Artikel : Bulein Annur - Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits

Ramadhan Anugerah Nan Agung

Jumat, 20 Februari 26

Sungguh Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì telah menganugerahkan kepada para hamba-Nya anugerah yang sangat banyak, tak terhitung dan terbilang jumlahnya.


æóÅöäú ÊóÚõÏøõæÇ äöÚúãóÊó Çááøóåö áóÇ ÊõÍúÕõæåóÇ Åöäøó ÇáúÅöäúÓóÇäó áóÙóáõæãñ ßóÝøóÇÑñ [ÅÈÑÇåíã : 34]


“Dan jika kamu menghitung nitmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari nikmat.” (Ibrahim : 34)

Ada nikmat-nikmat yang bersifat mutlak dan ada pula nikmat-nikmat yang bersifat terikat. Ada nikmat-nimat yang bersifat diniyyah (agama) dan ada nikmat-nikmat yang bersifat duniawiyah (keduniawian). Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì menunjukkan para hamba kepada nikmat-nikmat tersebut dan memberikan petunjuk kepada mereka kepada nikmat-nikmat tersebut, serta menyeru mereka untuk berjalan menuju ke Daarus-salam (Surga).


æóÇááøóåõ íóÏúÚõæ Åöáóì ÏóÇÑö ÇáÓøóáóÇãö æóíóåúÏöí ãóäú íóÔóÇÁõ Åöáóì ÕöÑóÇØò ãõÓúÊóÞöíãò [íæäÓ : 25]


“Dan Allah menyeru (manusia) ke Darus-salam (surga), dan memberikan petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus (Islam).” (Yunus : 25)

Dan Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì melindungi mereka pada akal mereka dan badan mereka, serta memberikan rizki kepada mereka yang baik-baik, menundukkan bagi mereka apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi ; dan setiap pemberian ini dari-Nya ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì adalah agar para hamba bersyukur kepada-Nya dan supaya mereka menyembah-Nya semata, tidak ada sekutu bagi-Nya ; agar mereka memperoleh keridhaan-Nya dan agar mereka sukses dengan mendapatkan karunia-Nya dan rahmat-Nya.

Dan sesungguhnya termasuk pemberian dan karunia-Nya nan agung yang diberikan kepada para hamba-Nya yang beriman adalah bahwa Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì mensyariatkan bagi mereka puasa bulan Ramadhan yang penuh berkah. Dan Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì menjadikan puasa tersebut sebagai salah satu rukun agama nan agung dan sebagai pondasinya yang mana agama itu akan tegak di atasnya. Dan, ketika puasa Ramadhan tersebut termasuk karunia nan agung yang Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì anugerahkan kepada para hamba-Nya, Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì menutup ayat-ayat yang mana seseorang diperintahkan untuk berpuasa pada bulan Ramadhan dengan firman-Nya ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì :


æóáóÚóáøóßõãú ÊóÔúßõÑõæäó [ÇáÈÞÑÉ : 185]


“Dan agar mereka bersyukur.” (al-Baqarah : 185) ; karena kesyukuran itu merupakan tujuan dari penciptaan makhluk dan dikaruniakannya berbagai macam bentuk kenikmatan kepada mereka.

Asal syukur dan hakikatnya adalah pengakuan terhadap pemberian sang pemberi yang dilakukan dengan penuh ketundukan, kerendahan, dan kecintaan kepada-Nya. Maka, barang siapa tidak mengenal kenikmatan, bahkan ia bodoh perihal kenikmatan tersebut, maka sejatinya ia belum mensyukurinya. Begitu pula, barang siapa mengenal kenikmatan itu, sedangkan dia tidak mengenal sang pemberinya, maka hakekatnya ia pun belum juga mensyukurinya.

