Artikel : Bulein Annur - Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits

Sudah Datangkah Berita Tentang Hari Pembalasan ?

Jumat, 05 Desember 25

Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman :


åóáú ÃóÊóÇßó ÍóÏöíËõ ÇáúÛóÇÔöíóÉö (1) æõÌõæåñ íóæúãóÆöÐò ÎóÇÔöÚóÉñ (2) ÚóÇãöáóÉñ äóÇÕöÈóÉñ (3) ÊóÕúáóì äóÇÑðÇ ÍóÇãöíóÉð (4) ÊõÓúÞóì ãöäú Úóíúäò ÂäöíóÉò (5) áóíúÓó áóåõãú ØóÚóÇãñ ÅöáøóÇ ãöäú ÖóÑöíÚò (6) áóÇ íõÓúãöäõ æóáóÇ íõÛúäöí ãöäú ÌõæÚò (7) [ÇáÛÇÔíÉ : 1 - 7]


Sudah datangkah kepadamu berita (tentang) hari pembalasan ?

Banyak muka pada hari itu tunduk terhina

Bekerja keras lagi kepayahan

Memasuki api yang sangat panas

Diberi mimun (dengan air) dari sumber yang sangat panas

Mereka tiada memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri

Yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar. (al-Ghasyiyah : 1-7)

***

Firman Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì :


åóáú ÃóÊóÇßó ÍóÏöíËõ ÇáúÛóÇÔöíóÉö


Sudah datangkah kepadamu berita (tentang) hari pembalasan ?

Perkataan ini boleh jadi asalnya ditujukan kepada Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó , baru kemudian kepada umat beliau. Dan boleh jadi juga ditujukan kepada siapa saja yang sampai kepadanya perkataan ini.

Kata tanya dalam ayat di atas berfungsi untuk tasywiq (memancing minat dan perhatian), seperti halnya dalam firman Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì :


íóÇ ÃóíøõåóÇ ÇáøóÐöíäó ÂãóäõæÇ åóáú ÃóÏõáøõßõãú Úóáóì ÊöÌóÇÑóÉò ÊõäúÌöíßõãú ãöäú ÚóÐóÇÈò Ãóáöíãò [ÇáÕÝ : 10]


Hai orang-orang yang beriman, sukakah kalian Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatakan kalian dari azab yang pedih ?” (ash-Shaff : 10)

Dan bisa juga berfungsi sebagai ta’zhim (pengagungan), karena agungnya pembicaraan tentang hari pembalasan.

Firman Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì : “ ÍóÏöíËõ ÇáúÛóÇÔöíóÉö “,artinya, berita tentang hari pembalasan. ÇáúÛóÇÔöíóÉö artinya, sesuatu yang dahsyat dan besar yang menyelimuti manusia, yaitu Hari Kiamat yang sering Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì bicarakan dalam al-Qur’an. Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì telah menyebutkan beberapa sifat yang sangat dahsyat, misalnya dalam firman Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì :


íóÇ ÃóíøõåóÇ ÇáäøóÇÓõ ÇÊøóÞõæÇ ÑóÈøóßõãú Åöäøó ÒóáúÒóáóÉó ÇáÓøóÇÚóÉö ÔóíúÁñ ÚóÙöíãñ (1) íóæúãó ÊóÑóæúäóåóÇ ÊóÐúåóáõ ßõáøõ ãõÑúÖöÚóÉò ÚóãøóÇ ÃóÑúÖóÚóÊú æóÊóÖóÚõ ßõáøõ ÐóÇÊö Íóãúáò ÍóãúáóåóÇ æóÊóÑóì ÇáäøóÇÓó ÓõßóÇÑóì æóãóÇ åõãú ÈöÓõßóÇÑóì æóáóßöäøó ÚóÐóÇÈó Çááøóåö ÔóÏöíÏñ (2) [ÇáÍÌ : 1 ¡ 2]


“Hai manusia, bertakwalah kepada Rabbmu; sesungguhnya kegoncangan hari Kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat). (Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah segala kandungan wanita hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal mereka sebenarnya tidak mabuk, akan tetapi azab itu sangat keras.” (al-Hajj : 1-2)

Kemudian Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì membagi manusia pada hari itu menjadi dua golongan. Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman :


æõÌõæåñ íóæúãóÆöÐò ÎóÇÔöÚóÉñ


Banyak muka pada hari itu tunduk terhina

Firman Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì : ÎóÇÔöÚóÉñ artinya tertunduk hina. Seperti yang disebutkan dalam ayat lain :


æóÊóÑóÇåõãú íõÚúÑóÖõæäó ÚóáóíúåóÇ ÎóÇÔöÚöíäó ãöäó ÇáÐøõáøö íóäúÙõÑõæäó ãöäú ØóÑúÝò ÎóÝöíøò [ÇáÔæÑì : 45]


Dan kamu akan melihat mereka dihadapkan ke Neraka dalam keadaan tunduk karena (merasa) terhina, mereka melihat dengan pandangan yang lesu (asy-Syuraa : 45)

Jadi, makna ÎóÇÔöÚóÉñ adalah ÐóáöíúáóÉñ yaitu hina.

Firman Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì :


ÚóÇãöáóÉñ äóÇÕöÈóÉñ


Bekerja keras lagi kepayahan

Yaitu ia melakukan pekerjaan yang berat dan melelahkan. Para ulama ÑóÍöãóåõãõ Çááåõ mengatakan : Yaitu pada Hari Kiamat mereka diberi beban berat berupa belenggu dan rantai besi. Mereka terbenam dalam kubangan api Jahannam seperti orang yang terbenam dalam kubangan lumpur.* Ia menghadapi pekerjaan berat yang dibebankan kepadanya pada Hari Kiamat. Karena pekerjaan itu adalah pekerjaan azab dan siksa. Maknanya bukanlah seperti yang dikatakan oleh sebagian orang bahwa orang-orang kafir telah sia-sia usahanya di dunia sementara mereka menyangka telah berbuat sebaik-baiknya. Karena Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì mengaitkan perkataan ini dengan ayat sebelumnya,


æõÌõæåñ íóæúãóÆöÐò


“Banyak muka pada hari itu” yakni pada hari ketika datang al-Ghasyiyah, dan hal itu hanya terjadi pada Hari Kiamat.

Jadi, golongan pertama ini memikul beban yang berat yang dibebankan kepadanya berupa rantai dan belenggu besi serta terbenam dalam kubangan api Jahannam, semoga Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì menyelamatkan kita darinya.

Firman Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì :


ÊóÕúáóì äóÇÑðÇ ÍóÇãöíóÉð


Memasuki api yang sangat panas

Yakni masuk dalam api Jahannam. Api yang sangat panas, enam puluh sembilan kali lebih panas dibanding api dunia. Yakni api Jahannam tersebut lebih panas enam puluh sembilan kali lipat dibanding dengan seluruh api dunia ini. Sebagai bukti panasnya api Jahannam tersebut adalah matahari yang panasnya sampai kepada kita padahal jaraknya sangat jauh dan sinarnya baru sampai kepada kita setelah melalui rongga udara yang sangat dingin, namun masih tetap panas seperti yang anda rasakan terutama pada musim panas.

Setelah menjelaskan tentang kedudukan dan tempat mereka, yaitu mereka berada dalam api Jahannam, Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì menjelaskan tentang makanan dan minuman mereka :


ÊõÓúÞóì ãöäú Úóíúäò ÂäöíóÉò


Diberi mimun (dengan air) dari sumber yang sangat panas


áóíúÓó áóåõãú ØóÚóÇãñ ÅöáøóÇ ãöäú ÖóÑöíÚò


Mereka tiada memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri

ÊõÓúÞóì artinya, wajah-wajah tersebut diberi minum ‘ãöäú Úóíúäò ÂäöíóÉò’ (dari sumber yang sangat panas). Itulah minuman mereka. Meski demikian, minuman itu tidaklah mereka peroleh dengan mudah, atau setiap kali haus dan dahaga mereka akan diberi minuman tersebut. Itu pun belum akan diberikan melainkan setelah dahaga mencapai puncaknya dan mereka merintih meminta minuman, seperti yang Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì sebutkan dalam firman-Nya :


æóÅöäú íóÓúÊóÛöíËõæÇ íõÛóÇËõæÇ ÈöãóÇÁò ßóÇáúãõåúáö íóÔúæöí ÇáúæõÌõæåó ÈöÆúÓó ÇáÔøóÑóÇÈõ [ÇáßåÝ : 29]


“Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk.” (al-Kahfi : 29)

Apabila air ini didekatkan ke wajah mereka niscaya akan membakarnya hingga terkelupaslah dagingnya. Apabila dimasukkan ke dalam tubuh mereka niscaya akan menghancurkannya. Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman,


æóÓõÞõæÇ ãóÇÁð ÍóãöíãðÇ ÝóÞóØøóÚó ÃóãúÚóÇÁóåõãú [ãÍãÏ : 15]


“Dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya” (Muhammad : 15)

Jadi, lahir batin mereka tidak memperoleh manfaat apa pun dari minuman tersebut, secara lahir tidak dapat menyejukkan wajah mereka yang kepanasan dan secara batin tidak pula membawa kepuasan. Namun mereka –wal’iyadzubillah- akan terus diberi minum dengan air tersebut, oleh karena itu Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman dalam ayat ini :


ÊõÓúÞóì ãöäú Úóíúäò ÂäöíóÉò
“Diberi mimun (dengan air) dari sumber yang sangat panas.”


Jika ada yang bertanya :

Bagaimana mungkin mata air ini berada dalam api Neraka padahal biasanya air akan memadamkan api ?

Jawabannya :

Pertama : perkara yang ada di akhirat tidak bisa disamakan dengan perkara yang ada di dunia. Seandainya disamakan dengan apa yang terjadi di dunia niscaya kita tidak bisa membayangkan bagaimana hakikatnya. Bukankah matahari akan didekatkan satu mil di atas kepala manusia pada Hari Kiamat nanti ? Yang dimaksud mil di sini mungkin mil mukahhalah, yaitu setengah jari jaraknya, atau mil satuan jarak sekitar 1,3 km atau semisal itu. Hingga seandainya keadaan akhirat disamakan dengan keadaan dunia niscaya akan memanggang manusia. Akan tetapi akhirat tidak bisa disamakan dengan dunia. Lagi pula pada Hari Kiamat nanti manusia akan dikumpulkan pada satu tempat, ada yang berada dalam kegelapan yang amat sangat dan ada pula yang berada di bawah sinaran cahaya seperti yang Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì sebutkan dalam firman-Nya :


äõæÑõåõãú íóÓúÚóì Èóíúäó ÃóíúÏöíåöãú æóÈöÃóíúãóÇäöåöãú


Sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka (Muhammad : 15)

Mereka akan dikumpulkan di satu tempat dan mengeluarkan keringat, ada yang keringatnya sampai menutupi mata kaki, ada yang sampai menutupi lutut, ada yang sampai menutupi pinggang. Namun mereka semuanya berada di satu tempat. Jadi, keadaan di akhirat tidak boleh disamakan dengan keadaan di dunia.

Kedua : Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì Maha Kuasa atas segala sesuatu. Kita bisa saksikan pokok kayu yang hijau dapat digunakan untuk menyalakan api. Seperti yang Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì sebutkan dalam firman-Nya :


ÇáøóÐöí ÌóÚóáó áóßõãú ãöäó ÇáÔøóÌóÑö ÇáúÃóÎúÖóÑö äóÇÑðÇ ÝóÅöÐóÇ ÃóäúÊõãú ãöäúåõ ÊõæÞöÏõæäó [íÓ : 80]


“Yaitu Rabb yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, maka tiba-tiba kamu nyalakan (api) dari kayu itu.” (Yasin : 80)

Pokok kayu yang hijau tentunya basah, namun apabila digesekkan satu sama lain atau digesek dengan mesiu akan memercikkan api yang panas dan kering, walaupun pokok kayu itu dingin dan basah. Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì Maha Kuasa atas segala sesuatu. Penghuni Neraka akan diberi air minum dari mata air dalam Neraka, dan itu semua tidak bertentangan dengan kodrat dan kuasa Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì.

Adapun makanan mereka adalah : [Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman]


áóíúÓó áóåõãú ØóÚóÇãñ ÅöáøóÇ ãöäú ÖóÑöíÚò (6) áóÇ íõÓúãöäõ æóáóÇ íõÛúäöí ãöäú ÌõæÚò (7)


Mereka tiada memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri

Yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar.

