Artikel : Bulein Annur - Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits

Kejujuran yang Tercela

Selasa, 05 Mei 15

Selarasnya ucapan dengan isi hati dan tindakan, itulah kejujuran. Kejujuran adalah lawan kebohongan. Kejujuran merupakan sikap yang mulia, sementara kebohongan merupakan sikap tercela. Kejujuran, pada asalnya dianjurkan dan merupakan sikap yang terpuji, sementara kebohongan dilarang dan merupakan sikap yang tercela. Barangkali, judul dalam tulisan ini membuat para pembaca yang budiman bertanya-tanya, adakah kejujuran yang tercela ? , jika ada, apa contohnya ?, maka kami jawab, ada. Adapun contohnya seperti yang akan penulis uraikan dalam tulisan berikut ini.

Ghibah

Pembaca yang budiman
Ghibah, menggunjing, inilah salah satu contoh bentuk kejujuran yang tercela yang akan penulis bahas di sini.

Ghibah, meskipun jujur tetapi sebenarnya adalah khianat dan menodai harga diri bisa menimbulkan rasa dengki dan hasad dan khianat, maka Allah berfirman,


[ : 12]


Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.(Qs. al-Hujurat : 12)

Sebagaimana tidak boleh memakan daging bangkai teman sendiri maka tidak boleh ghibah ketika masih hidup. Lebih jelas lagi setelah melihat penuturan Rasulullah berikut ini, Apakah kalian tahu apa itu ghibah ? mereka berkata, Allah dan RasulNya lebih tahu. Beliau bersabda, jika kamu menyebut saudaramu tentang apa yang ia benci maka kamu telah melakukan ghibah. Beliau ditanya, bagaimana jika sesuatu yang saya katakan ada pada saudaraku ? beliau bersabda, bila sesuatu yang kamu bicarakan ada padanya maka kamu telah melakukan ghibah dan bila yang kamu bicarakan tidak ada maka kamu telah membuat kebohongan atasnya (HR. Muslim, no. 2589)

Pembaca yang budiman:
Perhatikanlah bagaimana cara Rasulullah mendidik istri tercinta Aisyah, ketika seorang wanita datang kepada nabi untuk meminta fatwa dan setelah keluar maka Aisyah berkata, betapa pendeknya wanita itu ! Maka Nabi bersabda, Kamu telah menggunjingnya atau beliau bersabda, hati-hatilah terhadap perbuatan ghibah ! Aisyah berkata, Wahai Rasulullah, saya tidak mengatakan kecuali tentang sesuatu yang ada padanya ! Beliau bersabda, bukankah engkau menyebut keburukannya ? atau beliau bersabda, itulah ghibah, bila tidak ada padanya maka kamu telah membuat kebohongan (Lihat, Adabud Dunya Wad Din, hal 421 dan Tanbighul Ghafilin, hal. 161 hadits ada di Musnad Ahmad, 6/189-206)

Ghibah adalah Haram dan Termasuk Dosa Besar

Ibnu Katsir berkata, Ghibah diharamkan menurut kesepakatan para ulama. Tidak ada pengecualian darinya, kecuali bila tampak menonjol kemaslahatannya. Seperti dalam konteks Jarh Wa Tadil (kritik terhadap perawi hadis) dan nasehat. (Tafsir Ibnu Katsir, 7/380)

Imam al-Qurthubi berkata, konsensus ulama menyatakan bahwasanya ghibah termasuk salah satu dosa besar. Dan, (pelakunya) wajib bertaubat kepada Allah ta'ala darinya.

Bahkan, dosa ini sebanding dengan dosa pembunuhan, riba, dan dosa-dosa besar yang lain. (Al Jami li Ahkam Al Quran, 16/337)

Rasulullah bersabda:


:


Sesungguhnya termasuk riba yang paling besar (dalam riwayat lain: termasuk dari sebesar besarnya dosa besar) adalah memperpanjang dalam membeberkan aib saudaranya muslim tanpa alasan yang benar.(HR. Abu Dawud, no. 4866)

Ghibah Membahayakan

Pembaca yang budiman,
hadis diatas disamping mengisyaratkan bahwa tidak selayaknya lisan seorang muslim digunakan untuk menggunjing orang lain,juga mengisyaratkan sebuah bahaya, yaitu bahwa pelakunya berdosa. Tidak diragukan bahwa dosa perkara yang membahayakan. Betapa tidak, sementara ia adalah noktah hitam yang berpotensi menutup hati yang bercahaya, sebagaimana Rasulullah bersabda:


:


Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan. Apabila ia kembali (berbuat maksiat), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan ar raan yang Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.(HR. At Tirmidzi, no. 3334 dan yang lainnya)

Bila hati telah tertutup oleh noktah-noktah hitam dosa di dunia ini, apalagi kebaikan yang diharapkan padanya ?. Lidahnya terbiasa mengucapkan kata-kata buruk, jiwa dan raganya tunduk dan patuh kepada setan musuhnya untuk bersama-sama dengannya kelak di dalam Neraka.



Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni Neraka yang menyala-nyala (Qs. Fathir : 6)

Ghibah Menjadikan Ibadah Tak Berpahala

Pada zaman Rasulullah ada dua wanita yang sedang berpuasa menggunjing orang, lalu hal itu dihabarkan kepada Nabi maka beliau bersabda, Mereka berdua berpuasa dari sesuatu yang halal tetapi berbuka dengan sesuatu yang haram (Adabud Dundya wad Din, hal. 420)

Siksaan yang Mengerikan

Di akhirat kelak para pelaku ghibah akan mendapat siksaan yang mengerikan sebagaimana digambarkan oleh Rasulullah dalam sabdanya:


:


Ketika aku miraj (naik di langit), aku melewati suatu kaum yang kuku-kukunya dari tembaga dalam keadaan mencakar wajah-wajah dan dada-dadanya. Lalu aku bertanya : Siapakah mereka itu wahai malaikat Jibril? Malaikat Jibril menjawab: Mereka adalah orang-orang yang memakan daging-daging manusia dan merusak kehormatannya. (HR. Abu Dawud, no. 4878 dan lainnya)

Oleh karenanya, berhati-hatilah dengan lisan Anda, berhati-hatilah dari menggunjing saudara Anda, karena hal tersebut membahayakan Anda.

Alangkah bagusnya pesan Yahya bin Muadz Ar-razi, ia berkata, hendaklah kamu berbuat baik kepada saudaramu dengan tiga hal ;
1.Jika kamu tidak bisa memberi manfaat maka janganlah kamu membuat kerugian kepadanya
2.Jika kamu tidak bisa membuat senang maka janganlah kamu membuatnya bersedih
3.Jika tidak bisa memujinya maka janganlah kamu mencelanya

Ghibah yang Dibolehkan

Pembaca yang budiman,
meski secara asal ghibah itu terlarang, namun pada kondisi tertentu dibolehkan, misalnya,
1.Merasa terzhalimi
Aisyah meriwayatkan, bahwa Hindun bintu Utbah berkata, wahai Rasulullah ! Sesunguhnya Abu Sufyan adalah orang yang sangat pelit, dan tidak memberiku nafkah yang bisa mencukupiku dan anakku, kecuali apa yang aku ambil darinya tanpa sepengetahuannya ! Lalu beliau bersabda, Ambillah apa yang bisa mencukupimu dan anakmu dengan baik (HR. al-Bukhari (7/85) dan Muslim, no.1714)

2.Mencari fatwa
Seperti mengatakan kepada seorang mufti, saudaraku atau si fulan telah menzalimiku. Lalu bagaimana caraku untuk bisa selamat ?

3.Meminta tolong untuk mencegah suatu kemunkaran

4.Melarang dan menasehati kaum muslimin dari para pelaku kejelekan.
Begitu pula, bermusyawarah dalam urusan nikah, berserikat, dan lain sebagainya.

5.Menyebut orang yang terang-terangan melakukan kejelekan.
Aisyah berkata, Seorang lelaki minta izin (untuk menghadap) Rasulullah, lalu beliau bersabda, Izinkanlah dia. Seburuk-buruk keluarga, atau anak keluarga. Ketika laki-laki itu masuk, beliau melembutkan ucapan kepadanya. Aku katakan, Wahai Rasulullah Anda telah mengatakan apa yang telah Anda katakan, tapi kemudian Anda melembutkan ucapan kepadanya ? Beliau bersabda, Wahai Aisyah sesungguhnya sejelek-jelek manusia adalah orang yang ditinggalkan orang lain, karena takut terhadap kekejiannya (HR. al-Bukhari (8/20) dan Muslim, no. 2591)

Imam an-Nawawi dalam kitabnya Riyadhush shalihin berkata, imam al-Bukhari telah berhujjah dengan hadis ini tentang bolehnya menggunjing para pelaku kerusakan dan pembuat keragu-raguan.

6.Untuk memperkenalkan
Jikalau seseorang dikenal dengan julukan atau gelar tertentu, seperti pincang, tuli, buta dan lain sebagainya. Dan, tidak boleh menyatakannya dalam bentuk ejekan dan penghinaan. Jika memungkinkan untuk memperkenalkan orang tersebut dengan cara lain, tentunya itu lebih mulia dan utama mengingat sabda Nabi, sesunguhnya seseorang akan mendatangi kalian dari arah Yaman yang disebut Uwais, dia tidak meninggalkan di Yaman selain ibunya. Dia terkena penyakit sopak, lalu dia berdoa kepada Allah, hingga Allah menghilangkan penyakitnya dari dirinya, kecuali tinggal sebesar mata uang dinar dan dirham. Maka barangsiapa di antara kalian menjumpainya, mintalah dia memohonkan ampunan untuk kalian (HR. Muslim).

Pembaca yang budiman,
demikianlah bahasan singkat salah satu contoh bentuk kejujuran yang tercela yaitu, ghibah, semoga Allah memberikan taufik kepada kita untuk meninggalkannya. Aamiin.
Wallahu alam (Redaksi)

Referensi :
1.Ash Shidqu Wa ash Shadiquuna Fii al-Quran al-Adzim Wa assunnah an-Nabawiyyah, Ahmad Khalil Jumuah
2.Hasha-idu al-Alsuni, Husain al-Awayisyah


Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php/?pilih=lihatannur&id=780