Sedangkan siapa yang mengenal kenikmatan tersebut dan mengenal pula sang pemberinya, akan tetapi ia mengingkarinya sebagaimana orang yang mengingkari terhadap kenikmatan yang diberikan oleh sang pemberi kepada dirinya, maka sungguh ia telah mengingkari kenikmatan tersebut.

Adapun siapa yang mengenal kenikmatan tersebut dan mengenal pula sang pemberinya, ia mengakui kenikmatan tersebut dan tidak mengingkarinya, namun ia tidak tunduk kepada-Nya, tidak mencintai-Nya dan tidak ridha terhadap-Nya dan tidak pula ridha akan anugerah-Nya, maka belumlah ia dikatakan mensyukurinya.

Adapun siapa yang telah megenal kenikmatan tersebut dan telah mengetahui pula sang pemberinya, ia pun tunduk kepada-Nya, mencintai-Nya dan ridha dengan-Nya dan ridha pula dengan anugerah yang telah diberikan kepadanya, ia pun menggunakan kenikmatan tersebut dalam hal-hal yang dicintai-Nya dan dalam ketaatan kepada-Nya, maka inilah dia orangnya yang telah mensyukuri kenikmatan tersebut. [1]

Dengan ini menjadi jelas bahwa syukur dibangun di atas lima pilar ; (1) ketundukan orang yang bersyukur terhadap Dzat yang disyukuri, (2) kecintaannya terhadap-Nya, (3) pengakuannya dengan kenikmatan yang dikaruniakan-Nya, (4) sanjungan dan pujiannya terhadap-Nya karena pemberian-Nya, (5) tidak menggunakan kenikmatan tersebut dalam hal yang dibenci-Nya. Inilah lima pilar yang merupakan asas (pondasi) kesyukuran dan bangunannya. Maka, kapan satu saja dari lima pilar kesyukuran ini tidak ada, maka berarti telah terjadi kepincangan satu pilar dari pilar-pilar kesyukuran ini. Dan, setiap orang yang berbicara perihal syukur dan membatasi pembicaraannya, niscaya perkataannya tentang mensyukurinya berpulang kepada kelima pilar ini dan di sekitar inilah pembicaraannya bakal berkutat. [2]

Dan manusia itu, mereka bertingkat-tingkat dengan rentang tingkatan yang cukup besar dalam hal merealisasikan kesyukuran karena adanya perbedaan di kalangan mereka dalam hal ilmu tentang perkara-perkara yang mewajibkan mereka untuk mengenal sang Pencipta Yang Mulia, Rabb (Tuhan) Dzat yang Maha Agung, dan sang Pemberi Karunia yang Maha Dermawan. Maka, di antara mereka ada orang yang mengenal Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì dengan perincian nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya. Keelokan makhluk-makhluk-Nya dan apa-apa yang dilakukan-Nya. Keindahan nikmat-nikmat-Nya dan pemberian-pemberian-Nya ; sehingga hatinya penuh dengan rasa cinta pada-Nya, lisannya tekun menyanjung dan memuji-Nya, anggota badannya lentur melakukan hal-hal yang diridhai-Nya, ia mengakui segala kenikmatan yang dikaruniakan-Nya kepada dirinya, dan dia pun menggunakannya dalam hal-hal yang dicintai-Nya dan diridhai-Nya.

Dan di antara mereka ada orang yang mengotori dirinya dengan kelalaian dari Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì dan tidak mengenal-Nya, maka tidaklah ia menambah dari Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì melainkan kejauhan disebabkan karena keingkaran dan penentangannya, atau karena pengenalannya terhadap Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì, namun tidak ada dalam dirinya ketundukan terhadap perintah dan syariat-Nya.

Dan, bulan Ramadhan yang penuh berkah merupakan anugerah ilahi dan pemberian Rabb terhadap para hamba. Agar orang-orang yang beriman bertambah keimanannya dan agar bertaubat orang-orang yang berlumur dengan dosa.

