Artikel : Bulein Annur - Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits

Menjaga Waktu di Bulan Ramadhan

Senin, 17 Maret 25

Sesungguhnya waktu seseorang adalah umurnya sejatinya. Ia adalah materi kehidupannya yang abadi dalam kenikmatan yang kekal atau dalam azab yang pedih. Dan ia berjalan (seperti) awan berjalan. Malam dan siang begitu cepat dalam mengurangi umur dan mendekatkan kepada ajal. Keduanya telah menemani orang-orang sebelum kita (dan membinasakan mereka) kaum Nuh, kaum ‘Ad, kaum Tsamud serta banyak (lagi) generasi di antara (kaum-kaum) itu. Maka, semuanya itu datang menghadap Rabb mereka, mereka datang dengan membawa amal-amal mereka dan umur-umur mereka pun putus. Sedangkan malam dan siang masih tetap, keduanya terus mengurangi hal baru pada umat-umat setelah mereka. Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman,


æóåõæó ÇáøóÐöí ÌóÚóáó Çááøóíúáó æóÇáäøóåóÇÑó ÎöáúÝóÉð áöãóäú ÃóÑóÇÏó Ãóäú íóÐøóßøóÑó Ãóæú ÃóÑóÇÏó ÔõßõæÑðÇ [ÇáÝÑÞÇä : 62]


Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau ingin bersyukur (al-Furqan : 62)

Maka, seorang muslim, terlebih di bulan yang penuh berkah ini, musim yang agung dan waktu yang sangat berharga, hendaknya mengambil pelajaran dan nasehat berharga dari lewatnya malam dan siang. Betapa banyak Ramadhan yang kita nanti-nantikan kedatangannya, lalu ia masuk dan berlalu dengan begitu cepatnya. Maka, malam dan siang membuat usang setiap hal yang baru, medekatkan yang jauh, melipat umur, menjadikan anak kecil beruban, membinasakan orang tua, dan kesemuanya ini memberikan kesan akan berlalunya kehidupan dunia dan datangnya kehidupan akhirat.

Ali bin Abi Thalib ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ berkata :


ÇÑúÊóÍóáóÊú ÇáÏøõäúíóÇ ãõÏúÈöÑóÉð æóÇÑúÊóÍóáóÊú ÇáúÂÎöÑóÉõ ãõÞúÈöáóÉð æóáößõáøö æóÇÍöÏóÉò ãöäúåõãóÇ Èóäõæäó ÝóßõæäõæÇ ãöäú ÃóÈúäóÇÁö ÇáúÂÎöÑóÉö æóáóÇ ÊóßõæäõæÇ ãöäú ÃóÈúäóÇÁö ÇáÏøõäúíóÇ ÝóÅöäøó Çáúíóæúãó Úóãóáñ æóáóÇ ÍöÓóÇÈñ æóÛóÏðÇ ÍöÓóÇÈñ æóáóÇ Úóãóáñ


“Dunia berpaling menjauh dan akhirat kian mendekat, dan masing-masing mimiliki pengikut, maka jadilah kalian pengikut akhirat, dan jangan menjadi pengikut dunia. Sesungguhnya hari ini (di dunia) adalah waktu untuk beramal tanpa ada hisab, dan esok (di akhirat) adalah waktu hisab bukan waktu untuk beramal.” [1]

Dan, Umar bin Abdul Aziz ÑóÍöãóåõ Çááåõ mengatakan :


Åöäøó ÇáÏøõäúíóÇ áóíúÓóÊú ÈöÏóÇÑö ÞóÑóÇÑößõãú ÏóÇÑñ ßóÊóÈó Çááåõ ÚóáóíúåóÇ ÇáúÝóäóÇÁó æóßóÊóÈó Úóáóì ÃóåúáöåóÇ ãöäúåóÇ ÇáÙøóÚúäó –Ãí : ÇóáúÇöÑúÊöÍóÇá-Ýóßóãú ÚóÇöãöÑò ãõæóËøöÞò ÚóãøóÇ Þóáöíúáò íóÎúÑóÈõ æóßóãú ãõÞöíúãò ãõÛúÊóÈöØò ÚóãøóÇ Þóáöíúáò íóÙúÚóäõ ÝóÃóÍúÓöäõæÇú ÑóÍöãóßõãõ Çááåõ ãöäúåóÇ ÇáÑøöÍúáóÉó ÈöÃóÍúÓóäö ãóÇ ÈöÍóÖúÑóÊößõãú ãöäó ÇáäøõÞúáóÉö æóÊóÒóæøóÏõæúÇ ÝóÅöäøó ÎóíúÑó ÇáÒøóÇÏö ÇáÊøóÞúæóì