Para ulama mengatakan : ÖóÑöíÚò (dharii’) adalah pohon yang memiliki duri-duri besar, apabila telah mengering tidak ada yang dapat memakannya, sampai hewan ternak pun tidak memakannya. Dan apabila masih segar, unta-unta akan memakannya di daerah kami disebut syabraq. Penghuni neraka –Wal ‘iyadzubillah- berada dalam api neraka, mereka tidak diberi makan kecuali buah dharii’ ini. Akan tetapi jangan dikira buah dharii’ yang ada dalam api Jahannam sama seperti buah dharii’ yang ada di dunia. Tentu saja antara keduanya sangat jauh berbeda. Oleh sebab itu Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman :


áóÇ íõÓúãöäõ æóáóÇ íõÛúäöí ãöäú ÌõæÚò


Yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar.

Lahir batin tidak memberi manfaat sedikit pun, tidak menggemukkan tubuh dan tidak memuaskan jiwa. Tidak ada baiknya sama sekali. Yang ada hanyalah duri-duri besar, kepahitan dan bau busuk. Mereka tidak memperoleh manfaat apa pun darinya.[1]

Faidah :

Di antara faidah yang dapat kita petik dari ayat-ayat di atas adalah :

1-Penetapan prinsip keyakin tentang adanya kebangkitan dan balasan (atas amal yang dilakukan oleh manusia) pada hari Kiamat.

2-Di antara nama hari Kiamat adalah al-Ghasyiyah, karena hari itu menyelubungi manusia dengan huru haranya.

3-Penjelasan bahwa di Neraka ada kelelahan dan kepayahan (bagi para penghuninya). Berbeda sama sekali dengan (keadaan) di Surga, sesungguhnya di dalamnya (para penghuninya) tidak merasa keletihan dan tidak ada pula kepayahan [2] [3]

4-Dalam firman Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì :


áóíúÓó áóåõãú ØóÚóÇãñ ÅöáøóÇ ãöäú ÖóÑöíÚò


Mereka tiada memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri.

Mungkin ada yang menyatakan, ‘pernyataan ini bertentangan dengan firman Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì dalam ayat lain, yaitu :


æóáóÇ ØóÚóÇãñ ÅöáøóÇ ãöäú ÛöÓúáöíäò [ÇáÍÇÞÉ : 36]


Dan tidak ada makanan (bagi mereka) kecuali dari nanah yang bercampur dengan darah (al-Haaqah : 36)

Jawabannya :

Tentunya tidak bertentangan. Hal tersebut ditinjau dari beberapa sisi :

Pertama : Bahwa perbedaan (makanan yang diberikan) sesuai dengan orang yang memakannya dari kalangan penghuni Neraka. Maka, orang yang disifati dengan sifat yang pertama, maka makanannya adalah berupa ghislin (nanah yang bercampur dengan darah) dan orang yang disifati dengan sifat yang kedua, maka makanannya adalah berupa dharii’ (pohon yang berduri) [4] Karena, siksa (yang ditimpakan kepada penghuni Neraka itu) bermacam-macam bentuknya, orang-orang yang disiksa pun bertingkat-tingkat. Maka, di antara mereka ada yang tidak diberi makanan kecuali berupa ghislin. Di antara mereka ada yang tidak diberi makanan kecuali berupa dharii. Dan, di antara mereka ada pula yang tidak diberi makanan kecuali berupa zaqqum. Hal ini ditunjukkan oleh firman Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì :


áóåóÇ ÓóÈúÚóÉõ ÃóÈúæóÇÈò áößõáøö ÈóÇÈò ãöäúåõãú ÌõÒúÁñ ãóÞúÓõæãñ [ÇáÍÌÑ : 44]


(Neraka Jahannam) itu mempunyai tujuh pintu. Setiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan tertentu dari mereka (al-Hijr : 44) [5]

Kedua : Boleh jadi, salah satu dari jenis makanan tersebut diberikan pada satu kondisi, dan jenis makanan yang lainnya diberikan pada kondisi lainnya. [6]

Ketiga : bahwa maknanya adalah bahwa mereka pada asalnya tidaklah memiliki makanan sama sekali. Karena, dharii’ (pohon yang berduri) tidak layak dinamakan makanan, binatang pun tidak memakannya, apalagi manusia. Begitu juga ghisliin bukan merupakan jenis makanan. Maka, siapa yang makanannya adalah dharii’, sejatinya ia tidak memiliki makanan untuk dimakannya. Begitu pula, siapa yang makanannya adalah ghislin, sejatinya ia tidak memiliki makanan untuk dimakannya.