Sungguh, Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì telah mengistimewakan bulan ini dengan beberapa keistimewaan dan membedakannya dengan berbagai ragam perbedaan yang hanya dimilikinya dan tidak ada pada bulan-bulan lainnya. Kita akan menelisiknya sejenak sebagian dari keistimewaan tersebut agar kita tahu keagungan nikmat ini yang Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì karuniakan kepada kita, agar kita dapat bersyukur kepada-Nya dengan sebenar-benar kesyukuran dan beribadah kepada-Nya dengan sebenar-benarnya.

Sesungguhnya bulan Ramadhan yang mulia-bulan Puasa-memiliki kekhususan dengan al-Qur’an. Karena dia adalah bulan diturunkannya al-Qur’an yang mulia yang berfungsi sebagai petunjuk bagi manusia. Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman :


ÔóåúÑõ ÑóãóÖóÇäó ÇáøóÐöí ÃõäúÒöáó Ýöíåö ÇáúÞõÑúÂäõ åõÏðì áöáäøóÇÓö æóÈóíøöäóÇÊò ãöäó ÇáúåõÏóì æóÇáúÝõÑúÞóÇäö [ÇáÈÞÑÉ : 185]


“Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil).” (al-Baqarah : 185)

Dalam ayat yang mulia ini, sungguh Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì telah memuji bulan puasa di antara seluruh bulan-bulan lainnya dengan bahwa Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì memilihnya untuk menurunkan al-Qur’an yang agung. Bahkan telah valid disebutkan dalam hadis bahwasanya bulan inilah bulan di mana kitab-kitab Ilahi diturunkan kepada para nabi.

Dalam Musnad imam Ahmad dan al-Mu’jam al-Kabir karya imam ath-Thabrani disebutkan dari hadis Watsilah Ibn al-Asqa’, bahwa Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bersabda :


ÃõäúÒöáóÊú ÕõÍõÝõ ÅöÈúÑóÇåöíãó Úóáóíúåö ÇáÓøóáóÇãõ Ýöí Ãóæøóáö áóíúáóÉò ãöäú ÑóãóÖóÇäó æóÃõäúÒöáóÊú ÇáÊøóæúÑóÇÉõ áöÓöÊøò ãóÖóíúäó ãöäú ÑóãóÖóÇäó æóÇáúÅöäúÌöíáõ áöËóáóÇËó ÚóÔúÑóÉó ÎóáóÊú ãöäú ÑóãóÖóÇäó æóÃõäúÒöáó ÇáúÝõÑúÞóÇäõ áöÃóÑúÈóÚò æóÚöÔúÑöíäó ÎóáóÊú ãöäú ÑóãóÖóÇäó


“Shuhuf (lembaran) Ibrahim Úóáóíúåö ÇáÓøóáóÇã diturunkan pada awal malam Ramadhan. Taurat diturunkan pada hari keenam dari Ramadhan. Injil pada hari ketiga belas dari bulan Ramadhan. Dan, al-Furqan (al-Qur’an) diturunkan pada hari kedua puluh empat bulan Ramadhan.” [3]

Maka, hadis ini menunjukkan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan dimana kitab-kitab ilahi diturunkan kepada para Rasul. Namun, kitab-kitab yang diturunkan tersebut adalah kitab-kitab yang diturunkan kepada Nabi yang diturunkan kepadanya sekaligus. Adapun al-Qur’an yang mulia, maka karena kemuliaannya memiliki nilai lebih dan karena agungnya keutamaannya, ia diturunkan sekaligus ke Baitul Izzah dari langit dunia, dimana hal itu terjadi pada malam lailatul qadar di bulan Ramadhan yang penuh berkah. Sebagaimana Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman :


ÅöäøóÇ ÃóäúÒóáúäóÇåõ Ýöí áóíúáóÉö ÇáúÞóÏúÑö [ÇáÞÏÑ : 1]


“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur’an) pada malam Qadar (al-Qadar : 1)

Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì juga berfirman :


ÅöäøóÇ ÃóäúÒóáúäóÇåõ Ýöí áóíúáóÉò ãõÈóÇÑóßóÉò ÅöäøóÇ ßõäøóÇ ãõäúÐöÑöíäó [ÇáÏÎÇä : 3]


“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang diberkahi. Sungguh, Kamilah yang memberi peringatan.” (ad-Dukhan : 3)

Kemudian, setelah itu turun secara berangsur-angsur sesuai peristiwa dan kejadian, di mana beliau membacakan sebagian demi sebagian.

