Artikel : Bulein Annur - Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits

Bulan-bulan Haram

Kamis, 23 Mei 24
***

Allah- -mengagungkan perkara bulan-bulan haram, dan Dia- -menyebutkannya di lebih dari satu tempat di dalam kitab-Nya yang mulia. Dan, tulisan ini terkait dengan kedudukan bulan-bulan haram tersebut dan beberapa keistimewaannya yang digali dari al-Quran al-Karim.

Saudaraku

Sesungguhnya, termasuk kesempurnaan pengagungan terhadap Allah- -adalah mengagungkan sesuatu yang diagungkan oleh-Nya berupa syiar-syiar dan berbagai bentuk peribadatan. Begitu pula mengagungkan sesuatu yang diagungkan-Nya berupa tempat, waktu, bulan dan hari. Dan, termasuk dalam hal ini adalah mengagungkan bulan-bulan haram yang diagungkan oleh Allah- - dan disebutkan-Nya di dalam kitab-Nya di lebih dari satu tempat. Melalui tulisan ini kita akan mengenal dan memahaminya, serta kami akan juga sebutkan beberapa hal tentang kedudukan dan keistimewaannya di dalam al-Quran al-Karim.

Prolog

Sesungguhnya bulan-bulan haram itu adalah bulan-bulan yang empat yang diagungkan oleh Allah- -, dan al-Quran menyebutkan secara global di dalam firman-Nya,


﴿ ﴾ [: 36[.


Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. (at-Taubah : 36).

Bulan-bulan ini adalah bulan Rajab, Dzul Qadah, Dzul Hijjah dan bulan Allah al-Muharram, sebagaimana diperincikan penyebutannya oleh sunnah nabawiyah. Di dalam hadis Abu Bakrah- bahwa Nabi- -berkhutbah pada waktu haji Wada, di dalam khuthbahnya beliau mengatakan :


( ǡ : )


Sesungguhnya zaman telah berputar seperti keaadaannya pada hari Allah menciptakan langit dan bumi : setahun itu ada 12 bulan. Di antaranya ada 4 bulan haram, tiga bulan berurutan, yaitu, Dzul Qadah, Dzul Hijjah, dan Muharram. Dan (satu bulan lagi terpisah) yaitu bulan Rajab Mudhar yang berada antara bulan Jumada (ats-Tsani) dan bulan Syaban [1]

Para ulama telah berijtihad di dalam menggali hikmah dari pengagungan terhadap keempat bulan ini dan rahasia di balik pengurutannya. Imam Ibnu Katsir- mengatakan : bulan-bulan haram yang empat itu disebutkan tiga di antaranya secara berurutan, sedangkan satu bulan lagi disebutkan secara terpisah, hanyalah karena hal itu untuk menunaikan manasik haji dan umrah, maka Dia- -mengharamkan satu bulan sebelum bulan-bulan haji, yaitu bulan Dzul Qadah ; kerena mereka (di masa itu) berhenti dari melakukan perang. Dan diharamkannya bulan Dzul Hijjah karena mereka melaksanakan haji dan mereka menyibukkan diri dengannya melakukan rangkaian manasik. Dan diharamkan setelahnya bulan yang lainnya, yaitu bulan Muharram, agar mereka dapat kembali pada bulan tersebut ke segenap penjuru negeri mereka dalam keadaan aman. Sedangkan diharamkannya bulan Rajab yang berada di tengah-tengah tahun-agar dapat mengunjungi al-Bait bagi orang yang datang dari segenap pelosok Jazirah Arab. Sehingga mereka dapat mengunjunginya kemudian kembali ke tempat tinggalnya dalam keadaan aman. [2]

Sedangkan imam Ibnu Asyur- menyebutkan bahwa pengharaman bulan-bulan ini termasuk hal yang Allah syariatkan untuk hamba-hamba-Nya sejak masa Ibrahim - dan hal tersebut untuk ditegakkannya ibadah haji, sebagaimana Allah- -berfirman,


