***
Soal :
Seorang penanya mengatakan, ‘ Bagaimana seseorang bertawakal kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì ? ‘
Jawab :
Syaikh ÑóÍöãóåõ Çááåõ menjawab, “Seseorang betawakal kepada Allah ÚóÒøóæóÌóáøó dengan jujur bersandar kepada Rabbnya ÚóÒøóæóÌóáøó, di mana ia tahu bahwa di tangan-Nya-lah kebaikan itu, dan Dialah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì yang mengatur urusan-urusan. Sungguh Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó pernah bersabda kepada Abdullah bin Abbas ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ :
“ Duhai anak ! Sesungguhnya aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat, ‘Jagalah Allah, niscaya Dia menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kamu mendapatinya di hadapanmu. Bila kamu meminta, maka mintalah kepada Allah. Bila kamu meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah. Dan, ketahuilah olehmu bahwa ummat ini kalaulah mereka bersatu padu untuk memberikan manfaat kepadamu dengan sesuatu, niscaya mereka tidak akan dapat memberikan manfaat kepadamu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tuliskan bagimu, dan (begitu pula) kalaulah mereka bersatu padu untuk membahayakanmu dengan sesuatu, niscaya mereka tidak akan dapat membayakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tuliskan untukmu.”
Maka, dengan keyakinan ini seseorang akan menjadi orang yang menyandarkan diri kepada Rabbnya Ìóáøó æóÚóáóÇ, ia tidak akan menoleh kepada siapa pun selain-Nya. Akan tetapi, kebenaran sikap tawakal tidaklah menafikan tindakan mengambil sebab-sebab yang telah dijadikan sebagai sebab oleh Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì . Bahkan, jika seseorang melakukan sebab-sebab tersebut yang telah Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì jadikan sebagai sebab-baik sebab-sebab tersebut bersifat syar’i atau pun hissi- hal tesebut termasuk kesempurnaan sikap tawakal dan termasuk kesempurnaan iman dengan hikmah Allah ÚóÒøóæóÌóáøó karena Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì telah menjadikan sebab untuk segala sesuatu.
Dan inilah Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó , beliau adalah penghulu orang-orang yang bertawakal, beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó biasa mengenakan baju besi di medang perang, melindungi diri dari hawa dingin, makan dan minum untuk menjaga dan memelihara kehidupannya dan pertumbuhan jasmaninya. Dan, pada perang uhud, beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó mengenakan dua baju besi.
Maka, mereka orang-orang yang beranggapan bahwa hakikat tawakal adalah meninggalkan sebab-sebab tersebut dan (hanya) bersandar kepada Allah ÚóÒøóæóÌóáøó , sebenarnya mereka adalah orang-orang yang keliru. Karena sesungguhnya Dzat yang memerintahkan agar bertawakal kepada-Nya memiliki hikmah yang mendalam dalam ketentuan takdir-tadir-Nya dan ketentuan syariat-Nya, sungguh Dia ÚóÒøóæóÌóáøó telah menjadikan sebab untuk perkara-perkara yang mana dengannya Anda akan dapat memperolehnya.
Maka, jika ada orang mengatakan, ‘Aku akan bertawakal kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì untuk mendapatkan rizki, dan aku akan tetap tinggal di dalam rumahku, tidak mencari rizki.’ Kita katakan,’Sesungguhnya ini tidaklah benar dan bukan merupakan ketawakalan yang benar. Kerena sesungguhnya Dzat yang telah memerintahkan Anda untuk bertawakal kepada-Nya Dialah Dzat yang telah berfirman,
åõæó ÇáøóÐöí ÌóÚóáó áóßõãõ ÇáúÃóÑúÖó ÐóáõæáðÇ ÝóÇãúÔõæÇ Ýöí ãóäóÇßöÈöåóÇ æóßõáõæÇ ãöäú ÑöÒúÞöåö æóÅöáóíúåö ÇáäøõÔõæÑõ [Çáãáß : 15]Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu dalam keadaan mudah dimanfaatkan. Maka, jelajahilah segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Hanya kepada-Nya kamu (kembali setelah) dibangkitkan (al-Mulk : 15)
Dan kalaulah juga ada orang yang mengatakan, “Aku akan bertawakal untuk memperoleh anak atau untuk mendapatkan pasangan hidup, namun dirinya tidak berusaha mulai mencari calon pasang hidup dan melamarnya niscaya manusia bakal mengkategorikan orang tersebut sebagai orang yang bodoh dan tentunya tindakan orang ini menafikan terhadap apa yang menjadi konsekwensi hikmah Allah ÚóÒøóæóÌóáøó.
Dan, kalaulah saja ada seseorang makan racun dan ia mengatakan, ‘aku akan bertawakal kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì agar racun ini tidak membahayakan ‘, tentunya ini bukan orang yang bertawakal sejatinya, karena Dzat yang telah memerintahkan kita untuk bertawakal kepada-Nya ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì , Dialah Dzat yang juga telah berfirman kepada kita,
æóáóÇ ÊóÞúÊõáõæÇ ÃóäúÝõÓóßõãú Åöäøó Çááøóåó ßóÇäó Èößõãú ÑóÍöíãðÇ [ÇáäÓÇÁ : 29]Janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. (an-Nisa : 29)
Yang penting bahwa melakukan sebab-sebab yang telah Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì jadikan sebagai sebab tidaklah menafikan kesempurnaan tawakal. Bahkan, hal tersebut termasuk kesempurnaannya, dan bahwa menyengaja melemparkan diri ke dalam hal-hal yang berpotensi bakal membinasakan, hal ini tidak terhitung sebagai bentuk tawakal seseorang kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì, bahkan hal tertesebut menyelisihi apa yang Allah ÚóÒøóæóÌóáøó perintahkan.
***
Wallahu A’lam
Sumber :
Fatawa Nur ‘Ala ad-Darb, Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin, Jilid 1, hal. 87-88, soal : 50.