Artikel : Bulein Annur - Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits

Lima Perkara Untuk Kalian

Jumat, 13 Februari 26

Imam Ahmad telah meriwayatkan dari Abu Hurairah ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ bahwa Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bersabda :


ÃõÚúØöíóÊú ÃõãøóÊöí ÎóãúÓó ÎöÕóÇáò Ýöí ÑóãóÖóÇäó áóãú ÊõÚúØóåóÇ ÃõãøóÉñ ÞóÈúáóåõãú ÎõáõæÝõ Ýóãö ÇáÕøóÇÆöãö ÃóØúíóÈõ ÚöäúÏó Çááøóåö ãöäú ÑöíúÍö ÇáúãöÓúßö æóÊóÓúÊóÛúÝöÑõ áóåõãú ÇáúãóáóÇÆößóÉõ ÍóÊøóì íõÝúØöÑõæÇ æóíõÒóíøöäõ Çááøóåõ ÚóÒøó æóÌóáøó ßõáøó íóæúãò ÌóäøóÊóåõ Ëõãøó íóÞõæáõ íõæÔößõ ÚöÈóÇÏöí ÇáÕøóÇáöÍõæäó Ãóäú íõáúÞõæÇ Úóäúåõãú ÇáúãóÆõæäóÉó æóÇáúÃóÐóì æóíóÕöíÑõæÇ Åöáóíúßö æóíõÕóÝøóÏõ Ýöíåö ãóÑóÏóÉõ ÇáÔøóíóÇØöíäö ÝóáóÇ íóÎúáõÕõæÇ Åöáóì ãóÇ ßóÇäõæÇ íóÎúáõÕõæäó Åöáóíúåö Ýöí ÛóíúÑöåö æóíõÛúÝóÑõ áóåõãú Ýöí ÂÎöÑö áóíúáóÉò Þöíáó íóÇ ÑóÓõæáó Çááøóåö Ãóåöíó áóíúáóÉõ ÇáúÞóÏúÑö ÞóÇáó áóÇ æóáóßöäøó ÇáúÚóÇãöáó ÅöäøóãóÇ íõæóÝøóì ÃóÌúÑóåõ ÅöÐóÇ ÞóÖóì Úóãóáóåõ


“Umatku diberikan lima hal yang belum pernah diberikan kepada umat-umat sebelumnya ketika Ramadhan :
(1) Bau mulut orang yang berpuasa itu lebih baik dari wangi misik di sisi Allah.
(2) Para Malaikat beristighfar untuk mereka hingga berbuka.
(3) Allah memperindah Surga-Nya setiap hari, seraya berfirman kepadanya : ‘Hampir-hampir para hamba-Ku akan mencampakkan berbagai kesukaran dan penderitaan lalu kembali kepadamu.’
(4) Setan-setan durjana dibelenggu, tidak dibiarkan lepas seperti dalam bulan-bulan selain Ramadhan.
(5) Mereka akan mendapat ampunan di akhir malam.’

Ada yang bertanya, ‘Wahai Rasulullah apakah itu terjadi pada malam Lailatul Qadar ?’

Beliau menjawab, ‘Bukan. Namun pelaku kebaikan akan disempurnakan pahalanya seusai menyelesaikan amalnya.” [1]

Saudara-saudaraku, ini adalah lima perkara yang Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì persiapkan untuk kalian. Dengan lima perkara tersebut kalian mendapat kekhususan dari Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì di antara umat-umat lainnya. Itu semua diberikan agar Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì menyempurnakan berbagai nikmat-Nya kepada kalian.

Sungguh, betapa banyak nikmat dan keutamaan yang Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì telah berikan kepada kalian, sebagaimana firman-Nya :


ßõäúÊõãú ÎóíúÑó ÃõãøóÉò ÃõÎúÑöÌóÊú áöáäøóÇÓö ÊóÃúãõÑõæäó ÈöÇáúãóÚúÑõæÝö æóÊóäúåóæúäó Úóäö ÇáúãõäúßóÑö æóÊõÄúãöäõæäó ÈöÇááøóåö [Âá ÚãÑÇä : 110]


“Kamu adalah ummat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah...” (Qs. Ali-‘Imran : 110)

Perkara pertama :