“Sesungguhnya dunia bukanlah tempat menetap kalian. Sesunguhnya dunia merupakan tempat yang telah ditetapkan Allah kefanaannya, dan Dia juga telah menetapkan atas peduduknya kepergiannya. Maka betapa banyak orang yang membangunnya dengan rasa penuh percaya diri ternyata sebentar saja ia runtuh, dan betapa banyak pula orang yang bermukim dengan gembira, ternyata sebentar saja beranjak pergi. Maka, perbaguslah oleh kalian-semoga Allah merahmati kalian-kepergian itu dengan sebaik-baik sarana perpindahan yang hadir di hadapan kalian, dan berbekallah kalian, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” [2]

Sesungguhnya seorang insan itu berada dalam proses penghancuran umurnya semenjak keluar dari perut ibunya. Bahkan, seperti kata Hasan al-Bashri ÑóÍöãóåõ Çááåõ “Manusia adalah kumpulan hari-hari ; setiap kali satu hari pergi, maka pergilah satu bagian manusia. Hari menghancurkan bulan, bulan menghancurkan tahun, dan tahun menghancurkan umur. Dan setiap saat berjalan dari seorang hamba, maka hal itu mendekatkannya dari ajal.”

Dan Ibnu Mas’ud ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ mengatakan : “Aku tidak menyesali sesuatu seperti penyesalanku terhadap suatu hari di mana mataharinya tenggelam, ajalku berkurang pada hari itu sementara amalku tidak bertambah pada hari itu.” Hal ini karena kesungguhan beliau ÑóÍöãóåõ Çááåõ dalam memperhatikan dan menjaga waktu.

Al-Hasan ÑóÍöãóåõ Çááåõ mengatakan : “Aku telah mendapati suatu kaum di mana mereka lebih bersungguh-sungguh menjaga waktu-waktu mereka daripada kalian yang bersungguh-sungguh untuk menjaga dirham dan dinar kalian.” [3]

Oleh karena ini, dikatakan : ((Barang siapa yang menghabiskan harinya bukan untuk suatu hak yang mesti ditunaikannya, atau kewajiban yang harus dikerjakannya, atau sebuah kemuliaan yang harus dimuliakan dan dihormatinya, atau sebuah hal terpuji yang selayaknya diperolehnya, atau sebuah kebaikan yang harus dibangunnya, atau suatu ilmu yang hendaknya diperoleh faedahnya, maka sungguh ia telah mendurhakai harinya dan menzhalimi dirinya)) dan ia (juga) telah menzhalimi harinya.” [4]

Sesungguhnya malam dan siang merupakan modal seorang insan dalam kehidupan ini ; keuntungannya adalah Surga dan kerugiannya adalah Neraka, tahun adalah pohon, bulan-bulan adalah cabang-cabangnya, hari-hari adalah dahan-dahan dan ranting-rantingnya, saat demi saatnya adalah daun-daunnya, nafas-nafasnya adalah buah-buahnya. Maka, barang siapa yang helaan demi helaan nafas-nafasnya berada dalam ketaatan kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì niscaya buahnya baik penuh berkah manis rasanya. Namun, barang siapa yang helaan demi helaan nafasnya berada dalam kemaksiatan kepada Allah, niscaya buahnya jelek pahit rasanya. [5]

Sungguh banyak nash-nash dari Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó yang menjelaskan tentang pentingnya waktu dan memotivasi untuk memanfaatkannya dengan baik dan tidak menyia-nyiakannya, dan menjelaskan (pula) bahwa seorang hamba itu akan dimintai pertanggungjawabannya pada hari Kiamat.

Ibnu Abbas ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ meriwayatkan dari Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bahwa beliau bersabda,


ÇöÛúÊóäöãú ÎóãúÓðÇ ÞóÈúáó ÎóãúÓò : ÔóÈóÇÈóßó ÞóÈúáó åóÑóãößó æ óÕöÍøóÊóßó ÞóÈúáó ÓóÞóãößó æó ÛöäóÇßó ÞóÈúáó ÝóÞúÑößó æó ÝóÑóÇÛóßó ÞóÈúáó ÔõÛúáößó æó ÍóíóÇÊóßó ÞóÈúáó ãóæúÊößö


Pergunakanlah dengan baik lima hal sebelum datang lima hal lainnya, (pertama) masa mudamu, sebelum datang masa tuamu, (kedua) masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, (ketiga) masa kayamu sebelum datang masa miskinmu, (keempat) masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, dan (kelima) masa hidupmu sebelum datang saat kematianmu. [6]

Ibnu Mas’ud ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ meriwayatkan dari Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bahwa beliau bersabda,