﴿ ﴾ [: 97][3 [


Allah telah menjadikan Kabah, rumah suci tempat manusia berkumpul. Demikian pula bulan haram. (al-Maidah : 97) [3]

Kedudukan Bulan-bulan Haram

Sesungguhnya bulan-bulan haram memiliki kedudukan yang agung di sisi Allah- -, yaitu bahwa bulan-bulan tersebut termasuk hari-hari yang sangat dicintai oleh Allah- -. Oleh karena itu, Dia- -memilih bulan-bulan tersebut dan memuliakannya atas bulan-bulan yang lainnya. Suhail bin Abi Shaleh mengatakan dari ayahnya dari Kaab, ia berkata,


䀀


Allah memilih waktu, dan waktu yang paling dicintai oleh Allah adalah bulan-bulan haram. Sedangkan bulan-bulam haram yang paling dicintai oleh Allah adalah bulan Dzulhijjah. Dan hari-hari bulan Dzulhijjah yang paling dicintai oleh Allah adalah sepuluh hari pertamanya. [4]

Dan pengagungan terhadap bulan-bulan (haram) ini termasuk bentuk pengagungan terhadap syiar-syiar Allah- - dan juga merupakan petunjuk yang menunjukkan akan ketakwaan seseorang kepada-Nya- -. Sungguh Allah- -telah berfirman,


﴿ ﴾ [: 32]


Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketakwaan hati (al-Hajj : 32)

Dan Allah- -juga berfirman,


﴿ ﴾ [: 30].


Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan apa yang terhormat di sisi Allah (hurumaat), maka itu lebih baik baginya di sisi Tuhannya. (al-Hajj : 30)

Qatadah- -mengatakan : sesungguhnya Allah memilih orang-orang pilihan dari kalangan makhluk-Nya. Dia- -memilih rasul (utusan) dari kalangan Malaikat. Begitu pula Dia- -memilih rasul (utusan) dari kalangan manusia. Memilih perkataan untuk mengingat-Nya. Memilih masjid-masjid (sebagai tempat terbaik) dari sekian banyak hamparan tanah di muka bumi. Memilih bulan Ramadhan dan bulan-bulan haram di antara bulan-bulan lainnya. Memilih hari Jumat di antara hari-hari lainnya. Memilih lailatul qadar di antara malam-malam yang lainnya. Maka, agungkanlah apa-apa yang diagungkan oleh Allah- -. Sesungguhnya perkara-perkara itu diagungkan hanyalah karena diagungkan oleh Allah- - menurut pandangan orang-orang yang memiliki pemahaman dan memiliki akal. [5]

Dulu, orang-orang Arab di masa Jahiliyah sedemikian mengagungkan bulan-bulan ini dan mereka mengharamkan melakukan peperangan pada bulan-bulan tersebut. Sampai-sampai jika seseorang di antara mereka pada bulan-bulan ini bertemu dengan orang yang membunuh ayahnya, ia tidak akan menyakitinya, karena mempertimbangkan keharaman bulan-bulan ini, keagungan dan kedudukannya di sisi mereka. Ibnu Katsir- -mengatakan, Dulu, ada seorang lelaki pernah bertemu dengan pembunuh ayahnya di bulan-bulan haram, namun tidak sedikit pun ia menjulurkan tangannya kepada si pembunuh ayahnya tersebut. [6]

Bahkan, mereka memajukan sebagian bulan-bulan haram tersebut dan memundurkannya ketika mereka berkeinginan untuk melakukan peperangan atau karena mereka cemburu terhadap selain golongan mereka. Maka, mereka menghalalkannya suatu tahun dan mengharamkannya pada suatu tahun yang lain; kerena tidak adanya keinginan mereka untuk menumpahkan darah pada bulan-bulan tersebut. Mereka mengira bahwa mereka dengan trik/tipu daya ini-yang diwahyukan oleh setan kepada mereka- mereka telah bebas dari melakukan peperangan pada bulan-bulan haram. Akan tetapi mereka telah lalai atau pura-pura lalai dari bahwa mereka dengan tindakan mereka ini telah menghalalkan apa-apa yang telah Allah- -haramkan dan mengharamkan apa-apa yang telah Allah- - halalkan.

