Segala puji bagi Allah, hanya Dia-lah Pemilik kemuliaan, kekekalan, keagungan, kesombongan, dan keperkasaan yang tidak tertandingi. Dia-lah Yang Maha Esa, Rabb yang kepada-Nya bergantung segala sesuatu, Maharaja Yang tidak membutuhkan seorang pun, Mahatinggi dari segala persangkaan, Mahamulia lagi Mahaagung, Yang tidak dapat dijangkau oleh akal dan dugaan, serta Mahakaya dengan Dzat-Nya, tidak membutuhkan seluruh makhluk-Nya. Segala sesuatu yang ada selain-Nya selalu bergantung dan membutuhkan-Nya. Dia memberi taufik kepada siapa saja yang Dia kehendaki untuk mengimani-Nya dan tetap beristiqamah. Mereka merasakan kelezatan munajat kepada-Nya, sehingga meninggalkan nikmatnya tidur. Lambung-lambung mereka jauh dari tempat tidur disebabkan mereka mendambakan derajat yang tinggi di akhirat. Aduhai, sekiranya engkau melihat indahnya perbuatan mereka, kafilah mereka telah berlalu dalam gelapnya malam. Salah satu dari mereka tengah meminta maaf atas ketergelincirannya, yang lainnya mengadukan kepedihan hatinya, dan yang lainnya lagi tersibukkan dengan dzikir. Mahasuci Dzat Yang membangunkan mereka tatkala manusia tengah tidur dengan lelap, Yang memaafkan dan mengampuni, Yang menutupi dan mencukupi, serta Yang mencurahkan seluruh nikmat kepada segenap makhluk.
Aku memuji-Nya atas keagungan nikmat-Nya, sekaligus bersyukur, dan meminta-Nya untuk menjaga nikmat Islam.
Aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi melainkan hanya Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Termuliakanlah orang yang bangga menjadi hamba-Nya, di mana ia tidak akan teraniaya. Adapun orang-orang yang menyombongkan diri, maka akan terhinakan dan mendapatkan dosa.
Aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, beliaulah yang menjelaskan perkara-perkara yang halal dan yang haram.
Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada beliau, kepada Abu Bakar yang menjadi sebaik-baik teman ketika bersama-sama beliau di dalam goa, kepada Umar bin Khaththab yang diberi taufik untuk memutuskan permasalahan dengan benar, kepada Utsman ‘Utsman, orang yang sangat sabar terhadap musibah dan gugur meraih syahid di tangan para musuh, kepada Ali bin Abi Thalib, anak paman beliau, serta kepada seluruh sahabat serta orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan, selama matahari dan bintang-bintang masih beredar di ufuk langit.
Saudara-saudaraku sekalian, telah tiba sepertiga akhir bulan Ramadhan, di dalamnya terdapat berbagai kebaikan, keutamaan, kekhususan, dan pahala yang melimpah.
Di antara kekhususannya, Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó dahulu bersungguh-sungguh menghidupkannya dengan berbagai amalan, melebihi waku-waktu lainnya.
Disebutkan dalam Shahih Muslim, dari ‘Aisyah ÑóÖöíó Çááåõ ÚóäúåõÇ :
ßóÇäó ÑóÓõæáõ Çááøóåö -Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó- íóÌúÊóåöÏõ Ýöì ÇáúÚóÔúÑö ÇáÃóæóÇÎöÑö ãóÇ áÇó íóÌúÊóåöÏõ Ýöì ÛóíúÑöåö
Bahwasanya Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó sungguh-sungguh pada sepertiga akhir bulan Ramadhan, melebihi kesungguhannya di waktu yang lain.”
Disebutkan pula dalam ash-Shahihain, juga dari ‘Aisyah ÑóÖöíó Çááåõ ÚóäúåõÇ , ia berkata :
ßóÇäó ÇáäøóÈöíøõ Õóáøóì Çááøóåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó ÅöÐóÇ ÏóÎóáó ÇáúÚóÔúÑõ ÔóÏøó ãöÆúÒóÑóåõ æóÃóÍúíóÇ áóíúáóåõ æóÃóíúÞóÙó Ãóåúáóåõ
Jika Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó memasuki sepertiga akhir bulan Ramadhan, beliau mengencangkan sarungnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.”