áóÇ ÊóÒõæúáõ ÞóÏóãóÇ ÇÈúäö ÂÏóãó íóæúãó ÇáúÞöíóÇãóÉö ãöäú ÚöäúÏö ÑóÈøöåö ÍóÊøóì íõÓúÃóáó Úóäú ÎóãúÓò : Úóäú ÚõãúÑöåö ÝöíúãóÇ ÃóÝúäóÇåõ æóÚóäú ÔóÈóÇÈöåö ÝöíúãóÇ ÃóÈúáóÇåõ æóãóÇáöåö ãöäú Ãóíúäó ÇößúÊóÓóÈóåõ æóÝöíúãó ÃóäúÝóÞóåõ æóãóÇÐóÇ Úóãöáó ÝöíúãóÇ Úóáöãó ¿


Pada hari Kiamat, kedua telapak kaki anak Adam tidak akan beranjak dari sisi Rabbbnya hingga ditanya tentang lima hal ; tentang umurnya dalam hal apa ia habiskan, tentang masa mudanya dalam hal apa ia usangkan, (tentang) hartanya dari mana ia peroleh dan untuk apa ia belanjakan, dan apa yang telah ia perbuat tentang sesuatu yang telah diketahuinya.[7]

Telah tetap di dalam ash-Shahih dari beliau bahwa beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bersabda,


äöÚúãóÊóÇäö ãóÛúÈõæäñ ÝöíåöãóÇ ßóËöíÑñ ãöäó ÇáäøóÇÓö ÇáÕøöÍøóÉõ æóÇáúÝóÑóÇÛõ


Dua nikmat yang kebanyakan manusia terpedaya dengannya, yaitu, kesehatan dan waktu luang. [8]

Maka, hendaknya kita memanfaatkan dengan baik di bulan yang penuh berkah ini dan musim nan agung ini segala sesuatu yang mungkin kita gunakan dengan baik berupa ketaatan-ketaatan dan kita mempergunakannya untuk menghadapkan diri kepada AllahÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì , dan hendaknya kita gunakan sebaik-baiknya hidup kita seluruhnya sebelum kematian itu mendatangi kita. Hendaknya orang-orang yang sehat yang disehatkan oleh Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì dari berbagai penyakit menggunakan dengan baik keafiyatan dan kesehatan mereka sebelum Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì mencoba mereka dengan berbagai macam penyakit yang boleh jadi akan menghalangi mereka dan melemahkan kesemangatan mereka (untuk beramal). Hendaknya pula orang-orang yang dikaruniai Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì nikmat waktu dan keluangan menggunakan dengan sebaik-baiknya waktu dan keluangan mereka tersebut sebelum berbagai kesibukan, hal-hal yang menyusahkan, dan hal-hal yang memalingkan datang tiba-tiba menyerang mereka. Hendaknya pula para pemuda menggunakan dengan sebaik-baiknya masa muda mereka dan kekuatan mereka sebelum menimpa mereka penyakit tua, kerentaan dan kepikunan yang mana kondisi tersebut sangat rentan menimbulkan kelemahan, kelesuan badan, gangguan fisik, dan serangan penyakit. Hendanknya pula orang-orang kaya yang telah Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berikan kelapangan rizki kepada mereka dan telah memperoleh bagian besar dari harta-harta ini yang merupakan bagian dari harta dunia yang fana ini menggunakannya dengan sebaik-baiknya harta mereka sebelum turun kepada mereka kefakiran yang akan menyempitkan hajat dan kebutuhan mereka.

Hendaknya setiap mereka itu dan mereka ini menggunakan dengan sebaik-baiknya musim dan agung ini; hendaknya mereka menambah kedekatan dari Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì di dalamnya, menyambut keberkahan-Nya dan kasih sayang-Nya dengan taubat nasuha, memperbanyak tindakan kebaikan-kebaikan, dan mempersempit peluang melakukan keburukan-keburukan dan hal-hal yang terlarang.

Imam Ibnu Rajab ÑóÍöãóåõ Çááåõ mengatakan : “Dan tidaklah ada sebuah musim dari musim-musim yang utama ini melainkan Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì memiliki sebuah tugas dan pekerjaan di antara tugas-tugas dan pekerjaan-pekerjaan yang harus ditunaikan seorang hamba berupa ketaatan kepada-Nya yang dengannya seorang hamba mendekatkan diri kepada-Nya pada musim tersebut. Dan, Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì pun memiliki sebuah kelembutan di antara kelembutan karunia-Nya yang Dia berikan kepada orang yang dikehendaki-Nya berupa keutamaan dan rahmat-Nya. Maka, orang yang berbahagia adalah siapa yang memanfaatkan dengan sebabik-baiknya musim-musim bulan dan hari serta saat demi saat, dan ia mendekatkan dirinya pada waktu-waktu tersebut kepada Tuhannya dengan melakukan tugas-tugas dan ketaatan-ketaatan, hingga diharapkan ia akan mendapatkan sebuah karunia yang istimewa di antara karunia-karunia tersebut. Sehingga ia akan berbahagia karenanya dengan sebuah kebahagiaan yang akan memberikan keamanan pada dirinya dari (siksa) Neraka dan apa yang ada di dalamnya berupa hembusan angin panas yang membakar dan menghanguskan.[9]

Dan barang siapa yang menyia-nyiakan waktu luangnya di semisal musim-musim nan agung ini, tidak memanfaatkan kesehatannya di semisal bulan yang mulia ini, maka kapankah bisa diharapkan dirinya akan memanfaatkan dan bersikap istiqamah !!