Sungguh Allah - - telah mencela tindakan mereka tersebut, seraya berfirman di dalam kitab-Nya yang mulia,


﴿ ﴾ [: 37.[


Sesungguhnya pengunduran (bulan haram) itu hanya menambah kekafiran. Orang-orang kafir disesatkan dengan (pengunduran) itu, mereka menghalalkannya suatu tahun dan mengharamkannya pada suatu tahun yang lain, agar mereka dapat menyesuaikan dengan bilangan yang diharamkan Allah, sekaligus mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah. (Oleh setan) dijadikan terasa indah bagi mereka perbuatan-perbuatan buruk mereka. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir (at-Taubah : 37)

Ibnu Asyur- mengatakan tentang tafsiran ayat ini, an-Nasi-u, menurut orang-orang Arab adalah pengunduran, di mana mereka menjadikannya untuk bulan haram, maka mereka menjadikannya halal, dan mereka mengharamkan satu bulan lainnya dari bulan-bulan halal sebagai gantinya pada tahunnya. [7]

Alangkah buruknya tindakan mereka ini, dan alangkah beratnya kejahatan mereka ini; oleh karena itu, haruslah seorang mukmin berhenti pada batasan-batasan Allah- -. mentaati perintah-perintah-Nya, sangat waspada jangan sampai mengikuti hawa nafsunya. Atau, jangan sampai merekayasa perintah-perintah-Nya, syariat-syariat-Nya, dan ketentuan hukum-hukum-Nya, seperti tindakan mereka orang-orang yang bodoh ini.

Para ulama telah berbeda pendapat tentang bulan apakah di antara bulan-bulan haram ini yang paling utama. Al-Hasan dan yang lainnya mengatakan, Yang paling utama dari bulan-bulan haram ini adalah bulan Allah al-Muharram, dan sekelompok kalangan ulama muta-akhirin merajihkan (menguatkan) pendapat ini. Dan, Wahb bin Jarir meriwayatkan dari Qurrah bin Khalid, dari al-Hasan, bahwa ia mengatakan :




Sesungguhnya Allah membuka tahun dengan bulan haram dan menutupnya dengan bulan haram (pula). Maka, tidak ada bulan dalam tahun setelah bulan Ramadhan yang lebih agung di sisi Allah dari pada bulan Muharram. Dulu, bulan tersebut dinamakan dengan bulan Allah al-Asham karena beratnya pengharamannya. [8]

Di antara Keistimewan Bulan-bulan Haram

1-Kedzaliman pada bulan-bulan ini lebih besar (dosanya) daripada bulan-bulan lainnya.

Sesungguhnya Allah -melarang hamba-hamba-Nya dari melakukan kezhaliman, terlebih lagi kezhaliman terhadap diri sendiri yang dilakukan dalam bentuk melanggar apa-apa yang diharamkan oleh Allah- - atau meninggalkan perintah-perintah-Nya, atau dalam bentuk melanggar hak-hak para hamba-Nya- -. Hal tersebut diharamkan pada setiap waktu dan di setiap tempat. Hanya saja, kezhaliman itu dapat menjadi lebih besar pada sebagian waktu lebih banyak lagi daripada ketika kezhaliman itu dilakukan pada waktu yang lainnya, semisal ketika kezhaliman itu dilakukan pada bulan-bulan haram. Bisa juga kezhaliman itu menjadi lebih besar dan lebih berat pada sebagian tempat lebih banyak lagi daripada di tempat yang lainnya, semisal jika kezhaliman tersebut dilakukan di Makkah dan Madinah; karena itulah Allah- -melarang dari melakukan tindak kezhaliman terhadap diri sendiri, dan Dia- -mengkhususkan penyebutannya pada bulan-bulan haram ini, seraya berfirman,


﴿ ﴾ [: 36].


Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzhalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu (at-Taubah : 36)

Imam al-Qurthubi - berkata mengenai tafsir ayat ini, Janganlah kalian menzhalimi diri kalian dengan melakukan dosa-dosa ; karena apabila Allah- -mengagungkan sesuatu dari satu sisi, jadilah hal tersebut memiliki satu pengharaman, dan apabila Dia- - mengagungkannya dari dua sisi atau beberapa sisi, maka jadilah keharamannya beraneka ragam, maka dilipatgandakanlah hukuman pada bulan tersebut karena melakukan amal buruk, sebagaimana pula dilipatgandakannya pahala karena amal shaleh. Maka, sesungguhnya siapa yang mentaati Allah di bulan haram, pahala (yang akan diperolehnya) bukanlah pahala yang akan didapatkan oleh orang yang mentaati-Nya di bulan halal di negeri haram. Dan, barang siapa mentaati-Nya di bulan halal di negeri haram, pahala (yang akan didapatkan)nya bukanlah (seperti) pahala yang akan didapatkan oleh orang yang mentaati-Nya di bulan halal di negeri halal. [9]

Dan, imam Ibnu Asyur -mengatakan tentang tafsir firman-Nya ﴿ ﴾ (maka janganlah kamu menzhalimi dirimu dalam (bulan yang empat) , Dan sisi pengkhususan terlarangnya kemaksiatan pada bulan-bulan ini adalah bahwa Allah menjadikan bulan-bulan tesebut sebagai waktu-waktu (yang ditentukan) untuk melakukan ibadah. Maka, meski pun seseorang sedang tidak tersibukkan dengan ibadah pada bulan-bulan tersebut, maka hendaknya ia tidak tersibukan dengan kemaksiatan-kemaksiatan. Terlarangnya melakukan kemaksiatan pada bulan-bulan tersebut tidaklah berkonsekwensi bahwa kemaksiatan-kemaksiatan itu yang dilakukan di selain bulan-bulan tersebut tidaklah terlarang. Tetapi, yang dimaksudkan adalah bahwa kemaksiatan yang dilakukan pada bulan-bulan tersebut adalah lebih besar (tingkat pelarangannya, keharamannya, dan dosanya) dan bahwa amal shaleh yang dilakukan pada bulan-bulan tersebut lebih banyak pahalanya. Semisal dengan ayat ini adalah firman-Nya,


﴿ ﴾ [: 197]


Dan janganlah (pula) berbuat maksiat dan bertengkar dalam (melakukan ibadah) haji. (al-Baqarah : 197)

Karena sesungguhnya kefasikan/kemaksiatan itu terlarang saat dalam melakukan ibadah haji dan saat-saat yang lainnya. [10]

Dan imam Qatadah-memperkuat makna ini, seraya mengatakan,


ǻ


Amal shaleh yang dilakukan pada bulan-bulan haram lebih besar pahalanya, dan kezhaliman yang dilakukan pada bulan-bulan haram tersebut lebih besar (dosanya) daripada kezhaliman yang dilakukan di selain bulan-bulan haram tersebut. Meskipun kezhaliman itu merupakan hal yang besar (dosanya) dalam kondisi apa pun [11]

2-Haram memulai perang pada bulan-bulan ini

Sungguh, Allah- -telah mengagungkan perkara menumpahkan darah, dan menjadikan orang yang menumpahkan darah sebagai pelaku dosa besar yang termasuk dosa-dosa yang paling besar, dan di bulan-bulan haram tindak kejahatan tersebut menjadi berlipat-lipat ganda (dosanya) dan menjadi besar di sisi Allah- -. Sungguh, Allah- -telah berfirman,


﴿ ﴾ [: 217]


Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang berperang pada bulan haram. Katakanlah, Berperang dalam bulan itu adalah (dosa) besar. Tetapi menghalangi (orang) dari jalan Allah, ingkar kepada-Nya, (menghalangi orang masuk) Masjidilharam, dan mengusir penduduk dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) dalam pandangan Allah. (al-Baqarah : 217)

