereka dari kalangan para pembesar shahabat sebagai shahabat-shahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam

3. Dengan kabar yang mustafidh, yaitu kabar yang masyhur namun tidak sampai ke derajat mutawatir. Maksudnya, mereka diketahui oleh banyak orang (bahwasanya mereka termasuk shahabat Nabi), sekalipun hal itu tersembunyi (tidak diketahui) oleh sebagian manusia. Sebagai contoh; Tsabit bin Qais, Dzulyadain, Mu'awiyah bin al-Hakam as-Sulami, Barirah maulah 'Aisyah (budak yang dimerdekakan oleh 'Aisyah), dan selain mereka radhiyallahu 'anhum.

4. Dengan persaksian dari shahabat yang lain, seperti hadits Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma tentang kisah 70 ribu orang yang masuk surga tanpa hisab, lalu 'Ukasyah bin Mihshan radhiyallahu 'anhu bangkit kemudian berkata:


. : " " .

"Wahai Rasulullah, berdo'alah kepada Allah agar aku dijadikan bagian dari mereka." Maka beliau bersabda:"Engkau bagian dari mereka." (HR. al-Bukhari dan Muslim)

5. Dengan riwayat seorang shahabat dari orang tersebut, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam baik dengan cara mendengar atau melihat disertai mu'asharah (hidup sezaman).

6. Dengan persaksian Tabi'in, dengan perkataan Tabi'in misalnya:"Telah mengabarkan kepadaku si Fulan, yang termasuk bagian dari shahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam." Dan dalam hal ini disyaratkan:

a. Sanad riwayat kepada Tabi'in tersebut shahih.

b. Tabi'in tersebut adalah termasuk dari kalangan Tabi'in senior, karena kemungkinan besar riwayatnya dari Shahabat.

c. Tabi'in tersebut terkenal dengan hafalan dan ketelitian, dan tidak pernah terbukti dia keliru, karena terkadang seseorang keliru sementara ia tidak mengetahuinya.

7. Dengan mengabarkan tentang dirinya bahwa ia adalah seorang shahabat, dan ia adalah seorang yang 'adil (memiliki sifat 'adalah), dan hal itu (pengakuannya) harus terjadi sebelum seratus tahun setelah wafatnya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Karena telah terbukti melalui riwayat yang mutawatir bahwa shahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang pang akhir meninggal adalah Abu Thufail bin 'Amir bin Watsilah al-Laitsi yang meniggal pada tahun 110 berdasarkan pendapat yang shahih. Maka barang siapa yang mengaku dirinya adalah shahabat setelah ini (setelah tahun 110), maka tidak diterima pengakuan tersebut darinya.

(Sumber: dari http://www.sunnah.org.sa/sunnah-sciences/hadith-terminology/700-2010-08-06-12-00-25. Diterjemahkan dan diposting oleh Abu Yusuf Sujono)


Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php/?pilih=lihathadits&id=331