Disebutkan dalam al-Musnad, masih dari ‘Aisyah ÑóÖöíó Çááåõ ÚóäúåõÇ , ia berkata :
æóßóÇäó ÑóÓõæáõ Çááøóåö Õóáøóì Çááøóåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó íóÎúáöØõ ÇáúÚöÔúÑöíäó ÈöÕóáóÇÉò æóäóæúãò ÝóÅöÐóÇ ßóÇäó ÇáúÚóÔúÑõ ÔóãøóÑó æóÔóÏøó ÇáúãöÆúÒóÑó
Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó mencampur antara shalat dan tidur selama dua puluh hari (pertama bulan Ramadhan). ketika memasuki sepertiga akhir (bulan Ramadhan), beliau menyingsingkan lengan bajunya dan mengencangkan sarungnya. “
Hadis-hadis ini merupakan dalil yang menunjukkan keutamaan sepertiga akhir bulan Ramadhan. Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó dahulu beramal dengan sungguh-sungguh di dalamnya, lebih dari waktu yang lain. Ini mencakup kesungguhan beliau dalam segala jenis ibadah, baik shalat, membaca al-Qur’an, dzikir, sedekah, atau pun selainnya.
Maksud dari mengencangkan sarungnya adalah beliau menjauhi istri-istrinya (dari berjima’-ed) untuk berkonsentrasi dalam shalat dan dzikir. Beliau menghidupkan malam dengan shalat malam, membaca al-Qur’an, serta dzikir, baik dengan hati, lisan, dan anggota tubuh beliau. Ini disebabkan oleh kemuliaan malam-malam tersebut, serta untuk mencari malam Lailatul Qadar, di mana orang yang melaksanakan shalat malam di dalamnya dengan penuh keimanan dan pengharapan, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.
Zhahir (lahiriyah) hadis tadi menunjukkan bahwa beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó menghidupkan seluruh malamnya dengan beribadah kepada Rabbnya, baik dengan dzikir, membaca al-Qur’an, shalat, mempersiapkan sahur, dan sebagainya. Dengan pernyataan ini, terjadi kompromi antara hadis di atas dan hadis yang disebutkan dalam shahih Muslim, dari ‘Aisyah ÑóÖöíó Çááåõ ÚóäúåóÇ , dia berkata :
ãóÇ ÃóÚúáóãóåõ Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó ÞóÇãó áóíúáóÉð ÍóÊøóì ÇáÕøóÈóÇÍó
Aku tidak pernah mengetahui bahwa Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó melakukan shalat semalam suntuk hingga datangnya pagi.”
Sebab, maksud dari menghidupkan malam pada sepertiga akhir Ramadhan adalah bukan hanya dengan melakukan shalat, akan tetapi juga disertai dengan ibadah-ibadah yang lain. Dan yang dinafikan oleh ‘Aisyah hanyalah pelaksanaan shalat semalam suntuk. Wallahu a’lam.
Perkara lain yang menunjukkan keutamaan sepertiga akhir Ramadhan adalah Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó membangunkan keluarganya untuk melaksanakan dzikir dan shalat di waktu-waktu ini, disebabkan semangat beliau untuk memanfaatkan malam-malam yang penuh berkah dengan ibadah-ibadah yang pantas. Ini adalah kesempatan emas sekaligus harta yang berharga bagi orang-orang yang diberi taufik oleh Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì. Tidak selayaknya seorang mukmin yang berakal membiarkan diri dan keluarganya terlewatkan saat yang berharga ini. Ia tidak lain hanyalah merupakan malam-malam yang berbilang, di mana seseorang mengharap anugerah Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì yang mengantarkannya meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Sungguh banyak dari kaum muslimin yang tertimpa kerugian yang sangat besar tatkala mereka melewatkan waktu-waktu berharga ini dalam berbagai perkara yang tidak bermanfaat bagi mereka. Mereka menghabiskan sebagian besar malamnya dengan permainan yang batil, namun ketika datang waktu shalat, mereka tertidur. Mereka membiarkan diri mereka terlewatkan kebaikan yang banyak yang bisa jadi tidak akan mereka jumpai lagi setelah tahun ini untuk selamanya.
Mereka terjerat tipu daya dan permainan setan yang bermaksud untuk mencegah serta menyimpangkan mereka dari jalan Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì.
Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman,
Åöäøó ÚöÈóÇÏöí áóíúÓó áóßó Úóáóíúåöãú ÓõáúØóÇäñ ÅöáøóÇ ãóäö ÇÊøóÈóÚóßó ãöäó ÇáúÛóÇæöíäó [ÇáÍÌÑ : 42]
Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang sesat.” (al-Hijr : 42)
Hanya orang yang berakal yang tidak mau mengangkat setan menjadi walinya, sebagai pengganti Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì, karena dia mengetahui bahwa setan itu memusuhinya. Tentu saja ini bertentangan dengan akal dan iman.
Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman,
ÃóÝóÊóÊøóÎöÐõæäóåõ æóÐõÑøöíøóÊóåõ ÃóæúáöíóÇÁó ãöäú Ïõæäöí æóåõãú áóßõãú ÚóÏõæøñ ÈöÆúÓó áöáÙøóÇáöãöíäó ÈóÏóáðÇ [ÇáßåÝ : 50]
Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu ? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang zhalim.” (al-Kahfi : 50)
Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman,
Åöäøó ÇáÔøóíúØóÇäó áóßõãú ÚóÏõæøñ ÝóÇÊøóÎöÐõæåõ ÚóÏõæøðÇ ÅöäøóãóÇ íóÏúÚõæ ÍöÒúÈóåõ áöíóßõæäõæÇ ãöäú ÃóÕúÍóÇÈö ÇáÓøóÚöíÑö [ÝÇØÑ : 6]
Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala (al-Fathir : 6)
Di antara kekhususan sepertiga akhir Ramadhan adalah Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó dahulu melaksanakan I’tikaf pada saat tersebut. I’tikaf adalah berdiam di masjid untuk mengkonsentrasikan diri dalam melakukan ketaatan kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì. Ini merupakan perkara yang sunnah, tercantum di dalam Kitabullah dan hadis Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó.
Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman,
æóáóÇ ÊõÈóÇÔöÑõæåõäøó æóÃóäúÊõãú ÚóÇßöÝõæäó Ýöí ÇáúãóÓóÇÌöÏö [ÇáÈÞÑÉ : 187]
(Tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid ..” (al-Baqarah : 187)
Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó telah melaksanakan I’tikaf (sebagai realisasi dari ayat tersebut). Demikian pula para Sahabat, baik ketika Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó masih hidup maupun setelah beliau wafat.
Diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudriy ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ bahwa Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó beri’tikaf pada sepertiga awal Ramadhan, lalu beliau beri’tikaf pada sepertiga kedua dari Ramadhan, kemudian beliau bersabda,
Åöäøöì ÇÚúÊóßóÝúÊõ ÇáúÚóÔúÑó ÇáÃóæøóáó ÃóáúÊóãöÓõ åóÐöåö ÇááøóíúáóÉó Ëõãøó ÇÚúÊóßóÝúÊõ ÇáúÚóÔúÑó ÇáÃóæúÓóØó Ëõãøó ÃõÊöíÊõ ÝóÞöíáó áöì ÅöäøóåóÇ Ýöì ÇáúÚóÔúÑö ÇáÃóæóÇÎöÑö Ýóãóäú ÃóÍóÈøó ãöäúßõãú Ãóäú íóÚúÊóßöÝó ÝóáúíóÚúÊóßöÝú
Sesungguhnya aku beri’tikaf pada sepertiga awal (Ramadhan) untuk mencari malam ini (Lailatul Qadar), kemudian aku beri’tikaf pada sepertiga kedua. Setelah itu ada yang mendatangiku dan berkata : “Sesungguhnya Lailatul Qadar itu berada pada sepertiga akhir, barang siapa di antara kalian yang ingin melakukan i’tikaf, maka hendaklah ia lakukan.’ (HR. Muslim)
Disebutkan dalam ash-Shahihain, dari ‘Aisyah, ia berkata :
ßóÇäó íóÚúÊóßöÝõ ÇáúÚóÔúÑó ÇáúÃóæóÇÎöÑó ãöäú ÑóãóÖóÇäó ÍóÊøóì ÊóæóÝøóÇåõ Çááøóåõ Ëõãøó ÇÚúÊóßóÝó ÃóÒúæóÇÌõåõ ãöäú ÈóÚúÏöåö
Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó melakukan i’tikaf pada sepertiga akhir Ramadhan hingga beliau diwafatkan oleh Allah ÚóÒøó æóÌóáøó. Dan para istri beliau melakukan I’tikaf sepeninggal beliau.”
