Artikel : Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits
Di Antara Kewajiban Kita Terhadap Saudara Kita di Palestina
Senin, 23 Oktober 23
***

Soal :

Semoga Allah memberikan kebaikan kepada Anda.

Seorang penanya bertanya, Syaikh kami yang semoga diberkahi, apa kewajiban kita terkait peristiwa yang terjadi pada saudara-saudara kita (kaum Muslimin) di Palestina ?

Jawab :

Kewajiban yang harus kita lakukan (di antaranya adalah) menghadapkan diri kepada Allah- - dengan doa agar Allah- - menolong Islam dan kaum Muslimin, agar Allah - -menyatukan kata kaum Muslimin di atas kebenaran, agar Allah - -menyatukan kata mereka di atas mentauhidkan Allah- -, kita berdoa selalu untuk saudara-saudara kita di Palestina agar Allah- - menyatukan kata mereka di atas tauhid, semoga mereka diberi taufiq untuk menyatukan kata mereka di atas apa yang Allah- - ridhai, semoga Allah- -mengaruniakan kepada kita dan mereka untuk senantiasa berada di atas ketaatan kepada-Nya, dan di atas amal yang diridhai-Nya, bersungguh-sungguh dan mengerahkan segenap daya dan upaya dalam hal-hal yang diridhai-Nya.

Kemudian, saya nasehatkan kepada mereka dan selain mereka dari kalangan kaum Muslimin agar meneliti dan mengoreksi kembali diri-diri kita. (Karena, Allah- -telah berfirman)


[ : 30]


dan apa saja musibah yang menimpa kalian maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).(asy-Syuura : 30)

Tidak boleh mencerca selamanya, akan tetapi wajib memberikan nasehat, dan wajib untuk mengingatkan mereka dan diri-diri kita untuk bertakwa kepada Allah azza wa jalla, sebagaimana kalian telah mendengarkan hadis,




bertakwalah kamu kepada Allah di mana pun kamu berada, iringilah keburukan itu dengan kebaikan niscaya kebaikan itu akan menghapus keburukan itu, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.

Takwa merupakan wasiat Allah- -terhadap orang-orang terdahulu dan orang-orang belakangan, seperti firman Allah- -,


[ : 131]


dan sungguh Kami telah wasiatkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kalian dan (juga) kepada kalian; bertakwalah kepada Allah. (an-Nisa : 131)

Seorang imam, seorang tabiin yang mulia, yang bernama Thalq bin Habib- - telah menafsirkan takwa, Anda akan melihat tafsiran ini sangat penting ketika terjadi fitnah dan perang ini (yang terjadi antara Israel dan Palestina) untuk menyatukan kata. Mereka mengatakan (kepada Thalq bin Habib ini), wahai syaikh, telah nampak di hadapan kami berbagai macam fitnah.

Perhatikanlah oleh Anda sebab munculnya perkataan Thalq berikut ini.

Telah nampak di hadapan kami berbagai macam fitnah, maka apa jalan keluar darinya ?,

Apa jalan keluar dari berbagai bentuk fitnah ?

Thalq menjawab, Bertakwa kepada Allah azza wa jalla.

(Jalan keluarnya adalah) Bertakwa kepada Allah.

Mereka kemudian mengatakan, sifatkanlah kepada kami ketakwaan itu !

Thalq bin Habib- -pun menjawab,

Takwa itu, engkau melakukan ketaatan kepada Allah berdasarkan cahaya (petunjuk) dari Allah, engkau mengharapkan pahala Allah. Engkau meninggalkan apa-apa yang diharamkan oleh Allah, berdasarkan cahaya (pertunjuk) dari Allah, engkau takut terhadap hukuman Allah.

Demi Allah, hendakanya Anda merenungkan ungkapan kata-kata ini. Anda lihat bahwa beliau- -menjelaskan jalan keluar dari setiap bala. Semoga Allah- -menjadikan saya dan Anda sekalian wahai saudara-saudaraku sekalian, di Palestina dan di tempat lainnya, semoga Allah- -menjadikan kita semua terentaskan dari setiap kesusahan, semoga Allah- -menjadikan untuk kita semuanya jalan keluar dari setiap kesempitan.

Bertakwa adalah engkau melakukan ketaatan kepada Allah. Maka, bersungguh-sungguhlah Anda dalam melakukan ketaatan kepada Allah. berdasarkan cahaya (petunjuk) dari Allah, apa maksudnya ? berdasarkan petunjuk siapa ? (Jawabnya) berdasarkan petunjuk kitab Allah azza wa jalla dan sunnah Rasul-Nya- -, jauh dari sikap melampoi batas dan sikap menyepelekan.

engkau mengharapkan pahala Allah, ini adalah ikhlash.

(Jadi, kalimat ini) mengandung dua syarat, yaitu dua syarat untuk diterimanya amal. engkau melakukan ketaatan kepada Allah, berdasarkan cahaya (petunjuk) dari Allah, yakni, dengan mengikuti petunjuk kitab (al-Quran) dan sunnah. engkau mengharapkan pahala Allah, yakni, ikhlash semata-mata karena Allah- -. Engkau meninggalkan apa-apa yang diharamkan oleh Allah , Anda menjauhkan diri dari semua hal yang diharamkan, mengapa ? karena untuk mencari keridhaan Allah- -. berdasarkan cahaya (petunjuk) dari Allah , yakni, dalam melakukan hal itu dengan mengikuti petunjuk Nabi- Maka, apa yang Allah dan Rasul-Nya halalkan, kita lakukan, dan apa-apa yang Allah dan Rasul-Nya haramkan, kita menjauhinya.

berdasarkan cahaya (petunjuk) dari Allah, Juga, melakukan hal yang halal dan menjauhi yang haram juga berdasarkan cahaya (petunjuk) dari Allah- -, bukan berdasarkan hawa nafsu, bukan pula berdasarkan ijtihad yang salah.

engkau takut terhadap hukuman Allah. Anda meninggalkan hal-hal yang diharamkan hanyalah karena takut dari hukuman Allah- - di dunia dan di akhirat.