Termasuk dalam cakupan makna ungkapan ini adalah ungkapan seseorang :


ÝõáóÇäñ áóÇ Ùöáøó áóåõ ÅáøóÇ ÇáÔøóãúÓõ


“Si fulan tidak memiliki naungan untuk berteduh kecuali matahari.”


æóáóÇ ÏóÇÈøóÉð ÅáøóÇ ÏóÇÈøóÉõ ËóæúÈöåö


“Si fulan juga tidak memiliki hewan tunggangan kecuali hewan tunggangan bajunya.” yakni, yang mereka maksudkan adalah “kutu.”

Ungkapan tersebut, yang dimaksudkan oleh mereka adalah bahwa pada dasarnya si fulan tidak miliki naungan sama sekali, dan pada dasarnya si fulan tidak memiliki hewan tunggangan sama sekali. Atas dasar makna ini, maka tidak ada kemusykilan. Sedangkan hakikat ilmunya ada di sisi Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì . [7] Namun, jawaban ketiga ini menyelisihi zhahir nash al-Qur’an.

Wallahu A’lam

(Redaksi)

Catatan :

*Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman,


ÇáøóÐöíäó ßóÐøóÈõæÇ ÈöÇáúßöÊóÇÈö æóÈöãóÇ ÃóÑúÓóáúäóÇ Èöåö ÑõÓõáóäóÇ ÝóÓóæúÝó íóÚúáóãõæäó (70) ÅöÐö ÇáúÃóÛúáóÇáõ Ýöí ÃóÚúäóÇÞöåöãú æóÇáÓøóáóÇÓöáõ íõÓúÍóÈõæäó (71) Ýöí ÇáúÍóãöíãö Ëõãøó Ýöí ÇáäøóÇÑö íõÓúÌóÑõæäó [ÛÇÝÑ : 70 - 72]


Orang-orang yang mendustakan Kitab (al-Qur’an) dan wahyu yang dibawa oleh rasul-rasul Kami yang telah Kami utus. Kelak mereka akan mengetahui,

Ketika belenggu dan rantai di pasang di leher mereka, seraya mereka diseret, ke dalam air yang sangat panas, kemudian mereka dibakar dalam api, (Ghafir : 70-72)

[1] Tafsir Juz Amma, Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin, hal. 171-174.

[2] Aisir at-Tafasiir Li Kalami al-‘Aliy al-Kabir, Jabir bin Musa al-Jazairiy, 5/561.

[3] Sebagaimana firman Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì :


Åöäøó ÇáúãõÊøóÞöíäó Ýöí ÌóäøóÇÊò æóÚõíõæäò (45) ÇÏúÎõáõæåóÇ ÈöÓóáóÇãò Âãöäöíäó (46) æóäóÒóÚúäóÇ ãóÇ Ýöí ÕõÏõæÑöåöãú ãöäú Ûöáøò ÅöÎúæóÇäðÇ Úóáóì ÓõÑõÑò ãõÊóÞóÇÈöáöíäó (47) áóÇ íóãóÓøõåõãú ÝöíåóÇ äóÕóÈñ æóãóÇ åõãú ãöäúåóÇ ÈöãõÎúÑóÌöíäó (48) [ÇáÍÌÑ : 45 - 48]


Sesungguhnya orang yang bertakwa itu berada dalam Surga-Surga dan (di dekat) mata air (yang mengalir).

(Allah berfirman), “Masuklah ke dalamnya dengan sejahtera dan aman.”

Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang ada dalam hati mereka ; mereka merasa bersaudara, duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.

Mereka tidak merasa lelah di dalamnya dan mereka tidak akan dikeluarkan darinya. (al-Hijr : 45-48)

[4] Lihat Fathul Baariy, Ibnu Hajar, 6/331.

[5] Lihat : Daf-‘u Iihami al-Idh-thiraab, Syinqithi, hal. 243-244.

[6] Lihat : Tafsir Ibnu Juzzi, 2/477.

[7] Lihat : Daf-‘u Iihami al-Idh-thiraab, Syinqithi, hal. 243-244.




Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php/?pilih=lihatannur&id=1147