Dan yang demikian itu oleh karena bulan-bulan ini merupakan bulan perdamaian, keselamatan, dan keamanan, di mana manusia merasa aman pada bulan-bulan tersebut atas harta benda mereka, kehormatan mereka, dan darah mereka. Maka, mereka merasa aman di bulan-bulan haji untuk menunaikan kewajiban haji, mereka merasa aman di bulan Rajab untuk menunaikan ibadah umrah, segabagaimana kebiasaan orang-orang Arab dahulu, oleh karena itu Allah- - mengagungkan perkara penumpahan darah pada bulan-bulan ini.

Maka, tidak selayaknya seorang muslim memulai memerangi musuh pada bulan-bulan ini. Akan tetapi, disyariatkan baginya menolak tindak memerangi musuh dan bertindak memusuhinya bila hal itu terjadi pada dirinya di bulan-bulan ini. Dan hendaknya ia membela diri, harta, dan kehormatannya bilamana hal tersebut dibutuhkannya. Dalil yang menunjukan kepada hal tersebut adalah bahwa Allah- -berfirman dalan rangkaian pembicaraan mengenai bulan-bulan haram ini,


﴿ ﴾ [: 194]


Bulan haram dengan bulan haram, dan (terhadap) sesuatu yang dihormati berlaku hukum qisas. Oleh sebab itu barang siapa menyerang kamu, maka seranglah dia setimpal dengan serangannya terhadap kamu.(al-Baqarah : 194)

Dan Allah- -juga berfirman,


﴿ ﴾ [: 36].


Dan perangilah kaum musyrikin semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang takwa. (at-Taubah : 36)

Telah terjadi perbedaan pendapat seputar masalah keharaman melakukan peperangan pada bulan-bulan haram. Para fuqaha dan ahli tasfsir terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama berpendapat bahwa hukum (larangan) tersebut telah dihapuskan. Sedangkan kelompok kedua berpendapat bahwa hukum (larangan tersebut) tidak dihapuskan. Kalangan yang berpendapat bahwa hukum larangan berperang telah dihapuskan berdalil dengan beberapa dalil, di antaranya adalah apa yang terjadi berupa peperangan antara Nabi- dan suku Hawazin pada bulan Dzul Qadah. Akan tetapi, ketika ditelusuri tentang sebab terjadinya peperangan tersebut, kita ketahui bahwa Nabi- -bukanlah pihak yang memulai peperangan. Tetapi, Hawazinlah, merekalah yang memulai memerangi kaum Muslimin.

Imam Ibnu Asyur- -mengatakan, Tidaklah perkara ini menjadi isykal oleh karena perang yang dilakukan oleh Rasulullah- dan suku Hawazin yang terjadi beberapa hari lamanya pada bulan Dzul Qadah. Karena, merekalah yang memulai memerangi kaum Muslimin sebelum masuknya bulan-bulan haram, lalu perang terus berlanjut sampai mereka memasuki bulan Dzul Qadah, dan tidaklah beliau - menghentikan peperangan ketika upaya serangan terus dilakukan oleh orang-orang Musykin sementara merekalah yang memulai serangan pertama kalinya.[12]

Dan, ketika mengomentari firman Allah- -,


﴿ ﴾:


Dan perangilah kaum musyrikin semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang takwa.

