Artikel : Bulein Annur - Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits

Jalan Menuju Kebahagiaan Keluarga

Jumat, 24 September 21
Jalan Menuju Kebahagiaan Keluarga

Kebahagiaan Target yang Dibidik
Kebahagiaan adalah taman mimpi yang dicari oleh setiap orang. Namun, pertanyaan yang sejak lama membingungkan manusia adalah, di manakah kebahagiaan itu ?

Kebanyakan orang mencarinya bukan di tempatnya. Maka, merekapun kembali layaknya seorang pencari permata di tengah padang pasir kembali. Ia kembali dengan tangan kosong, patah hati, dan musnah harapan.

Banyak orang -dalam lintasan waktu- telah mencoba berbagai warna kenikmatan yang bersifat material, telah mencoba beragam bentuk pemuas syahwat, namun mereka tak menemukan kebahagiaan itu.

Sebagian orang mencari kebahagiaan itu pada harta benda yang melimpah, penghidupan yang lapang, namun mereka tidak mendapatkannya. Yang lainnya, mencari kebahagiaan itu pada kedudukan yang tinggi, namun mereka tidak mendapatkannya. Yang lainnya lagi, mencarinya pada popularitas dan kedudukan yang tinggi, namun mereka tidak dapat meraihnya. Mengapa ?

Karena kebahagiaan itu sesuatu yang tumbuh dari dalam diri seseorang yang dirasakannya, maka ia adalah hal yang bersifat maknawi yang tidak bisa diukur dengan akal, tidak bisa dibeli dengan uang. Tetapi, kebahagiaan itu adalah kejernihan jiwa, ketenangan hati, kerehatan perasaan dan kelapangan dada.

Disebutkan bahwa ada seorang suami mengatakan kepada istrinya sambil marah, Aku pasti akan membuatmu sengsara !.

Berkatalah sang istri dengan tenang, Engkau tak bakal dapat membuat aku sengsara sebagaimana engkau tak bakal dapat membuat aku bahagia.

Dalam keadaan naik pitam, sang suami berujar, Bagaimana mungkin aku tak bisa?.

Dengan penuh percaya diri, sang istri menanggapinya, Andai saja kebahagiaan itu tedapat pada gaji niscaya engkau bakal dapat memutusnya dariku. Atau, andai kata kebahagiaan itu terdapat pada perhiasan yang terbuat dari logam mulia, niscaya bisa saja engkau tidak meberikannya kepadaku. Tetapi, kebahagiaan itu terletak pada sesuatu di mana engkau tidak dapat menguasainya, tidak pula dapat dikuasai oleh manusia semuanya.

Dalam keadaan bingung, sang suami bertanya, Apa itu ?
Dengan penuh keyakinan, sang istri menjawab, Sungguh aku mendapatkan kebahagiaanku di dalam imanku, dan imanku itu terdapat di dalam hatiku, sementara hatiku tak seorang pun yang dapat menguasainya selain pemiliknya.

Semisal dengan keadaan inilah yang dirasakan oleh syaikh Islam Ibnu Taimiyah- - kala beliau dipenjara secara zalim di perjara Qalah, beliau mengatakan,




Apa yang diperbuat oleh musuh-musuhku terhadapku, sesungguhnya Surgaku dan taman (kebahagiaan)ku ada dalam dadaku, kemana saja aku pergi, maka ia tetap bersamaku.

Sementara murid beliau, Ibnul Qayyim- - (seperti disebutkan di dalam kitab beliau, Madarij as-Salikin) mengatakan, Di dalam hati itu terdapat kekusutan, tidak akan menjadi rapi kembali melainkan dengan menghadapkan diri kepada Allah. Di dalam hati ada pula keberingasan, tidak akan dapat dihilangkan melainkan dengan kelembutan hubungan dengan Allah- -. Di dalam hati juga ada kesedihan, tak akan dapat dihilangkan melainkan dengan merasa bahagia dengan mengenal-Nya dan jujur dalam bermuamalah dengan-Nya. Di dalam hati juga ada kegalauan, tak akan dapat menenangkannya kecuali dengan melarikan diri kepada-Nya. Di dalam hati juga ada bara api kerugian-kerugian, tidak akan dapat memadamkannya kecuali ridha terhadap perintah, larangan dan ketentuan-ketentuan takdir-Nya serta mengalungkan kesabaran atas hal tersebut sampai waktu perjumpaan dengan-Nya. Di dalam hati juga ada rasa butuh yang sangat luar biasa, tak akan bisa menutupinya kecuali rasa cinta kepada-Nya dan kembali kepada-Nya, senantiasa mengingat-Nya, serta jujur dalam memurnikan amal perbuaatn hanya untuk-Nya semata. Andai saja diberi dunia beserta segala isinya, niscaya hal itu tidak dapat menutupi kebutuhan yang sangat luar biasa sersebut selama-lamanya.

