Artikel : Bulein Annur - Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits

Sucikanlah Nama Rabbmu Yang Paling Tinggi !

Jumat, 22 Agustus 25

Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman,


ÓóÈøöÍö ÇÓúãó ÑóÈøößó ÇáúÃóÚúáóì (1) ÇáøóÐöí ÎóáóÞó ÝóÓóæøóì (2) æóÇáøóÐöí ÞóÏøóÑó ÝóåóÏóì (3) æóÇáøóÐöí ÃóÎúÑóÌó ÇáúãóÑúÚóì (4) ÝóÌóÚóáóåõ ÛõËóÇÁð ÃóÍúæóì (5) ÓóäõÞúÑöÆõßó ÝóáóÇ ÊóäúÓóì (6) ÅöáøóÇ ãóÇ ÔóÇÁó Çááøóåõ Åöäøóåõ íóÚúáóãõ ÇáúÌóåúÑó æóãóÇ íóÎúÝóì (7) [ÇáÃÚáì : 1 - 7]


Sucikanlah nama Rabbmu Yang Paling Tinggi

Yang menciptakan dan menyempurnakan (ciptaan-Nya)

Dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk

Dan yang menumbuhkan rumput-rumputan

Lalu dijadikan-Nya rumput-rumputan itu kering kehitam-hitaman

Kami akan membacakan (al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) maka kamu tidak akan lupa

Kecuali kalau Allah menghendaki. Sesungguhnya Dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi (al-A’la : 1-7)

***

Firman Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì :


ÓóÈøöÍö ÇÓúãó ÑóÈøößó ÇáúÃóÚúáóì (1)


Sucikanlah nama Rabbmu Yang Paling Tinggi

Kalimat ini ditujukan kepada Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó. Kalimat-kalimat yang ditujukan kepada Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó dalam al-Qur’an ada tiga macam :

Pertama : Ada dalil yang menunjukkan bahwa perkara tersebut khusus bagi Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó, maka masuk dalam bab khususiyah Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó.

Kedua : Ada dalil yang menunjukkan bahwa perkara tersebut berlaku umum, maka berlaku atas segenap umat.

Ketiga : Tidak ada dalil yang menunjukkan kepada salah satu dari dua perkara di atas, maka secara lafal khusus bagi beliau dan secara hukum berlaku umum untuk beliau dan untuk segenap umat.

Contoh bentuk yang pertama adalah firman Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì :


Ãóáóãú äóÔúÑóÍú áóßó ÕóÏúÑóßó (1) æóæóÖóÚúäóÇ Úóäúßó æöÒúÑóßó (2) [ÇáÔÑÍ : 1 ¡ 2]


Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu ? dan Kami telah menghilangkan darimu bebanmu. (asy-Syarh : 1-2)

Contoh lainnya adalah firman Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì :


æóÃóÑúÓóáúäóÇßó áöáäøóÇÓö ÑóÓõæáðÇ [ÇáäÓÇÁ : 79]


Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia (an-Nisa : 79)

Sebagaimana dimaklumi bahwa perkara itu khusus bagi Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó

Contoh bentuk kedua, yakni kalimat yang ditujukan kepada Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó namun indikasi menunjukkan bahwa maksudnya untuk umum adalah firman Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì :


íóÇ ÃóíøõåóÇ ÇáäøóÈöíøõ ÅöÐóÇ ØóáøóÞúÊõãõ ÇáäøöÓóÇÁó ÝóØóáøöÞõæåõäøó áöÚöÏøóÊöåöäøó [ÇáØáÇÞ : 1]


Hai Nabi, apabila kalian menceraikan istri-istrimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar) (ath-Thalaq : 1)

Kalimat itu sebenarnya pertama kali ditujukan kepada Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó, Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman : íóÇ ÃóíøõåóÇ ÇáäøóÈöíøõ “Hai Nabi” tidak mengatakan : “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menceraikan istri-istrimu”

Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman : “Hai Nabi, jika kalian (jamak) menceraikan istri-istrimu”, tidak mengatakan : “Hai Nabi, jika engkau (mufrad) menceraikan istri-istrimu”

Itu semua menunjukkan bahwa perintah yang ditujukan kepada Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó juga ditujukan kepada segenap umat.