Atha bin Abi Rabah- -mengatakan, Diharamkan melakukan peperangan pada bulan-bulan haram, kecuali bila pihak musuhlah yang memulai peperangan. Dan, tidak ada pe-nasah-an (penghapusan hukum larangan) di dalam ayat ini. [13]

Sedangkan kalangan yang berpendapat bahwa hukum larangan dalam ayat ini tidak dihapuskan berdalil dengan apa yang diriwayatkan oleh imam Ahmad dari hadis Jabir , - ia berkata, Rasulullah- tidaklah pernah berperang pada bulan-bulan haram kecuali bila beliau diperangi (terlebih dahulu) atau mereka (musuh) menyerang (terlebih dahulu). Maka, bila musuh itu mendatangi beliau (untuk menyerang beliau) beliau melakukan perlawanan hingga nanti beliau melepas baju perangnya [14]. Dan, sebagian mereka menyebutkan bahwa Nabi - pernah mengepung daerah Thaif pada bulan Syawwal. Lalu, ketika bulan Dzul Qadah masuk, beliau tidak melancarkan serangan (terhadap musuh). Bahkan, beliau menahan diri mereka (orang-orang yang bersamanya agar tidak menyerang), kemudian beliau menarik diri. Demikian pula pada peristiwa Umrah Hudaibiyah, beliau- tidak melakukan penyerangan (terhadap musuh) hingga sampai kepada beliau berita bahwa Utsman dibunuh. Maka, segera saja beliau- membaiat (para sahabatnya) untuk berperang (melawan musuh). Kemudian, ketika sampai kepada beliau- bahwa hal tersebut tidak benar terjadinya, maka beliau- menahan dirinya (dari melanjutkan peperangan). [15]

3-Bersambungnya bulan-bulan ini dengan musim-musim ibadah

Termasuk keistimewaan bulan-bulan ini dan termasuk sebab pengagungannya adalah kedekatannya dan bersambungnya bulan-bulan ini dengan musim-musim ibadah. Maka, bulan Rajab (misalnya) termasuk bulan untuk mempersiapkan diri menghadapi bulan Ramadhan. Ibnu Rajab- -mengatakan,




Bulan Rajab adalah kunci bulan-bulan baik dan penuh berkah [16]

Dan dinukil dari Abu Bakar al-Warraq al-Balkhiy- -perkataannya,




Bulan Rajab adalah bulan untuk menanam, Syaban adalah bulan untuk menyirami tanaman, dan Ramadhan adalah bulan memanen. [17]

Dan karena bulan Rajab berada pada pertengahan tahun di mana banyak orang pada bulan tersebut melakukan ibadah Umrah. Barangkali inilah dia hikmah dari pengharaman bulan ini, sebagaimana telah kami sebutkan.

Adapun bulan Dzul Qadah, Dzul Hijjah, dan Muharram, maka bulan-bulan ini adalah bulan-bulan haji di mana kaum Muslimin menunaikan sebuah syiar yang termasuk syiar Islam yang paling agung, yaitu kewajiban haji, seperti firman Allah- -,


﴿ ﴾ [: 197].


(Musim) haji itu (pada) bulan-bulan yang telah dimaklumi (al-Baqarah : 197)

Dan pada bulan-bulan ini terdapat sepuluh hari di mana Allah - -,bersumpah dengannya di dalam firman-Nya :


﴿ ﴾ [: 2]


Demi malam yang sepuluh (al-Fajr : 2)

Dan Masruq mengatakan, Hari-hari itu adalah hari-hari yang paling utama dalam setahun. [18]

Dan di bulan-bulan ini terdapat hari Arafah. Tahukah Anda apa hari Arafah itu ? Hari Arafah merupakan hari yang teragung dari hari-hari dalam setahun secara mutlak. Dan pada bulan-bulan ini pula, para jamaah haji kembali ke negeri mereka masing-masing dengan penuh harapan akan mendapatkan pengampunan dosa-dosa mereka dan diterimanya amalan-amalan mereka.