Jadi, wahai saudara-saudaraku...kebahagiaan itu tak mungkin diraih kecuali dengan keimanan dan keyakinan sebagai pondasi utamanya. Dan, agama kita telah datang dengan sesuatu yang akan menjamin kebahagiaan itu bagi seorang muslim yang berserah diri sepenuhnya hanya kepada Allah- -saja. Bahkan, agama kita melarang untuk bersedih hati. Allah- -berfirman,


[ : 139]


Dan janganlah kamu (merasa) lemah, dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang beriman (Qs. Ali Imran : 139)


[ : 40]


Ketika itu dia berkata kepada sahabatnya, Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita. Maka Allah menurunkan ketenangan kepadanya dan membantu dengan bala tentara yang tidak terlihat olehmu (Qs.at-Taubah : 40)

Dengan demikian, maka agama ini datang untuk kebahagiaan manusia dan untuk menafikan keburukan dan hal yang membahayakan dari mereka. Dan hal itu berlaku untuk semua sisi kehidupan. Termasuk sisi kehidupan tersebut adalah kebahagiaan keluarga. Allah- telah membangunnya di atas unsur-unsur dasar kebahagiaan, yaitu, mawaddah, rahmat dan sakinah. Allah- berfirman,


[ : 21]


Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan Dia menjadikan di antraramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir (Qs. ar-Rum : 21)

Jalan Menuju Kebahagiaan Keluarga
Kebahagiaan keluarga merupakan incaran setiap pasutri, hanya saja kebahagian itu tak akan ada begitu saja melainkan dengan melakukan sebab-sebab yang dengannya keluarga menjadi bahagia. Di antara sebab yang patut diupayakan secara sungguh-sungguh adalah menjauhi sebab-sebab yang berpotensi mengacaukan kehidupan keluarga, semisal,

1-Tidak memperhatikan perintah-perintah Allah- -.
Di antara perintah Allah yang paling agung yang wajib mendapatkan perhatian serius adalah shalat, karena itu Allah- - telah menaskan di dalam al-Quran agar orang tua memantau keluarganya terkait persoalan shalat. Allah- berfirman,


[ : 132]


Dan perintahkan keluargamu melaksanakan shalat dan sabar dalam mengerjakannya(Qs. Thaha : 132)

Zaed bin Aslam meriwayatkan dari ayahnya bahwa Umar bin Khaththab- -biasa mengerjakan shalat malam-sebanyak yang dikehendaki Allah- -. Ketika sampai di akhir-akhir malam, beliau- -membangunkan keluarganya agar menunaikan shalat malam. Ia mengatakan kepada mereka, (ayo bangun, laksanakanlah shalatayo bangun, laksanakanlah shalat), dan beliau- -membaca ayat ini,




Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan sabar dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rizki kepadamu. Kamilah yang memberi rizki kepadamu. Dan akibat (yang baik di akhirat) adalah bagi orang yang bertakwa (Qs. Thaha : 132) (HR. Malik di dalam al-Muwatha, no. 389)

Namun, betapa banyak kepala keluarga yang tidak memperhatikan hal ini dan perintah-perintah Allah- -yang lainnya dalam kehidupan rumah tangganya. Kita memohon hidayah untuk kita dan mereka.

Dan, di sini, penulis ingatkan kembali kepada penulis sendiri dan Anda semua-wahai para orang tua- tentang firman Allah- -, yang berisi perintah-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang beriman,


[ : 6]


Wahai orang-orang yang beriman ! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka ...(Qs. at-Tahrim : 6).

Di mana, pemeliharaan diri dan keluarga itu tidak akan terwujud melainkan apabila seorang muslim perhatian terhadap perintah-perintah Rabbnya terkait dirinya dan terkait pula orang-orang yang dibawah tanggung jawabnya.