Dan dalam hal ini terdapat petunjuk yang menunjukkan akan agungnya kedudukan bulan puasa –bulan Ramadhan yang penuh berkah-, dan bahwa bulan ini memiliki keistimewaan dengan al-Qur’an al-Karim. Dimana di dalamnya ummat ini mendapatkan keutamaan nan besar ini dari Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì , turunnya wahyu-Nya nan agung dan firman-Nya yang mulia yang berisikan petunjuk,


åõÏðì áöáäøóÇÓö æóÈóíøöäóÇÊò ãöäó ÇáúåõÏóì æóÇáúÝõÑúÞóÇäö [ÇáÈÞÑÉ : 185]


“Sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil).”

Hidayah (petunjuk) untuk kemaslahatan agama dan dunia. Dan, di dalamnya terdapat penjelasan kebenaran dengan sejelas-jelasnya penjelasan. Di dalamnya terdapat pembeda antara petunjuk dan kesesatan, kebenaran dan kebatilan, kegelapan-kegelapan dan cahaya.

Kemudian, pada bulan Ramadhan terdapat Lailatul Qadar yang dikatakan oleh Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì tentangnya,


æóãóÇ ÃóÏúÑóÇßó ãóÇ áóíúáóÉõ ÇáúÞóÏúÑö (2) áóíúáóÉõ ÇáúÞóÏúÑö ÎóíúÑñ ãöäú ÃóáúÝö ÔóåúÑò (3) [ÇáÞÏÑ : 2 ¡ 3]


Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu ?
Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan (al-Qadar : 2-3)

Yakni, amal yang dilakukan di dalamnya adalah lebih baik daripada amal yang dilakukan pada 1000 bulan lainnya. Dan, begitu pula halnya pahalanya.

Dan, puasa pada bulan ini merupakan sebab terampuninya dosa-dosa.

Abu Hurairah ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ meriwayatkan bahwa Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bersabda :


ãóäú ÕóÇãó ÑóãóÖóÇäó ÅöíãóÇäðÇ æóÇÍúÊöÓóÇÈðÇ ÛõÝöÑó áóåõ ãóÇ ÊóÞóÏøóãó ãöäú ÐóäúÈöåö


“Barang siapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala, niscaya dosa-dosanya yang telah lalu diampuni.” [4]

Yakni, karena iman kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì dan ridha dengan diwajibkannya puasa atas dirinya, dan ihtisaban, mengharapkan pahala dan ganjarannya. Ia tidak benci terhadap diwajibkannya puasanya, dan ia pun tidak ragu tentang adanya pahala dan ganjarannya; niscaya Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu.

Dan di dalam Shahih Muslim, Abu Hurairah ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ juga meriwayatkan bahwa Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bersabda :


ÇáÕøóáóæóÇÊõ ÇáúÎóãúÓõ æóÇáúÌõãõÚóÉõ Åöáóì ÇáúÌõãõÚóÉö æóÑóãóÖóÇäõ Åöáóì ÑóãóÖóÇäó ãõßóÝøöÑóÇÊñ ãóÇ Èóíúäóåõäøó ÅöÐóÇ ÇÌúÊóäóÈó ÇáúßóÈóÇÆöÑó