Imam Ibnul Jauzi ÑóÍöãóåõ Çááåõ mengatakan : “Barang siapa mempergunakan waktu luangnya dan kesehatannya untuk melakukan ketaatan kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì maka dialah orang yang akan mendapatkan kebahagian, kesenangan dan keberuntungan. Dan barang siapa yang mempergunakan kedua hal tersebut untuk bermaksiat kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì, maka dialah orang yang tertipu dan terpedaya; karena waktu luang akan disusul oleh kesibukan dan kesehatan akan disusul oleh kesakitan. [10]

Dan diantara hal yang dinukil dari sebagian salaf adalah perkataan mereka : “Di antara tanda hilangnya keberkahan adalah disia-siakannya waktu”

Imam Ibnul Qayyim ÑóÍöãóåõ Çááåõ mengatakan : menyia-nyiakan waktu lebih parah dan lebih buruk daripada kematian, karena menyia-nyiakan waktu itu akan memutuskan dirimu dari Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì dan hari akhirat, sedangkan kematian akan memutuskanmu dari dunia dan penduduknya.” [11]

Dan wajib atas seorang muslim untuk tidak terpedaya dengan dunia; karena yang sehatnya akan sakit, barunya akan usang, kenikmatannya akan fana, yang mudanya akan tua renta, dan ia di dunia berada dalam perjalan menuju ke negeri akhirat, ajal-ajal terus berkurang, amal-amal terjaga (dicatat dan tersimpan dalam lembaran-lembaran catatan amal), kematian akan datang tiba-tiba; Maka, barang siapa menanam kebaikan niscaya ia akan memetik dan memanen pahala dan ganjarannya, dan barang siapa menanam keburukan niscaya ia bakal memetik dan memanen penyesalan dan kerugian, dan setiap orang yang menanam ia akan memetik hasil dari apa yang dia tanam.

Ya Allah, berkahilah waktu-waktu kami, umur-umur kami dan amal-amal kami. Mudahkanlah bagi kami petunjuk untuk segala urusan kami. Bimbinglah kami untuk dapat menggunakan waktu-waktu dengan sebaik-baiknya untuk melakukan amal kebajikan yang abadi (pahalanya). Cintakanlah kepada kami untuk mengerjakan kebaikan-kebaikan dan tanamkan dalam hati kami kebencian terhadap kemungkaran. Dan jadikanlah kami termasuk golongan orang yang berpuasa pada bulan ini dengan puasa yang akan menjadi sebab mendapatkan keridhaan-Mu dan mendapatkan keberuntungan berupa Surga-Surga-Mu.

Amin

Wallahu A’lam

(Redaksi)

Sumber :

Maqalat Ramadhaniyah : Syahru ash-Shiyam…Ahkamun Wa Aadaabun, Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-'Abbad-ÍóÝöÙóåõ Çááåõ ÊóÚóÇáóì, hal. 38-42.

Catatan :

[1] HR. al-Bukhari di dalam shahihnya secara mu’allaq di dalam kitab ar-Riqaq, bab : Fii al-Amal Wa Thuluhu.

[2] Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim di dalam Hilyatul Auliya, 5/292

[3] Lihat : Miftahul Afkar Li Ta-ahhubi Li Daari al-Qarar, 3/29

[4] Adabu ad-Dunya Wa ad-Diin, hal. 57

[5] Dikatakan oleh al-Imam Ibnul Qayyim ÑóÍöãóåõ Çááåõ di dalam kitabnya ‘al-Fawa-id’, hal. 164.

[6] HR. al-Hakim di dalam Mustadraknya (7846) dan dishahihkan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ (1077)

[7] HR. at-Tirmidzi 2416, dan dishahihkan oleh al-Albani di dalam as-Silsilah ash-Shahihah (964)

[8] HR. al-Bukhari (6412)

[9] Latha-if al-Ma’arif, hal.6

[10] Dinukil oleh Imam Ibnu Hajar ÑóÍöãóåõ Çááåõ di dalam Fathul Baari, 11/230.

[11] al-Fawa-id, hal. 44

Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php/?pilih=lihatannur&id=1109