Berkata imam al-Ghazali- -, ketika menyebutkan adab-abab seorang suami, Sesungguhnya seorang suami itu diperintahkan untuk memeliharanya (yakni, istrinya) dari siksa neraka. Maka, hendaknya ia mengajarinya prinsip-prinsip keyakinan ahli Sunnah, menghilangkan dari hatinya setiap perkara bidah jika ia mendengarkannya dengan seksama, menakut-nakutinya dengan (ancaman, hukuman dan siksa) Allah- -jika ia bermudah-mudah dalam perkara agama, mengajarinya hakum-hukum haid dan istihadhah yang dibutuhkannya. Selesai perkataan beliau- -.

2-Tidak adanya pendidikan yang baik terhadap anak-anak
Sebagian orang menyangka bahwa persoalan pendidikan merupakan perkara yang dianjurkan dan baik-baik saja, dan tidak mengapa seseorang kurang perhatian dalam masalah ini. Demi Allah, ini merupakan sangkaan yang keliru. Yang benar adalah bahwa persoalan pendidikan merupakan perkara yang wajib dan seorang akan diperhitungkan atas keteledorannya, ia bakal dimintai pertanggungjawabannya tentang sikap menyepelekannya. Rasulullah- bersabda,




Tiada seorang pun yang diamanati oleh Allah memimpin rakyat kemudian ketika ia mati ia masih menipu rakyatnya, melainkan pasti Allah mengharamkan baginya surga. (HR. Muslim)
Maka, perkara ini merupakan perkara yang berbahaya, dan perhitungannya berat.

Sebagian orang juga ada yang menyangka bahwa pendidikan yang baik itu sekedar Anda menganjurkan anak untuk mengerjakan shalat saja, Anda menanyakan kepadanya tentang penunaiannya. Meskipun bahwa shalat merupakan perkara terpenting di mana ia adalah kepala amal-amal shaleh, namun menyepelekan sisi pendidikan yang lainnya bisa jadi menyebabkan seorang anak nantinya bakal meninggalkannya bila mana di sana tidak ada sisi pendidikan lainnya yang melengkapinya.

Karenanya, para pakar pendidikan Islam menyebutkan bahwa pendidikan yang baik itu meliputi beragam aspek, antara lain; aspek pendidikan imaniyah shalat termasuk di dalamnya-, aspek pendidikan khuluqiyah (akhlak), aspek pendidikan jismiyah (fisik), aspek pendidikan aqliyah (akal), aspek pendidikan ijtimaiyah (sosial).

Maka, apabila dalam pola pendidikan yang diberikan kehilangan aspek-aspek ini, tidak diragukan bahwa hal teresebut akan mengantarkan kepada terjadinya kekacauan dalam keluarga, anak-anak akan lari dari orang tua mereka. Maka, sejauh mana aspek-aspek pendidikan tersebut diberikan dengan baik, sangat membuka peluang adanya hubungan baik dalam keluarga akan kuat.

3-Pembiaran kemungkaran-kemungkaran yang terjadi di dalam rumah
Betapa banyak rumah tangga yang telah Allah- -hancurkan desebabkan karena kemaksiatan dan kemungkaran yang dilakukan masing-masing dari anggota keluarga, mereka berlomba-lomba melakukannya siang malam. Mereka dibiarkan begitu saja melakukannya.

Bahkan, betapa banyak kehidupan rumah tangga yang hancur berkeping-keping semenjak awal hari-hari pernikahan mereka disebabkan karena tindakan kemungkaran yang mereka perbuat yang mengundang murka Dzat yang Maha Perkasa saat melakukan pesta pernikahan.

Padahal, termasuk hal yang telah menjadi ketetapan dalam agama kita adalah tidak boleh diam dari kemungkaran-kemungkaran bagaimana pun juga. Nab- -bersabda,




Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaknya ia mengubahnya dengan tangannya. Jika ia tidak bisa, maka dengan lisannya. Jika ia tidak bisa, maka dengan hatinya. Dan yang demikian itu adalah selemah-lemah iman (HR. Muslim)

Tidak diragukan bahwa kedua orang tua di rumah memiliki kekuasaan untuk mengubah suatu kemungkaran dengan menggunakan tangannya dan tidak boleh mendiamkannya, karena kaedah menyatakan,




Orang yang ridha dengan kemungkaran seperi pelaku kemungkaran tersebut.