“Shalat lima waktu, Jum’at ke Jum’at berikutnya, dan Ramadhan ke Ramadhan berikutnya merupakan penggugur dosa-dosa yang dilakukan di antara waktu-waktu itu, bila seseorang menjauhi dosa-dosa besar.” [5]

Sebagai tambahan dari apa yang telah disebutkan, sesungguhnya barang siapa melakukan shalat malam (shalat tarawih) pada bulan Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala, niscaya dosa-dosanya yang telah lalu juga diampuni. Dan, bahwasanya pada bulan Ramadhan, para setan dibelenggu, pintu-pintu Surga dibuka, pintu-pintu Neraka ditutup. Dan, di bulan ini, Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì memiliki orang-orang yang dibebaskan dari Neraka, dan itu terjadi setiap malamnya.

Pada bulan yang penuh berkah ini juga Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì menolong kaum Muslimin atas musuh-musuh mereka dari kalangan orang-orang Musyrik, yaitu pada peristiwa ‘Ghazwatu Badr al-Kubra’ (Perang Badar yang Besar). Jumlah kaum Musyrikin pada perang itu adalah tiga kali lipat jumlah kaum Muslimin.

Pada bulan ini pula, terjadi penaklukan kota Makkah al-Mukaromah negeri yang aman di tangan Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó dan beliau menyucikannya dari berhala-berhala (yang dipertuhankan dan disembah oleh orang-orang Musyrik), di mana kala itu jumlah berhala-berhala yang ada di Ka’bah dan sekitarnya sebanyak 360 berhala. Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó mematahkan, merobohkan, dan menghancurkannya sambil mengatakan :


æóÞõáú ÌóÇÁó ÇáúÍóÞøõ æóÒóåóÞó ÇáúÈóÇØöáõ Åöäøó ÇáúÈóÇØöáó ßóÇäó ÒóåõæÞðÇ [ÇáÅÓÑÇÁ : 81]


Dan katakanlah, “Kebenaran telah datang dan yang batil telah lenyap.” Sungguh, yang batil itu pasti lenyap. (al-Isra’ : 81)

Dengan demikian, Ramadhan merupakan bulan penuh kesungguhan, penuh kesemangatan, dan penuh produktifitas amal. Maka, bulan yang ini keutamaannya dan ini kebaikan yang Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berikan kepada para hamba-Nya pada bulan ini, selayaknya para hamba-Nya benar-benar mengagungkannya. Dan hendaknya bulan ini menjadi sebuah musim untuk memaksimalkan ibadah bagi mereka dan sebagai bekal untuk hari kembali (kehidupan akhirat).

Ya Allah ! Jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mengerti kedudukan, kehormatan dan kemuliaan bulan ini. Dan, bimbinglah kami untuk dapat mengisinya dengan hal-hal yang menjadikan Engkau ridha. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.

Ya Allah ! Bimbinglah kami untuk mentaati-Mu. Dan, bantulah kami untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu dan memperbagus ibadah kepada-Mu.

Mudahkanlah kami kepada kemudahan.

Cukupkanlah untuk kami kenikmatan ini dengan menunaikan hak tamu nan mulia ini. Dan, bantulah kami untuk melaksanakan puasanya, shalat malamnya dan kebaikan adab di dalamnya, wahai Rabb semesta alam.

(Redaksi)

Sumber :

Syahru Ramadhan Minnatun ‘Uzhma, dalam Maqaalaat Ramadhaniyah, Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin al-Badr, hal.15-20.

Catatan :

[1] Thariqu al-Hijratain, hal. 175.

[2] Madarij as-Salikin, 2/244.

[3] HR. Ahmad (16921), dan Ath-Thabrani di dalam al-Mu’jam al-Kabir (17646). Dan, lafazh ini milik imam Ahmad, dan al-Albani menghasankannya di dalam as-Silsilah ash-Shahihah (1575).

[4] HR. al-Bukhari (2014) dan Muslim (760)

[5] HR. Muslim (233)



Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php/?pilih=lihatannur&id=1159