Contoh bagi bentuk yang ketiga, banyak sekali kalimat yang ditujukan kepada Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó secara lafal namun hukumnya berlaku umum untuk segenap umat.

Seperti ayat yang kita bahas ini, Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman,


ÓóÈøöÍö ÇÓúãó ÑóÈøößó ÇáúÃóÚúáóì (1)


Sucikanlah nama Rabbmu Yang Paling Tinggi

Firman Allah : ÓóÈøöÍö”Sucikanlah” yakni sucikanlah Allah dari segala sesuatu yang tidak layak bagi kemuliaan dan keagungan-Nya. Tasbih maknanya memahasucikan Allah, apabila engkau mengucapkan : “Subhanallah” yakni aku memahasucikan Allah dari segala keburukan, aib, dan kekurangan. Oleh sebab itu salah satu dari asma Allah adalah : al-Quddus As-Salam (Yang Maha Suci dan Maha Sejahtera), karena Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì maha suci dari segala aib. Saya beri contoh : Salah satu sifat Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì adalah al-Hayat yakni Yang Maha Hidup, kehidupan yang tidak ada kekurangannya sama sekali. Kehidupan makhluk penuh dengan kekurangan-kekurangan, salah satu di antaranya kehidupan mereka didahului dengan ketiadaan, manusia sebelumnya tidak ada. Kemudian kehidupan mereka akan diiringi dengan kefanaan dan kebinasaan. Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman,


ßõáøõ ãóäú ÚóáóíúåóÇ ÝóÇäò [ÇáÑÍãä : 26]


Semua yang ada di bumi akan binasa (ar-Rahman : 26)

Contoh lain : Pendengaran Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì adalah pendengaran yang tidak ada kekurangan sama sekali. Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì dapat mendengar segala sesuatu. Sampai-sampai seorang wanita datang mengadu kepada Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó seperti yang Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì sebutkan kisahnya di awal surat al-Mujadilah. Saat wanita tersebut berbicara kepada Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó, ‘Aisyah ÑóÖöíó ááåõ ÚóäúåóÇ berada di dalam kamar dan tidak mendengar sebagian dari pembicaraannya. Akan tetapi Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman dalam kitab-Nya :


ÞóÏú ÓóãöÚó Çááøóåõ Þóæúáó ÇáøóÊöí ÊõÌóÇÏöáõßó Ýöí ÒóæúÌöåóÇ [ÇáãÌÇÏáÉ : 1]


Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan yang memajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya (al-Mujadilah : 1)

Oleh karena itulah ‘Aisyah ÑóÖöíó ááåõ ÚóäúåóÇ berkata : “Segala puji bagi Allah yang pendengaran-Nya meliputi segala sesuatu” [1]

‘Aisyah ÑóÖöíó ááåõ ÚóäúåóÇ berkata : “Wanita yang mengajukan gugatan dan mengadu kepada Rasulullah tersebut sebagian dari perkataannya tersamar (tidak jelas) oleh ‘Aisyah.”

Jadi, makna sabbih (sucikanlah) adalah sucikanlah Allah dari segala aib dan kekurangan.