Allah- -berfirman tentang orang yang membunuh onta Nabi Sholeh- - ,


[ : 14]


Namun mereka mendustakannya dan menyembelihnya, karena itu Tuhan membinasakan mereka karena dosanya, lalu diratakan-Nya (dengan tanah) (Qs. asy-Syams : 14)

Padahal, orang yang menyembelihnya hanya satu orang, namun yang lainnya, mereka merestui orang tersebut. Karena itulah mereka sama (berdosa dan mendapatkan hukuman yang sama).

4-Kekerasan yang melampaui batas dalam pola pendidikan yang diterapkan atau sikap lembut yang lebih dari batas yang dibutuhkan.
5-Dibangunnya hubungan antara satu anggota keluarga dengan anggota keluarga yang lainnya di atas dasar kecurigaan, sakwa sangka, dan tuduhan-tuduhan. Dan lain sebagainya.

Disaping hal ini, juga patut diupayakan beberapa hal berikut ini untuk mewujudkan kebahagiaan keluarga, yaitu,
1-Bersemangat dan bersungguh-sungguh untuk menerapkan pola pendidikan melaluai keteladan dan nasehat yang baik.
Karena keteladanan termasuk sarana yang paling bermanfaat lagi menonjol pengaruhnya dalam proses pendidikan, dalam hal menciptakan keshalehan anak-anak. Dengan demikian sangat diharapkan akan memunculkan kebaikan keluarga. Maka, ketika seorang pendidik (orang tua) itu jujur, terpercaya, bersikap mulia, dan menjaga kehormatan diri, misalnya, niscaya anak akan tumbuh di atas hal-hal tersebut. Begitu pun sebaliknya.

Seorang ayah datang kepada saya, ia mengatakan, Aku telah menasehati anak-anak lelakiku agar berhenti dari kebiasaan merokok, namun mereka tidak menyambutnya dengan baik !!.

Aku pun mengatakan kepadanya, Bagaimana dengan kamu, apakah kamu juga merokok ? ia pun menjawab, Ya.

Aku pun mengatakan kepadanya, Kalau begitu bagaimana engkau menginginkan mereka menerima nasehatmu dengan ucapan lisanmu, sementara engkau memotivasi mereka untuk tetap merokok dengan perbuatanmu !!!


###
###
###
###



Engkau memberikan resep obat kepada orang sakit
bagaimana ia bakal sembuh sementara dirimu sendiri sakit

Janganlah engkau melarang orang lain sedang engkau melakukan semisalnya
sungguh merupakan aib yang besar bila engkau melakukan hal itu

Mulailah dari dirimu, lalu laranglah orang lain dari melakukan keburukan
bila keburukan itu dihentikannya, maka ketika itu engkau seorang yang bejaksana

Maka di sana diterima apa yang engkau nasehatkan,
diteladanilah dirimu dengan ilmu dan pengajaran pun bermanfaat darimu


Bila keadaan sang pendidik lurus dan menjadi suri teladan yang baik bagi anak-anaknya, namun ia melihat adanya celah kekurang pada anaknya dan tingkah laku yang tidak baik, maka ia wajib memberikan wejangan, nasehat dan arahan kepada anaknya tersebut. Karena, hal tersebut merupakan sarana yang sangat penting bagi seorang pendidik untuk menghadirkan perbaikan. Sarana ini, banyak disebutkan oleh Allah- di dalam al-Quran, sebagai contoh misalnya, nasehat Lukman kepada anaknya,


[ : 13]


Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, Wahai anakku ! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar (Qs. Lukman : 13)
Cotoh lainnya, Allah - berfirman,


[ : 17]


Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali mengulangi seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang beriman (Qs. an-Nur : 17)


2-Menyuguhkan alternatif untuk hal-hal yang menyelisihi syariat
Maksudnya, bahwa seorang pendidik (baca : orang tua) ketika melarang anaknya dari perbuatan yang menyimpang (bertentangan dengan syariat) maka ia hendaknya menyodorkan alternatif berupa hal yang dibolehkan dan dihalalkan oleh Allah- - dan Rasul-Nya- -. Pada sesuatu yang halal terdapat kecukupan dari sesuatu yang haram, dan bahwa apa yang Allah- -halalkan untuk kita berupa kenikmatan dan keruniaNya jauh lebih banyak jumlanya daripada yang diharamkanNya.