ÎõáõæÝõ Ýóãö ÇáÕøóÇÆöãö ÃóØúíóÈõ ÚöäúÏó Çááøóåö ãöäú ÑöíÍö ÇáúãöÓúßö


“Bau mulut orang yang berpuasa itu lebih baik dari wangi misik di sisi Allah.” [2]

Kata ÇóáúÎõáõæúÝõ , huruf kha’ (Î)-nya bisa dibaca dengan fathah (ÇóáúÎóáõæúÝõ ) atau dhammah (ÇóáúÎõáõæúÝõ ), artinya adalah perubahan bau mulut ketika lambung kosong dari makanan. Ini adalah bau yang dibenci oleh manusia, namun ia lebih wangi dari misik di sisi Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì, sebab ia terlahir dari ibadah dan ketaatan kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì. Apa saja yang timbul dari ibadah dan ketaatan kepada-Nya tentu akan dicintai-Nya, dan pelakunya akan diberikan sesuatu yang lebih baik sebagai gantinya. Tidakkah engkau lihat bahwa orang yang mati syahid di jalan Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì dalam rangka meninggikan kalimat-Nya itu akan datang di hari Kiamat dengan darah yang mengalir, warnanya adalah warna darah, namun baunya adalah wangi misik ?

Demikian juga ketika haji, Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì membanggakan orang-orang yang tengah wuquf di ‘Arafah kepada para Malaikat-Nya.

Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇóáóì berfirman :


ÇäúÙõÑõæÇ Åöáóì ÚöÈóÇÏöí åóÄõáóÇÁö ÌóÇÄõæúäöí ÔõÚúËðÇ ÛõÈúÑðÇ


“Lihatlah para hamba-Ku. Mereka datang kepada-Ku dalam keadaan rambut kusut dan berdebu.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban di dalam Shahihnya) [3]

Rambut kusut dalam kondisi ini dicintai oleh Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì kerena ia timbul disebabkan ketaatan kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì dengan meninggalkan larangan-larangan dalam ihram dan kemewahan hidup.

Perkara kedua :


æóÊóÓúÊóÛúÝöÑõ áóåõãú ÇáúãóáóÇÆößóÉõ ÍóÊøóì íõÝúØöÑõæÇ


Para Malaikat akan beristighfar untuk orang-orang yang mengerjakan ibadah puasa hingga mereka berbuka.

Para Malaikat adalah para hamba-Nya yang dimuliakan di sisi-Nya, di mana Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì menyifati mereka dengan firman-Nya :


áóÇ íóÚúÕõæäó Çááøóåó ãóÇ ÃóãóÑóåõãú æóíóÝúÚóáõæäó ãóÇ íõÄúãóÑõæäó [ÇáÊÍÑíã : 6]


“Yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (Qs. at-Tahrim : 6)

Maka sungguh layak jika Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì mengabulkan doa para Malaikat untuk orang yang berpuasa. Sebab, mereka pun memang telah diizinkan untuk itu. Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì mengizinkan para Malaikat untuk beristighfar bagi mereka adalah dalam rangka mengangkat, meninggikan penyebutan, serta menjelaskan keutamaan puasa ummat ini.

Makna istighfar adalah meminta ampunan, yaitu dengan menutupi dan memaafkan dosa, baik di dunia maupun di akhirat. Ini adalah keinginan sekaligus tujuan yang tertinggi. Seluruh anak Adam pasti sering berbuat salah dan bersikap melampaui batas terhadap diri mereka sendiri. Mereka benar-benar membutuhkan ampunan Allah ÚóÒøó æóÌóáøó.

Perkara ketiga :


æóíõÒóíøöäõ Çááøóåõ ÚóÒøó æóÌóáøó ßõáøó íóæúãò ÌóäøóÊóåõ


Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì memperindah Surga setiap hari, sebagai persiapan untuk para hamba-Nya yang shalih, dan dalam rangka memotivasi mereka untuk memasukinya.

Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman kepada Surga :


íõæÔößõ ÚöÈóÇÏöí ÇáÕøóÇáöÍõæäó Ãóäú íõáúÞõæÇ Úóäúåõãú ÇáúãóÆõæäóÉó æóÇáúÃóÐóì


‘Hampir-hampir para hamba-Ku akan mencampakkan berbagai kesukaran dan penderitaan.”

Yang dimaksud dengan hadis ini adalah mereka mencampakkan kesukaran dan penderitaan dunia, serta giat melakukan amal-amal shaleh yang mengantarkan mereka kepada Surga, sekaligus mengandung kebahagiaan mereka di dunia dan akhirat.