Firman Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì :


ÇÓúãó ÑóÈøößó ÇáúÃóÚúáóì


Nama Rabbmu Yang Maha Tinggi”

Sebagian ahli tafsir mengatakan : Nama Rabb-mu yakni Dzat Rabb-mu, sebab tasbih bukanlah untuk nama tapi untuk Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì. Namun makna yang shahih adalah : Sucikanlah Rabb-mu dengan menyebut nama-Nya, yakni janganlah engkau menyebutnya dalam hati saja tapi sebutlah dengan hati dan lisanmu, yaitu dengan menyebut nama-Nya. Makna ini didukung oleh firman Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì yang lain :


ÝóÓóÈøöÍú ÈöÇÓúãö ÑóÈøößó ÇáúÚóÙöíãö [ÇáæÇÞÚÉ : 96]


maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang Maha Besar (al-Waqi’ah : 96)

Yakni ucapkan tasbih dengan menyebut nama-Nya. Memahasucikan Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì terkadang dengan hati, yakni dengan aqidah. Dan terkadang dengan lisan, terkadang dengan keduanya sekaligus. Yang dimaksud di sini adalah bertasbih dengan keduanya sekaligus, dengan hati dan mengucapkannya dengan lisan.

Firman-Nya : ÑóÈøößó (Rabb-mu)

Ar-Rabb maknanya adalah pencipta, pemilik, dan pengatur segala urusan. Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì adalah pencipta, Dia-lah pemilik dan Dia-lah yang mengatur segala urusan. Kaum musyrikin mengakui hal ini, Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman,


æóáóÆöäú ÓóÃóáúÊóåõãú ãóäú ÎóáóÞó ÇáÓøóãóÇæóÇÊö æóÇáúÃóÑúÖó áóíóÞõæáõäøó Çááøóåõ [áÞãÇä : 25]


Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka : “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi ? Tentu mereka akan menjawab : “Allah.” (Luqman : 25)

Dalam ayat lain Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman :


æóáóÆöäú ÓóÃóáúÊóåõãú ãóäú ÎóáóÞóåõãú áóíóÞõæáõäøó Çááøóåõ [ÇáÒÎÑÝ : 87]


Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka : “Siapakah yang menciptakan mereka ? niscaya mereka menjawab : “Allah” (az-Zukhruf : 87)

Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì mengabarkan bahwa apabila mereka ditanya :


Þõáú ãóäú íóÑúÒõÞõßõãú ãöäó ÇáÓøóãóÇÁö æóÇáúÃóÑúÖö Ãóãøóäú íóãúáößõ ÇáÓøóãúÚó æóÇáúÃóÈúÕóÇÑó æóãóäú íõÎúÑöÌõ ÇáúÍóíøó ãöäó ÇáúãóíøöÊö æóíõÎúÑöÌõ ÇáúãóíøöÊó ãöäó ÇáúÍóíøö æóãóäú íõÏóÈøöÑõ ÇáúÃóãúÑó ÝóÓóíóÞõæáõæäó Çááøóåõ [íæäÓ : 31]


Katakanlah (Nabi Muhamamd), “Siapakah yang menganugerahkan rezeki kepadamu dari langit dan bumi, siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan ?” Maka mereka menjawab : “Allah.” (Yunus : 31)

Mereka mengakui bahwa Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì adalah pemilik, pengatur segala urusan dan pencipta, akan tetapi mereka menyembah sesembahan lain selain Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì. Itu akibat kejahilan mereka. Bukankah mereka mengakui bahwa hanya Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì semata yang menciptakan, memiliki dan mengatur segala urusan, namun mengapa mereka menyembah ilah selain-Nya !

Jadi, makna Ar-Rabb adalah pencipta, pemilik dan pengatur segala urusan. Siapa saja yang mengakui hal itu maka tidak boleh menyembah selian Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì semata, sebagaimana yang diisyaratkan dalam sejumlah ayat :


íóÇ ÃóíøõåóÇ ÇáäøóÇÓõ ÇÚúÈõÏõæÇ ÑóÈøóßõãõ ÇáøóÐöí ÎóáóÞóßõãú æóÇáøóÐöíäó ãöäú ÞóÈúáößõãú áóÚóáøóßõãú ÊóÊøóÞõæäó [ÇáÈÞÑÉ : 21]


Hai manusia, sembahlah Rabb-mu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa (al-Baqarah : 21)

Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman,


ÇÚúÈõÏõæÇ ÑóÈøóßõãõ ÇáøóÐöí ÎóáóÞóßõãú


sembahlah Rabb-mu Yang telah menciptakanmu

Yakni janganlah engkau menyembah selain Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì

Firman Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì : ÇáúÃóÚúáóì (Yang Paling Tinggi), diambil dari kata al-‘Uluw (tinggi). Maha Tinggi Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì ada dua jenis : Pertama : Ketinggian sifat. Kedua : Ketinggian dzat. Ketinggian sifat maksudnya, sifat-sifat yang Maha sempurna hanyalah milik Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì. Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman :


æóáöáøóåö ÇáúãóËóáõ ÇáúÃóÚúáóì [ÇáäÍá : 60]


Dan Allah mempunyai sifat yang Maha Tinggi (an-Nahl : 60)

Adapun ketinggian dzat, artinya Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berada di atas seluruh hamba-Nya dan bersemayam di atas ‘Arsy. Seorang insan apabila berseru : “Ya Allah !” Ke arah manakah ia akan menghadap ? Tentu ia akan menengadahkan wajahnya ke langit, yakni ke atas. Jadi, Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berada di atas segala sesuatu, bersemayam di atas ‘Arsy.

Ketika Anda membaca firman Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì,


ÓóÈøöÍö ÇÓúãó ÑóÈøößó ÇáúÃóÚúáóì [ÇáÃÚáì : 1]


Sucikanlah nama Rabbmu Yang Paling Tinggi

Maka camkanlah dalam hatimu bahwa Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì Maha Tinggi sifat-Nya dan Maha Tinggi dzat-Nya. Oleh sebab itu, apabila seseorang sujud ia membaca : ÓõÈúÍóÇäó ÑóÈøöíó ÇáúÃóÚúáóì (Maha Suci Allah Yang Maha Tinggi), agar ia ingat kerendahan dirinya. Sebab ia sekarang dalam posisi rendah. Bagian tubuh manusia yang paling tinggi tempatnya dan paling mulia adalah wajahnya, namun demikian ia meletakkannya di atas lantai yang diinjak oleh kaki. Maka terdapat hikmah yang tinggi dalam ucapan : ÓõÈúÍóÇäó ÑóÈøöíó ÇáúÃóÚúáóì (Maha Suci Allah Yang Maha Tinggi) “ Yakni aku memahasucikan Rabb-ku yang berada di atas segala sesuatu, aku sekarang berada di bawah segala sesuatu. Anda memahasuci Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì yang maha tinggi sifat-Nya dan maha tinggi dzat-Nya. Ketika mengucapkan : ÓõÈúÍóÇäó ÑóÈøöíó ÇáúÃóÚúáóì (Maha Suci Allah Yang Maha Tinggi) Anda ingat bahwa Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berada di atas segala sesuatu, bahwa Dia memiliki sifat yang paling sempurna.[2]

Faedah :

1-Firman Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì :


ÓóÈøöÍö ÇÓúãó ÑóÈøößó ÇáúÃóÚúáóì


Sucikanlah nama Rabbmu Yang Paling Tinggi

Ini merupakan perintah dari Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì kepada Rasul-Nya Muhammad Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó- dan ummatnya sebagai pengikutnya- agar beliau mensucikan nama Rabbnya dari dinamaknnya selain-Nya dengan nama-Nya. Atau, dari disebutkannya diri-Nya atau nama-Nya di tempat yang kotor. Atau, dari disebutkannya nama-Nya dengan tanpa adanya pengagungan dan penghormatan. [3]

2-Wajibnya mensucikan dan membersihkan nama Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì dari hal-hal yang tidak layak bagi-Nya seperti wajibnya mensucikan dan membersihkan Dzat Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì dari hal-hal yang tidak layak bagi keagungan dan kesempurnaan-Nya.