Disebutkan pula dalam Shahih al-Bukhari, dari Abu Hurairah, ia berkata :
ßóÇäó ÇáäøóÈöíøõ Õóáøóì Çááøóåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó íóÚúÊóßöÝõ Ýöí ßõáøö ÑóãóÖóÇäò ÚóÔúÑóÉó ÃóíøóÇãò ÝóáóãøóÇ ßóÇäó ÇáúÚóÇãõ ÇáøóÐöí ÞõÈöÖó Ýöíåö ÇÚúÊóßóÝó ÚöÔúÑöíäó íóæúãðÇ
Nabi Õóáøóì Çááøóåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó beri’tikaf selama sepuluh hari untuk tiap Ramadhan. Namun beliau beri’tikaf selama dua puluh hari pada tahun wafatnya beliau.”
Diriwayatkan dari Anas bin Malik, ia berkata :
ßóÇäó ÇáäøóÈöíøõ Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æó Óóáøóãó íóÚúÊóßöÝõ Ýöí ÇáúÚóÔúÑö ÇáúÃóæóÇÎöÑö ãöäú ÑóãóÖóÇäó Ýóáóãú íóÚúÊóßöÝú ÚóÇãðÇ ÝóáóãøóÇ ßóÇäó Ýöí ÇáúÚóÇãö ÇáúãõÞúÈöáö ÇöÚúÊóßóÝó ÚöÔúÑöíúäó
Nabi Õóáøóì Çááøóåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó beri’tikaf pada sepertiga akhir Ramadhan. Beliau pernah tidak ber’itikaf selama setahun, dan pada tahun berikutnya, beliau beri’tikaf selama dua puluh hari.” (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi, dan beliau menshahihkannya).
Diriwayatkan dari Aisyah, ia berkata bahwa jika Nabi ingin ber’itikaf, beliau melakukan shalat Subuh, kemudian beliau memasuki tempat i’tikafnya. Setelah itu Aisyah meminta izin kepada beliau untuk ber’itikaf, dan beliau mengizinkan. Aisyah kemudian mendirikan kemah. Demikian juga dengan Hafshah. Ketika Zaenab melihat hal itu, dia juga meminta untuk dibuatkan kemah. Sewaktu Nabi melihat beberapa kemah, beliau bersabda, “Apa ini ?” Para sahabat menjawab, “Kemah ‘Aisyah, Hafshah, dan Zainab.” Beliau melanjutkan, “Apakah mereka menginginkan kebaikan dengannya ? Bongkarlah kemah-kemah tersebut agar aku tidak melihatnya.” Akhirnya, kemah-kemah tersebut dibongkar dan Nabi tidak jadi melaksanakan i’tikaf pada bulan Ramadhan tersebut. Beliau menundanya hingga sepertiga awal dari bulan Syawwal. (Kisah ini diambil dari al-Bukhari dan Muslim dari beberapa riwayat).
Imam Ahmad bin Hanbal berkata : “Saya tidak mengetahui adanya perselisihan di kalangan ulama tentang sunnahnya i’tikaf.”
Maksud dari i’tikaf adalah putusnya hubungan seseorang dari manusia lainnya untuk berkonsentrasi melakukan ketaatan kepada Allah dalam salah satu masjidnya dengan tujuan mencari pahala-Nya, karunia-Nya, serta Lailatul Qadar. Oleh sebab itu, seharusnya orang yang melakukan i’tikaf tersibukkan dengan dzikir, membaca al-Qur’an, shalat, serta berbagai ibadah lainnya. Dia seharusnya menjauhi perkara-perkara yang tidak bermanfaat untuknya, seperti membicarakan dunia. Namun ia boleh melakukan sedikit pembicaraan yang diperbolehkan, baik dengan keluarga, atau pun selainnya untuk suatu kemaslahatan.
Disebutkan dalam hadis Ummul Mukminin, Shafiyyah, ia berkata :
ßóÇäó ÑóÓõæáõ Çááøóåö Õóáøóì Çááøóåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó ãõÚúÊóßöÝðÇ ÝóÃóÊóíúÊõåõ ÃóÒõæÑõåõ áóíúáðÇ ÝóÍóÏøóËúÊõåõ Ëõãøó ÞõãúÊõ ÝóÇäúÞóáóÈúÊõ ÝóÞóÇãó ãóÚöí
Rasulullah Õóáøóì Çááøóåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó dahulu melakukan i’tikaf, kemudian aku mendatangi beliau di malam hari untuk membicarakan sesuatu dengan beliau. Lalu aku berdiri untuk pulang ke rumahku, maka beliau pun berdiri bersamaku.” (Muttafaq ‘Alaih)
Diharamkan bagi orang yang beri’tikaf untuk melakukan jima’ atau hal-hal yang mengantarkan kepadanya, seperti ciuman dan rabaan dengan syahwat.
Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman,
æóáóÇ ÊõÈóÇÔöÑõæåõäøó æóÃóäúÊõãú ÚóÇßöÝõæäó Ýöí ÇáúãóÓóÇÌöÏö [ÇáÈÞÑÉ : 187]
(Tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu ber’itikaf dalam masjid ...” (al-Baqarah : 187)
Adapun tentang keluarnya dia dari masjid, jika yang keluar hanyalah sebagian badannya, maka hal ini tidak mengapa. Diriwayatkan dari hadis ‘Aisyah, ia berkata :
ßóÇäó ÇáäøóÈöíøõ íõÎúÑöÌõ ÑóÃúÓóåõ ãöäú ÇáúãóÓúÌöÏö æóåõæó ãõÚúÊóßöÝñ ÝóÃóÛúÓöáõåõ æóÃóäóÇ ÍóÇÆöÖñ
Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó pernah mengeluarkan kepalanya dari masjid padahal beliau dalam keadaan beri’tikaf, lalu aku mencuci kepala beliau, meskipun aku sedang haidh (al-Bukhari)
Di dalam riwayat lain disebutkan :
ßóÇäóÊú ÊõÑóÌøöáõ ÇáäøóÈöíøó Õóáøóì Çááøóåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó æóåöíó ÍóÇÆöÖñ æóåõæó ãõÚúÊóßöÝñ Ýöí ÇáúãóÓúÌöÏö æóåöíó Ýöí ÍõÌúÑóÊöåóÇ íõäóÇæöáõåóÇ ÑóÃúÓóåõ
Aisyah menyisir rambut Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó, padahal dia dalam keadaan haidh dan Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó dalam keadaan beri’tikaf di masjid. Nabi menyodorkan kepalanya kepada ‘Aisyah yang tetap berada di kamarnya.”
Dan jika dia keluar dengan seluruh badannya dari masjid, maka terdapat tiga bentuk dalam perkara ini :
Pertama : Dia keluar untuk suatu kebutuhan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi, baik secara tabiat atau pun syariat, seperti buang air besar dan buang air kecil, wudhu, mandi wajib, makan, minum, dan sebagainya. Jika hal-hal itu memang tidak bisa dilakukan di majid, maka dia diperbolehkan keluar masjid. Adapun jika bisa dilakukan di masjid, maka dia tidak boleh keluar. Misalnya, dia beri’tikaf di suatu masjid yang di dalamnya terdapat kamar mandi sehigga ia bisa buang hajat dan mandi di sana, atau ada yang selalu mengantarkan makanan.
Kedua : Dia keluar untuk suatu ketaatan yang tidak wajib dilakukan, seperti menjenguk orang sakit, menyaksikan jenazah, dan semisalnya. Dalam kondisi ini, hendaklah dia tetap tidak keluar dari masjid (karena hal itu akan merusak i’tikafnya-ed). Kecuali jika keluarnya tersebut telah disyaratkan sejak awal i’tikafnya. Misalnya, ada orang sakit yang ia khawatirkan wafatnya atau harus senantiasa ia kunjungi. Jika ia mensyaratkan hal itu sejak awal i’tikafnya, maka tidak mengapa.
Ketiga : Dia keluar untuk suatu perkara yang membatalkan i’tikaf, seperti jual beli, jima’ dengan istri, dan semisalnya. Semua itu tidak boleh dilakukan, baik dengan syarat atau pun tidak, karena hal itu menafikan dan membatalkan maksud dari i’tikaf.
Di antara kekhususan lain sepertiga akhir dari Ramadhan adalah di dalamnya terdapat Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Maka sadarilah keutamaan sepertiga akhir bulan ini, dan janganlah kalian menyia-nyiakannya, semoga Allah senantiasa merahmati kalian. Waktunya demikian berharga dan kebaikannya tampak dengan nyata.
Ya Allah, berilah taufik kepada kami untuk mengerjakan perkara-perkara yang baik bagi agama dan dunia kami, baguskanlah hasil akhir dari perbuatan kami, muliakanlah tempat kembali kami, ampunilah kami, kedua orang tua kami, dan seluruh kaum muslimin dengan rahmat-Mu, wahai Dzat Yang Mahapenyayang di antara penyayang.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad, beserta seluruh keluarga dan para Sahabatnya.
(Redaksi)
Sumber :
Majalis Syahri Ramadhan, Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, hal. 153-158.