Perkara keempat :


æóíõÕóÝøóÏõ Ýöíåö ãóÑóÏóÉõ ÇáÔøóíóÇØöíäö


Setan-setan pembangkang diikat dengan rantai dan belenggu, [4] sehingga mereka tidak bisa menyesatkan hamba-hamba Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì yang shaleh dari kebenaran, dan mencegah mereka dari kebaikan. Ini adalah salah satu pertolongan Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì kepada mereka. Musuh mereka diikat, sehingga tidak bisa mengajak golongannya untuk menjadi penghuni Neraka yang menyala-nyala. Oleh sebab itu, dapat engkau saksikan bahwa orang-orang shaleh mempunyai keinginan yang lebih tinggi untuk melakukan kebaikan dan menahan diri dari kejelekan dibandingkan pada bulan-bulan lainnya.

Perkara kelima :


æóíõÛúÝóÑõ áóåõãú Ýöí ÂÎöÑö áóíúáóÉò


Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì mengampuni ummat Muhammad di tiap akhir malam pada bulan ini.[5] Jika mereka melaksanakan apa yang seharusnya dikerjakan pada bulan mulia ini, berupa puasa dan shalat. Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì akan memberikan karunia dengan menyempurnakan pahala mereka pada saat mereka selesai mengerjakan amal-amal mereka, karena sesungguhnya orang yang beramal itu akan disempurnakan pahala amalannya setelah ia selesai mengerjakannya.

Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì memberikan karunia kepada para hamba-Nya dengan pahala tersebut dari tiga sisi :

Pertama : Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì mensyariatkan amal-amal shaleh kepada mereka sebagai sebab terampuninya dosa dan terangkatnya derajat mereka. Sekiranya Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì tidak mensyariatkan hal itu, tentulah mereka tidak beribadah kepada-Nya dengan amal-amal shalih tersebut. Sebab, ibadah itu tidak diambil melainkan dari wahyu Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì kepada Rasul-Nya. Oleh karena itu, Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì mengingkari orang-orang yang mengada-adakan syariat selain dari-Nya, dan menjadikan hal tersebut sebagai kesyirikan.

Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman :


Ãóãú áóåõãú ÔõÑóßóÇÁõ ÔóÑóÚõæÇ áóåõãú ãöäó ÇáÏøöíäö ãóÇ áóãú íóÃúÐóäú Èöåö Çááøóåõ [ÇáÔæÑì : 21]


“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah …” (asy-Syura : 21)

Kedua : mereka diberi taufik oleh Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì untuk mengerjakan amal shaleh yang sudah ditinggalkan oleh kebanyakan manusia. Sekiranya bukan karena taufik dan pertolongan Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì kepada mereka, tentulah mereka tidak akan mengerjakannya. Hanya milik Allah-lah segala keutamaan dan karunia dalam hal ini.


íóãõäøõæäó Úóáóíúßó Ãóäú ÃóÓúáóãõæÇ Þõáú áóÇ ÊóãõäøõæÇ Úóáóíøó ÅöÓúáóÇãóßõãú Èóáö Çááøóåõ íóãõäøõ Úóáóíúßõãú Ãóäú åóÏóÇßõãú áöáúÅöíãóÇäö Åöäú ßõäúÊõãú ÕóÇÏöÞöíäó [ÇáÍÌÑÇÊ : 17]


“Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah : ‘Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Dia-lah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar.” (Qs. al-Hujurat : 17)

Ketiga : Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì memberi karunia dengan pahala yang banyak. Satu kebaikan dibalas dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat, bahkan jauh lebih banyak dari itu. Karunia berupa amalan dan pahala adalah dari Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì semata, segala puji bagi-Nya. Dia-lah pemilik, pemelihara, dan pengatur alam semesta.

Saudara-saudaraku…

Ramadhan adalah nikmat yang besar bagi orang-orang yang mendapati dan menunaikan haknya. Yaitu dengan kembali kepada Rabbnya, dari kemaksiatan menuju ketaatan kepada-Nya, dari kelalaian menuju ingat kepada-Nya, dan dari jauhnya diri menuju taubat kepada-Nya.