3-Disyariatkannya ucapan : ÓõÈúÍóÇäó ÑóÈøöíó ÇáúÃóÚúáóì (Maha Suci Rabb-ku yang Maha Tinggi) ketika membaca ayat ini :


ÓóÈøöÍö ÇÓúãó ÑóÈøößó ÇáúÃóÚúáóì


Sucikanlah nama Rabbmu Yang Paling Tinggi [4]

4-Wajibnya bertasbih dengan ungkapan tasbih ini “ ÓõÈúÍóÇäó ÑóÈøöíó ÇáúÃóÚúáóì (Maha Suci Rabb-ku yang Maha Tinggi)” di dalam sujud pada setiap sujud dalam shalat.


Úóäú ÚõÞúÈóÉó Èúäö ÚóÇãöÑò ÞóÇáó áóãøóÇ äóÒóáóÊú (ÝóÓóÈøöÍú ÈöÇÓúãö ÑóÈøößó ÇáúÚóÙöíãö) ÞóÇáó ÑóÓõæáõ Çááøóåö -Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó- « ÇÌúÚóáõæåóÇ Ýöì ÑõßõæÚößõãú ». ÝóáóãøóÇ äóÒóáóÊú (ÓóÈøöÍö ÇÓúãó ÑóÈøößó ÇáÃóÚúáóì) ÞóÇáó « ÇÌúÚóáõæåóÇ Ýöì ÓõÌõæÏößõãú ».


Dari Uqbah bin ‘Amir, ia berkata : Ketika turun (ayat) (ÝóÓóÈøöÍú ÈöÇÓúãö ÑóÈøößó ÇáúÚóÙöíãö) (Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Maha Agung), Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bersabda, ‘Jadikanlah ia dalam rukuk kalian’. Lalu, ketika turun (ayat) (ÓóÈøöÍö ÇÓúãó ÑóÈøößó ÇáÃóÚúáóì) (Sucikanlah nama Rabb-mu yang Maha Tinggi)” , beliau bersabda, ‘Jadikanlah ia di dalam sujud kalian.” (HR. Abu Dawud, no. 869)

Wallahu A’lam

(Redaksi)

Catatan :

[1] Hadis riwayat al-Bukhari secara mu’allaq dalam kitab at-tauhid bab firman Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì : “ Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (9) dan disebutkan secara maushul oleh Imam Ahmad dalam kitab al-Musnad (VI/46).

[2] Tafsir Juz ‘Amma, Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin, ei, hal-292-298 (dengan ringkasan)

[3] Aisir at-Tafasir, al-Jazairi, 5/556

[4] Aisir at-Tafasir, al-Jazairi, 5/557. Telah datang beberapa atsar yang menunjukkan akan disyariatkannya ucapan : ÓõÈúÍóÇäó ÑóÈøöíó ÇáúÃóÚúáóì, ketika dibacanya “ ÓóÈøöÍö ÇÓúãó ÑóÈøößó ÇáúÃóÚúáóì “, antara lain :

a-Dari Ibnu Abbas ÑóÖöíó Çááåõ ÚóäúåõãóÇ :


Ãóäøó ÇáäøóÈöìøó -Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó- ßóÇäó ÅöÐóÇ ÞóÑóÃó (ÓóÈøöÍö ÇÓúãó ÑóÈøößó ÇáÃóÚúáóì) ÞóÇáó « ÓõÈúÍóÇäó ÑóÈøöìó ÇáÃóÚúáóì »


Bahwa Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó apabila telah membaca (ÓóÈøöÍö ÇÓúãó ÑóÈøößó ÇáÃóÚúáóì) . beliau mengucapkan : « ÓõÈúÍóÇäó ÑóÈøöìó ÇáÃóÚúáóì » (Maha Suci Rabb-ku yang Maha Tinggi) (HR. Abu Dawud, no. 883. Dan, dishahihkan oleh al-Albani)

b-Dari Khudzaefah ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ :

Dia ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ berkata,


ÕóáøóíúÊõ ãóÚó ÇáäøóÈöìøö -Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó- ÐóÇÊó áóíúáóÉò ÝóÇÝúÊóÊóÍó ÇáúÈóÞóÑóÉó ÝóÞõáúÊõ íóÑúßóÚõ ÚöäúÏó ÇáúãöÇÆóÉö. Ëõãøó ãóÖóì ÝóÞõáúÊõ íõÕóáøöì ÈöåóÇ Ýöì ÑóßúÚóÉò ÝóãóÖóì ÝóÞõáúÊõ íóÑúßóÚõ ÈöåóÇ. Ëõãøó ÇÝúÊóÊóÍó ÇáäøöÓóÇÁó ÝóÞóÑóÃóåóÇ Ëõãøó ÇÝúÊóÊóÍó Âáó ÚöãúÑóÇäó ÝóÞóÑóÃóåóÇ íóÞúÑóÃõ ãõÊóÑóÓøöáÇð ÅöÐóÇ ãóÑøó ÈöÂíóÉò ÝöíåóÇ ÊóÓúÈöíÍñ ÓóÈøóÍó æóÅöÐóÇ ãóÑøó ÈöÓõÄóÇáò ÓóÃóáó æóÅöÐóÇ ãóÑøó ÈöÊóÚóæøõÐò ÊóÚóæøóÐó


Aku pernah shalat bersama Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó pada suatu malam. Beliau membuka dengan membaca surat al-Baqarah (setelah membaca surat al-Fatihah). Lalu, aku berkata (dalam hatiku) ‘niscaya beliau akan rukuk setelah membaca 100 ayat (dari surat ini). Namun, ternyata beliau terus melanjutkannya. Maka, aku pun berkata (dalam hatiku), ‘niscaya beliau akan membacanya sampai selesai dalam satu rakaat, lalu, beliau akan rukuk. Namun, kemudian beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó melanjutkan dengan membaca surat an-Nisa, sampai selesai. Kemudian, beliau melanjutkan dengan membaca surat Ali Imran sampai selesai. Bila beliau membaca ayat tasbih, beliau bertasbih, dan bila beliau membaca ayat yang memerintahkan untuk memohon, beliau memohon. Dan bila beliau membaca ayat ta’awwudz (ayat yang memerintahkan untuk memohon perlindungan) beliau memohon perlindungan...(HR. Muslim, no. 1850)

c-Dari Abdu Khair ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ

Dia berkata :


ÓóãöÚúÊõ ÚóáöíøðÇ íóÞúÑóÃõ (ÓóÈøöÍö ÇÓúãó ÑóÈøößó ÇáÃóÚúáóì) ÝóÞóÇáó : ÓõÈúÍóÇäó ÑóÈøöìó ÇáÃóÚúáóì


Aku pernah mendengar Ali ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ membaca : (ÓóÈøöÍö ÇÓúãó ÑóÈøößó ÇáÃóÚúáóì) (Sucikanlah nama Rabbmu yang Maha Tinggi), lalu beliau mengucapkan : ÓõÈúÍóÇäó ÑóÈøöìó ÇáÃóÚúáóì (Maha Suci Rabbku yang Maha Tinggi) (HR. al-Baihaqi di dalam as-Sunan al-Kubra, no. 3845)

d-Dari Abu Ishaq al-Hamdaniy,


Ãóäøó ÇÈúäó ÚóÈøóÇÓò ßóÇäó ÅöÐÇ ÞóÑóÃó (ÓóÈøöÍö ÇÓúãó ÑóÈøößó ÇáÃóÚúáóì) íóÞõæúáõ : ÓõÈúÍóÇäó ÑóÈøöìó ÇáÃóÚúáóì


Bahwa Ibnu Abbas biasanya bila beliau telah membaca : (ÓóÈøöÍö ÇÓúãó ÑóÈøößó ÇáÃóÚúáóì) (Sucikanlah nama Rabbmu yang Maha Tinggi), beliau mengucapkan : ÓõÈúÍóÇäó ÑóÈøöìó ÇáÃóÚúáóì (Maha Suci Rabbku yang Maha Tinggi)

Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php/?pilih=lihatannur&id=1131