Perihal menyuguhkan alternatif pilihan ini, banyak disebutkan dalam nash-nash. Contohnya seperti dalam kasus orang yang melakukan tarsaksi riba, lalu Nabi- -menyuguhkan alternatif model transaksi yang halal yang mana pelakunya terbebas dari jerat transaksi yang haram.

Perhatikanlah hadis berikut,




Abu Said al-Khudriy dan Abu Hurairah- -meriwayatkan bahwa Rasulullah- -mempekerjakan seorang lelaki untuk menggarap lahan di Khaibar. Satu saat orang ini datang kepada Nabi dengan membawa kurma yang paling bagus kualitasnya. Berkatalah Rasulullah- - Apakah semua kurma Khaibar seperti ini ? Tidak, jawab lelaki tersebut. Demi Allah, wahai Rasulullah !, kami menukar satu sha kurma jenis ini dengan dua sha (kurma jenis yang lainnya), menukar dua sha kurma jenis ini dengan tiga sha kurma jenis yang lainnya. (Mendengar penuturan lelaki ini) maka Nabi- bersabda,




Jangan engkau lakukan !, juallah dulu kurma yang bermacam-macam jenisnya itu dengan (harga) beberapa dirham, kemudian belilah kurma yang kualitasnya bagus tersebut dengan beberapa dirham tersebut. (HR. al-Bukhari, no. 2201 dan Muslim, no. 4166)

Dan demikian pula, boleh jadi sebagian anak lelakinya berteman dengan anak-anak yang kurang baik, maka, selayaknya, seorang ayah mengarahkan anaknya tersebut agar berteman dengan teman-teman yang baik yang akan menunjukinya kepada kebaikan dan membantunya untuk dapat melakukan kebaikan tersebut.

Demikian pula halnya anak-anak perempuan, boleh jadi membuat rumah bising dengan suara-suara keras alat-alat musik dan nyanyian-nyanyian, maka hendaknya diganti dengan lantunan-lantunan ayat-ayat al-Quran, ceramah-ceramah atau khutbah yang bermanfaat, atau nasid-nasid yang baik yang tidak menyelisihi syariat.

Demikian pula, boleh jadi di rumah didapati adanya chanel-chanel yang berpotensi dapat merusak mental dan akhlak, yang menyeru kepada hal-hal yang hina dan mendorong kepadanya, maka seorang ayah (begitu pula seorang ibu) selayaknya menjauhkan keburukan tersebut dan menyuguhkan alternatif yang baik dan bermanfaat.

Begitu pula mengganti majalah-majalah yang tidak ada manfaat dan faedahnya kecuali hanya akan mendorong gharizah (naluri seksual) dengan majalah yang bermanfaat.

Hendaknya pula diberikan arahan dan bimbingan serta pemantauan dan pengawasan berkenaan dengan pemanfaatan alat-alat yang berpotensi memiliki dua sisi tajam, semisal laptop dan internet. Tidak diragukan bahwa banyak manfaat yang ada dalam sarana-sarana tersebut, namun tidak sedikit pula keburukan yang dapat ditimbulkannya.

3-Mengupayakan adanya suasana keluarga yang penuh cinta dan kelembutan dan suka ria.
Hal ini termasuk manhaj Nabi- -yang mulia, kadang beliau mencandai Hasan dan Husain, cucu beliau. Disebutkan dalam sebuah riwayat, bahwa beliau- -berjalan di atas kedua tangannya dan kedua lututnya (merangkak) sementara keduanya (Hasan dan Husain) bergelayutan di atas punggung beliau, beliau berujar kepada keduanya, Sebaik-baik unta adalah unta milikmu berdua, dan sebaik-baik dua orang yang menungganginya adalah kalian berdua.

Wallahu Alam

(Redaksi)

Sumber :
Thariquka Ilaa as-Saadah al-Usariyah, Amir bin Isa al-Lahw (Staff Dosen di Kulliah al-Muallimin, Dammam, KSA.)






Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php/?pilih=lihatannur&id=940