Artikel : Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits
Berpedoman Pada Ruyat (Penglihatan) Biasa
Rabu, 07 April 04

Tanya :

Apa metode syariat dalam menetapkan masuknya suatu bulan? Bolehkan berpedoman pada perhitungan lembaga teropong bintang dalam menetapkan mulai dan berakhirnya suatu bulan? Dan apakah boleh seorang Muslim menggunakan teleskop dalam melihat terbitnya hilal (bulan)?

Jawab :

Metode syariat dalam menetapkan masuknya bulan adalah dengan cara melakukan ruyat (melihat) hilal (bulan sabit) dan hal itu harus dilakukan oleh orang yang dipercaya loyalitasnya terhadap agama di samping memiliki penglihatan mata yang tajam. Jika orang-orang yang semacam itu telah melihatnya, maka berdasarkan ruyah (penglihatan) tersebut wajib melaksanakan puasa jika itu hilal Ramadhan dan wajib berbuka jika itu hilal Syawwal.

Tidak boleh berpedoman pada penghitungan lembaga teropong bintang jika memang belum melihatnya. Tapi jika telah dilakukan ruyah walaupun dengan menggunakan teropong bintang, maka hal itu boleh dijadikan patokan. Hal ini karena keumuman sabda Nabi Shalallaahu alaihi wasalam ,

.

Jika kalian melihatnya (hilal Ramadhan) maka berpuasalah, dan jika kalian melihatnya (hilal Syawwal) maka berbukalah.

Sedangkan hisab (perhitungan), tidak boleh dijadikan pedoman dan patokan.
Adapun menggunakan teleskop untuk melihat hilal, maka hal itu tidak mengapa, hanya saja tidak wajib, karena yang zhahir dalilnya dari As-Sunnah adalah berpedoman pada penglihatan biasa, bukan yang lainnya. Kendati demikian, jika menggunakan alat tersebut dan yang melihatnya adalah orang yang dapat dipercaya, maka ia boleh melakukan ruyat dengan itu. Orang-orang zaman dulu melakukan ruyat dengan cara naik ke menara yang tinggi pada malam ketiga puluh Syaban atau malam ketiga puluh Ramadhan. Jadi mereka melihat terbitnya bulan dengan perantaraan itu. Yang jelas, jika ruyat (penglihatan) itu telah jelas dengan cara apapun, maka hasilnya harus dipakai (dijadikan patokan) karena keumuman sabda Nabi Shalallaahu alaihi wasalam , Jika kalian melihatnya (hilal Rama-dhan) maka berpuasalah, dan jika kalian melihatnya (hilal Syawwal) maka berbukalah.
( Kitab Ad-Dawah (5), Syaikh Ibnu Utsaimin (2/150-151). )

Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php/?pilih=lihatfatwa&id=786