Artikel : Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits
Hukum Mempropagandakan Kesatuan Agama (Pluralisme)
Rabu, 13 Oktober 21

Segala puji bagi Allah semata, shalawat dan salam atas (Muhammad) yang tiada Nabi setelahnya, keluarga, para sahabatnya serta orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga Hari Kiamat, amma ba'du.

Sesungguhnya Lembaga Tetap Pengkajian Ilmiah dan Penggodokan Fatwa (al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-'Ilmiyyah wal Ifta') telah menggodok pertanyaan-pertanyaan yang dilayangkan kepadanya serta pendapat-pendapat dan artikel-artikel yang dipublikasikan di pelbagai media massa berkenaan dengan propaganda kepada "Kesatuan Agama (pluralisme)", yaitu antar agama Islam, Yahudi dan Nasrani. Demikian pula dengan buntut dari itu yang berupa propaganda untuk sama-sama membangun masjid, gereja dan tempat ibadah Yahudi (sinagog) di satu lokasi, baik itu di kampus-kampus, bandara-bandara atau pun di lokasi-lokasi umum, mencetak al-Qur`an al-Karim, Taurat dan Injil dalam satu sampul serta hal-hal lainnya yang terkait dengan implikasi dari seruan tersebut yang disampaikan melalui berbagai muktamar, seminar dan organisasi baik di Timur maupun di Barat.

Setelah melalui renungan dan kajian, Lajnah mengeluarkan keputusan sebagai berikut:

Pertama, di antara prinsip-prinsip akidah dalam Islam, yang sangat esensial untuk diketahui serta telah merupakan konsensus (ijma') kaum Muslimin adalah menyatakan bahwa hanya Islamlah dien yang haq di muka bumi ini, tidak ada agama yang haq selainnya, ia adalah penutup semua agama dan penghapus seluruh agama, aliran dan syariat sebelumnya.

Dengan demikian, tidak ada lagi agama yang diperuntukkan beribadah kepada Allah selain Islam, Allah berfirman,

(85)


"Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi." (Ali Imran: 85).

Yang dimaksud dengan Islam yang datang setelah diutusnya Muhammad - - tersebut adalah agama yang dibawanya, bukan agama selainnya.

Kedua, di antara prinsip-prinsip akidah dalam Islam adalah menyatakan bahwa kitabullah "al-Qur`an al-Karim" merupakan kitab Allah terakhir yang diturunkan dan diakui oleh Rabb semesta alam. Ia adalah nasikh (penghapus) dan muhaimin (batu ujian) terhadap setiap kitab yang diturunkan sebelumnya, baik itu Taurat, Zabur, Injil, dan selainnya.

Dengan demikian, tidak ada lagi kitab yang diturunkan dan diperuntukkan beribadah kepada Allah selain al-Qur`an al-Karim, Allah berfirman,


"Dan Kami telah turunkan kepadamu al-Qur`an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu, maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadaMu." (Al-Ma`idah: 48).

Ketiga, wajib mengimani bahwa Taurat dan Injil telah dihapus oleh al-Qur`an al-Karim dan keduanya telah mengalami perubahan dan penggantian, baik berupa tambahan ataupun pengurangan sebagaimana yang dijelaskan oleh banyak ayat di dalam Kitabullah, di antaranya; Firman Allah - -,


"(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuk mereka, dan kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat pengkhianatan dari mereka kecuali sedikit di antara mereka (yang tidak berkhianat)." (Al-Ma`idah: 13).

Demikian juga FirmanNya,

(79)


"Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya, 'Ini dari Allah', (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan." (Al-Baqarah: 79).

Dan FirmanNya yang lain,

(78)


"Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca al-Kitab, supaya kamu menyangka apa yang dibacanya itu sebagian dari al-Kitab, padahal ia bukan dari al-Kitab dan mereka mengatakan, 'Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah', padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah, sedang mereka mengetahui." (Ali Imran: 78).

Oleh karena itu, bila ada di antara isi kitab-kitab tersebut ajaran yang masih murni, maka (dengan sendirinya) ia telah dihapus oleh Islam sedangkan yang selain itu berarti telah dirubah atau diganti.

Dalam hadits yang shahih dari Nabi- - dinyatakan bahwa beliau - - marah kepada Umar bin al-Khaththab ketika beliau melihat bersamanya ada shahifah (lembaran) yang berisi sedikit ajaran Taurat,

beliau - - bersabda, "Masih ragukah engkau wahai Ibnu al-Khaththab? Bukankah aku telah membawanya dalam keadaan putih lagi bersih? Andaikan saudaraku, Musa, masih hidup tentu tidak ada pilihan lain baginya selain mengikutiku."

Bersambung...

Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php/?pilih=lihatfatwa&id=1739