Disebutkan dalam syair :


íóÇ ÐóÇ ÇáøóÐöí ãóÇ ßóÝóÇåõ ÇáÐøóäúÈõ Ýöí ÑóÌóÈò
ÍóÊøóì ÚóÕóìó ÑóÈøóåõ Ýöí ÔóåúÑö ÔóÚúÈóÇäö
áóÞóÏú ÃóÙóáøóßó ÔóåúÑõ ÇáÕøóæúãö ÈóÚúÏóåõãóÇ
ÝóáóÇ ÊõÕóíøöÑúåõ ÃóíúÖðÇ ÔóåúÑó ÚöÕúíóÇäö
æóÇÊúáõ ÇáúÞõÑúÂäó æóÓóÈøöÍú Ýöíúåö ãõÌúÊóåöÏðÇ
ÝóÅöäøóåõ ÔóåúÑõ ÊóÓúÈöíúÍò æóÞõÑúÂäö
ßóãú ßõäúÊó ÊóÚúÑöÝõ ãöãøóäú ÕóÇãó Ýöí ÓóáóÝò
ãöäú Èóíúäö Ãóåúáò æóÌöíúÑóÇäò æóÅöÎúæóÇäò
ÃóÝúäóÇåõãõ ÇáúãóæúÊõ æóÇÓúÊóÈúÞóÇßó ÈóÚúÏó åõãõæ
ÍóíøðÇ ÝóãóÇ ÃóÞÑóÈó ÇáúÞóÇÕöí ãöäó ÇáÏøóÇäöí


Wahai orang yang di bulan Rajab yang tidak menghentikan dosa, hingga ia mendurhakai Rabb-nya di bulan Sya’ban

Sesungguhnya bulan puasa menaungimu setelah keduanya, janganlah engkau jadikan juga sebagai bulan kemaksiatan

Bacalah al-Qur’an dan bertasbihlah dengan sungguh-sungguh, karena sesungguhnya ia adalah bulan tasbih dan al-Qur’an.

Betapa banyak yang engkau mengenal para pendahulumu berpuasa, dari kalangan keluarga, tetangga dan saudara.

Maut menyirnakan mereka, membiarkanmu hidup sepeninggal mereka, yang jauh akan menjadi dekat, alangkah cepatnya.

Ya Allah, bangunkanlah kami dari tidur dalam kelalaian, berilah taufiq kepada kami untuk berbekal dengan takwa sebelum akhirnya berpindah (ke alam lain (meninggal)). Berikanlah rizki kepada kami untuk memanfaatkan waktu dalam ketenangan. Ampunilah kami, kedua orang tua kami, dan seluruh kaum muslimin dengan rahmat-Mu, wahai Dzat yang Mahapenyayang di antara para penyayang.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó , beserta keluarga dan para Sahabatnya.

(Redaksi)

Sumber :

Majalis Syahri Ramadhan, Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin ÑóÍöãóåõ Çááåõ, Daar ats-Tsurayaa Li an-Nasyr, hal. 8-12.

Catatan :

[1] Diriwayatkan oleh al-Bazzar dan al-Baihaqi dalam kitab ats-Tsawab. Sanadnya lemah sekali. Namun sebagian lafazh hadis tersebut mempunyai beberapa syahid (penguat) yang shahih.

[2] Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim, tanpa menyebutkan bahwa ia merupakan kekhususan ummat ini.

[3] Shahih dengan beberapa syahid (penguat).

[4] al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dengan lafazh : ÕõÝöÏóÊú ÇáÔøóíóÇØöíúäõ (“Setan-setan dibelenggu.”). Ibnu Khuzaemah dengan lafazh : ÇáÔøóíóÇØöíúäõ ãóÑóÏóÉõ ÇáúÌöäøö (“Setan-setan dari golongan jin pembangkang.”). Dan dalam riwayat an-Nasa-i : ãóÑóÏóÉõ ÇáÔøóíóÇØöíúäö (“Setan-setan yang membangkang.”). Semua riwayat tersebut berasal dari Abu Hurairah ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ, tanpa disebutkan tentang pengkhususan ummat ini.

[5] al-Baihaqi menyebutkan riwayat yang semisalnya dari hadis Jabir ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ . Al-Mundziri berkomentar : “Sanadnya muqarrib (hampir bisa dijadikan hujjah), lebih shahih dari yang sebelumnya.” Maksudnya, ia lebih shahih daripada hadis Abu Hurairah ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ yang telah disebutkan sebelumnya.”





Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php/?pilih=lihatannur&id=1158