Dan dulu, Nabi- -biasa memberikan bimbingan kepada para sahabatnya untuk berpuasa pada bulan-bulan ini karena agungnya keadaan ketaatan-ketaatan yang dilakukan pada bulan-bulan ini, terlebih pada bulan Allah al-Muharram, beliau- - mengatakan kepada al-Bahiliy di dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam Sunannya :


( )


Puasalah pada bulan haram, lalu berhentilah. Puasalah pada bulan haram, lalu berhentilah. Puasalah pada bulan haram, lalu berhentilah.[19]

Dan dari Abu Hurairah- - ia berkata, Rasulullah- -bersabda,


( )


Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah (puasa pada) bulan Allah al-Muharram. Dan shalat yang paling utama setelah shalat Fardhu adalah shalat malam. [20]

Oleh karena itu, dulu, banyak dari kalangan Salaf sedemikian bersungguh-sungguh dan bersemangat untuk berpuasa pada bulan-bulan Haram. Bahkan datang keterangan tentang sebagian mereka bahwasanya ia berpuasa pada bulan-bulan haram seluruhnya. Di antara mereka itu adalah Ibnu Umar, Hasan al-Bashri, Abu Ishak as-Sabiiy. Dan, ats-Tsauriy mengatakan : bulan-bulan haram adalah bulan-bulan yang paling aku cintai untuk berpuasa di dalamnya. [21]

Penutup

Dalam tulisan ini, kita telah menyebutkan tema tentang bulan-bulan haram. Sehingga kita telah mengetahuinya dan telah mengemukakan tentang kedudukannya dan menjelaskan tentang beberapa keistimewaannya. Maka, hendaknya seorang muslim memperhatikan keharaman bulan-bulan ini yang diagungkan oleh Allah- dan seyogyanya pula mengetahui kadar nilai bulan-bulan ini. Hendaknya pula bersemangat penuh untuk secara baik memanfaatkan waktu-waktu yang mulia ini. Terlebih lagi di zaman ini yang mana banyak manusia lalai dari keharaman dan kedudukan bulan-bulan ini. Karena sesungguhnya seagung-agung ibadah adalah apa yang dilakukan seorang hamba di waktu kelalaian banyak orang dan kesibukan mereka, seperti sabda Nabi- -




Ibadah di saat terjadinya fitnah seperti hijrah kepadaku.[22]

Kita memohon kepada Allah- - semoga menjadikan kita termasuk orang-orang yang mengagungkan bulan-bulan ini. Semoga pula Dia- - membantu kita untuk menyebut dan mengingat-Nya, bersyukur kepada-Nya dan baik dalam beribadah kepada-Nya pada bulan-bulan ini.

Kita pun memohon perlindungan kepada-Nya agar jangan sampai termasuk orang-orang yang lalai.

Semoga shalawat dan salam tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, beserta segenap keluarganya dan para sahabatnya.

Wallahu Alam

(Redaksi)

Sumber :

Al-Asyhur al-Hurum ; Makanatuha Wa Khasha-ishuha Fi al-Quran al-Karim, Muhammad al-Khauliy.

Catatan :

[1] HR. al-Bukhari (4406) dan Muslim (1679)

[2] Tafsir Ibnu Katsir (4/148)

[3] at-Tahrir wa at-Tanwir (10/184)

[4] Latha-if al-Maarif, Ibnu Rajab, hal. 267

[5] Tafsir Ibnu Katsir (4/148)

[6] Tafsir Ibnu Katsir (1/413)

[7] at-Tahrir wa at-Tanwir (10/189)

[8] Latha-if al-Maarif, Ibnu Rajab, hal. 34

[9] Tafsir al-Qurthubiy (8/134)

[10] at-Tahrir wa at-Tanwir (10/186)

[11] Tafsir al-Baghawiy (2/345)

[12] at-Tahrir wa at-Tanwir (10/186)

[13] at-Tahrir wa at-Tanwir (10/186)

[14] HR. Ahmad (14583)

[15] Latha-if al-Maarif, Ibnu Rajab, hal. 116

[16] Latha-if al-Maarif, Ibnu Rajab, hal. 121

[17] Latha-if al-Maarif, Ibnu Rajab, hal. 121

[18] Latha-if al-Maarif, Ibnu Rajab, hal. 267

[19] HR. Abu Dawud (2429)

[20] HR. Muslim (1163)

[21] Latha-if al-Maarif, Ibnu Rajab, hal. 119

[22] HR. Muslim (2948)

Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php/?pilih=lihatannur&id=1074