Maka dari itu, hendaklah kita bersungguh-sungguh dalam hal tersebut, dan hendaknya kita berdoa untuk saudara-saudara kita, agar Allah- -menyatukan barisan mereka, menolong mereka atas musuh-musuh mereka, dari kalangan orang-orang Yahudi dan selain orang-orang Yahudi, dan semoga Allah- - menyatukan kata mereka di atas tauhid.

Wahai saudara-saudaraku...musibah yang menimpa kaum Muslimin hari ini adalah tafarruq (bercerai berai)
...

Saya katakan-semoga Allah memberkahi Anda sekalin-, sebagai pelengkap jawaban,

Kaum Muslimin, sekarang, di semua tempat, ada perkara yang mengurangi (kekuatan dan keyakinan) mereka, yaitu, perkara kembali kepada Allah- -dan perhatian yang ektra terhadap urusan mentauhidkan Allah- padahal hal ini merupakan asas (pondasi) yang dengannya kaum Muslimin akan ditolong, (Allah- berfirman)


[ : 41]


(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.(al-Hajj : 41)


[ : 55]


dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku... (an-Nur : 55)

Inilah dia jalan itu. Yaitu, kembali kepada Allah- -. Kembali kepada mentauhidkan Allah- -. jauh dari slogan-slogan atau pernyataan-pernyataan yang dibuat-buat. Yakni, kemarin saya medengar salah satu tempat pemberhentian, (Ada orang yang berseru) Wahai Shalahuddin ! Dimana engkau wahai Shalahuddin ? Bukankah ini merupakan kesyirikan kepada Allah- - ? Berdoalah Anda kepada Allah- - ! Kembalilah Anda kepada Allah- - !


[ : 40]


Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha perkasa (al-Hajj : 40)

Berhati-hatilah !




Tidak akan menjadi baik ummat ini kecuali dengan sesuatu yang dengannya telah menjadi baik generasi pertamanya. seperti kata Imam Darul Hijrah Imam Malik bin Anas- -

Hendaklah kita kembali kepada Allah- - !

Nabi- -bersabda,




Hampir saja seluruh umat manusia siap memangsa kalian dari segenap penjuru seperti orang-orang rakus yang mengerubuti makanan dalam wadahnya. Salah seorang sahabat ada yang bertanya, Wahai Rasulullah ! Apakah waktu itu jumlah kami sedikit? Beliau menjawab, Jumlah kalian saat itu sangatlah banyak, tetapi kalian menjadi buih seperti buih di lautan.

Kita wajib mencari kemulian dengan berpegang teguh dengan agama kita, dan wajib atas kita untuk kembali kepada Allah- -, menerapkan syariat Allah- -, dengan ucapan, amal perbuatan, dan keyakinan. Inilah dia jalan pertolongan, inilah jalan keselamatan, dan inilah jalan kemenangan atas musuh-musuh itu. Adapun angan-angan kosong maka tidak ada nilainya. Adapun kekuatan semata, iya, betul kita diperintahkan untuk menyiapkan kekuatan, (sebagaimana firman Allah- -)


[ : 60]


dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi (al-Anfal : 60)

Akan tetapi kekuatan semata tanpa kembali kepada Allah- -, beramal dengan apa-apa yang diridhai-Nya, menjauhkan diri dari bermaksiat kepada-Nya, tak ada nilainya selama-lamanya. Sebelum itu adalah kekuatan iman dan kembali kepada Rabb semesta alam. Kita memperbaiki hubungan dengan Allah- -, kita hilangkan perbuatan-perbuatan kesyirikan dan sikap berlebih-lebihan terhadap kubur yang banyak terjadi di negeri-negeri kaum Muslimin. Banyak di negeri-negeri kaum Muslimin terdapat kuburan yang disembah selain Allah, di mana mereka berdatangan ke kuburan-kuburan tersebut, mereka meminta pertolongan dan kemenangan kepada orang-orang yang telah meninggal dunia yang dimakamkan di kuburan-kuburan tersebut, (dengan mengatakan) tolang saya wahai fulan, berikanlah kepada saya wahai fulan. Mereka meminta terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan dan tersingkirkannya berbagai problem hidup yang tengah dihadapi, hilangnya hal-hal yang menyakitkan dan memilukan.

Hati-hatilah , wahai hamba-hamba Allah !

Kembali kepada Allah- -adalah solusi yang hendaknya diwujudkan dengan ucapan, amal, dan keyakinan, serta senantiasa berharap dan menghadapkan diri kepada-Nya. Adapun angan-angan kosogn, maka tidak ada nilainya sama sekali.




Orang yang cerdas adalah orang yang bisa menahan nafsunya dan beramal untuk setelah kematian, dan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan selalu berangan-angan (kosong) atas Allah.

Wallahu Alam

Sumber :

Mal Waajib Alainaa Tijaaha al-Ahdats al-Hashilah Li Ikhwaninaa Fii Filisthin ? Syaikh Dr. Shalih bin Sad as-Suhaimiy- -




























Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php/?pilih=lihatfatwa&id=1954